Istri Korban Bom Bali 2020, Berbagi pengalaman kepada Guru Pandeglang

0
Istri Korban Bom Bali 2020, Berbagi pengalaman kepada Guru Pandeglang
PANDEGLANG – “Saya tidak bisa membayangkan kepedihan yang ibu Eka Laksmi rasakan waktu Bom Bali terjadi. Seperti apa rahasia kebangkitan Ibu sehingga kuat menghadapi musibah itu?”

Pertanyaan itu dilontarkan salah seorang peserta pelatihan guru bertema “Belajar Bersama Menjadi Guru Damai” yang digelar AIDA di Kabupaten Pandeglang, Banten, beberapa waktu silam. Sosok yang ditanya adalah Hayati Eka Laksmi. Suaminya, Imawan Sardjono, meninggal dunia dalam peristiwa bom 12 Oktober 2002. Tak pelak Eka harus berjuang sendiri membesarkan kedua putranya yang saat itu masih balita.

Eka Laksmi mengaku bahwa kekuatan dirinya berasal dari kedua buah hatinya. Sakit yang dirasakannya tentu juga diderita oleh mereka. Karenanya Eka berupaya menyembuhkan diri sendiri terlebih dahulu dengan bantuan psikiater. Setelah merasa lebih baik, ia berusaha untuk memahami kondisi psikis anak-anaknya secara perlahan. “Kalau saya, ibunya, tidak sanggup, bagaimana orang lain? Itu yang saya pegang sampai saat ini,” ucapnya.

Eka juga menularkan metode penyembuhannya kepada rekan-rekannya yang senasib. Ia mengajak korban Bom Bali 2002 untuk berkumpul dan mengungkapkan perasaannya. Melalui ajang itu, para korban saling menguatkan hingga kemudian terbentuk Yayasan Isana Dewata, wadah para korban bom Bali.

Peserta lain menanyakan tentang kondisi psikis kedua buah hati Eka yang kini telah beranjak dewasa. Apakah mereka memendam dendam terhadap pelaku? Menurut Eka, selama ini ia lebih mengutamakan memahami perasaan anak-anaknya dibandingkan dengan menasehati mereka. Keduanya juga tidak memendam amarah terhadap para pelaku.

Kegiatan yang berlangsung selama 2 hari tersebut diikuti oleh 18 guru yang merupakan perwakilan dari beberapa sekolah menengah atas di Pandeglang. Selain Eka, AIDA juga menghadirkan Ali Fauzi, mantan pelaku ekstremisme, yang tiga saudaranya terlibat langsung dalam aksi Bom Bali 2002.

BACA JUGA:  KPK Serahkan Empat Aset Senilai Rp56 Miliar Ke Tiga Lembaga Negara

Ali menjelaskan bahwa para pelaku terorisme terjangkiti ekstremisme karena pemikiran yang berlebihan sehingga menghalalkan segala cara, termasuk bom bunuh diri. Meski ia mengaku belum pernah menemukan satu dalil pun yang membolehkan pengeboman di wilayah aman (selain medan perang). “Tetapi bom dirakit, kemudian ditenteng dengan ransel dan diledakkan di tempat yang aman, ini kan tidak ada tuntunannya,” ujar Ali.

Seorang guru menyampaikan pengalamannya dulu. Ketika masih bersekolah, ia sempat mendapatkan doktrin yang mengarah kepada ekstremisme melalui forum pengajian yang ternyata isinya mengkritisi Pancasila dan kewajiban pendirian negara Islam. Namun lantaran merasa tidak mendapatkan ketenangan batin dalam forum itu, ia memutuskan keluar dan fokus melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

“Alhamdulillah saya berhasil kabur, kemudian menyelesaikan kuliah saya, dan menjadi guru seperti saat ini. Melihat kasus bom Bali seperti itu saya sedih, tidak tega lihatnya. Katanya jihad, tapi jihad apa? Itu kan juga saudara-saudara kita sendiri yang jadi korban,” ujar salah seorang peserta.