Merasa Kecolongan Dengan Draf RUU Ketahanan Keluarga, Golkar Tarik Dukungan

324
ilustrasi ruang sidang DPR-RI
Jakarta, Indeks News Banten – Rancangan Undang-Undang (RUU) Ketahanan Keluarga dikritik sejumlah pihak karena dianggap terlalu mencampuri urusan pribadi, Sejumlah aturan dalam draf RUU itu dinilai banyak pihak kontroversial.

Dengan alasan tersebut Ketua Kelompok Fraksi (Kapoksi) Partai Golkar di Badan Legislasi (Baleg) DPR RI Nurul Arifin menyatakan fraksinya menarik diri dari dukungan Rencana Undang-undang (RUU) Ketahanan Keluarga.

Nurul berkata, fraksinya merasa kecolongan karena salah satu anggota fraksinya, Endang Maria Astuti, ikut menjadi salah satu dari lima anggota DPR yang mengusulkan rancangan regulasi tersebut.

Pengusul RUU tersebut adalah anggota Fraksi PKS Ledia Hanifa dan Netty Prasetiyani, anggota Fraksi Golkar Endang Maria Astuti, anggota Fraksi Gerindra Sodik Mujahid, dan anggota Fraksi PAN Ali Taher.

Loading...

Dia menerangkan, Endang seharusnya berkonsultasi dan mempresentasikan ke fraksi lebih dahulu sebelum memutuskan menjadi pengusung RUU Ketahanan Keluarga.

“Kami menarik dukungan terhadap RUU Ketahanan Keluarga ini,” kata Nurul dalam keterangannya, Kamis (20/2/2020).

Nurul mengaku bahwa dirinya sudah keberatan dengan draf RUU Ketahanan Keluarga sejak dipresentasikan di Baleg DPR beberapa waktu lalu. Menurut dia, sebuah regulasi seharusnya tidak mengurus hal-hal yang bersifat internal karena setiap keluarga memiliki entitas masing-masing.

Sejumlah pasal kontroversial dalam RUU Ketahanan Keluarga:

LGBT tergolong penyimpangan seksual Keluarga atau individu homoseksual dan lesbian wajib melapor.  Aturan itu tertuang dalam Pasal 85-89 RUU Ketahanan Keluarga.

Pasal 85 mengatur tentang penanganan krisis keluarga karena penyimpangan seksual. Penyimpangan seksual yang dimaksud dalam Pasal 85, salah satunya adalah homoseksualitas.

“Homosex (pria dengan pria) dan lesbian (wanita dengan wanita) merupakan masalah identitas sosial di mana seseorang mencintai atau menyenangi orang lain yang jenis kelaminnya sama,” demikian bunyi salah satu poin penjelasan dalam Pasal 85.

Facebook Comments

Loading...
loading...