Ekspor Bakal Dibuka, Konsorsium APD Desak Pemenuhan Kebutuhan Nasional.

289
JAJARAN EKI
JAKARTA – Pemerintah berencana segera membuka keran ekspor bagi Alat Pelindung Diri (APD). Menumpuknya hasil produksi dalam negeri, menjadi salah satu alasan utama kebijakan itu diterbitkan.

Namun begitu, ekspor bisa terlaksana jika Peraturan Menteri Perdagangan (Mendag) Nomor 23 Tahun 2020 tentang Larangan Sementara Ekspor Antiseptik, Bahan Baku Masker, Alat Pelindung Diri, dicabut.

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita sebelumnya telah meminta Mendag Agus Suparmanto untuk mencabut larangan ekspor masker dan APD. Kebijakan harus direvisi mengingat, adanya over supply atau kelebihan pasokan masker dan APD yang diproduksi industri dalam negeri.

Rencana pembukaan keran ekspor bagi APD, dianggap hal positif guna mengatasi penumpukan hasil produksi di dalam negeri. Namun di sisi lain, ekspor tersebut dianggap justru beresiko bilamana ternyata kebutuhan APD bagi tenaga medis di Indonesia belum mencukupi.

“Berapa banyak tenaga medis yang butuh APD itu, kita tidak punya data detil berapa banyak dokter yang dilibatkan menangani Covid-19, berapa banyak kebutuhan APD bagi tenaga medis, sudah berapa yang tersebar, di mana saja. Jadi menurut saya, sebelum kta buka ekspor itu sudah sepantasnya kita masing-masing daerah punya stok dulu,” ungkap Direktur Utama PT EKI, Satrio Wibowo, ditemui usai rapat Pra RUPS, Selasa (16/6/2020).

rups eki

PT EKI sendiri merupakan konsorsium yang bergerak dalam pengembangan energi. Namun sejak wabah Covid-19 melanda, konsorsium ini mengalihkan sebagian fokusnya guna membantu pemerintah memenuhi kebutuhan APD bagi tenaga medis.

Tercatat, APD yang disalurkan bagi Kementerian Kesehatan telah mencapai sekira 3,3 juta set. Kerjasama itu tertuang dalam surat pemesanan Kemenkes No KK.02.01/1/460/2020 tertanggal 28 Maret 2020. Barang baku yang digunakan berasal dari Korea Selatan dengan spesifikasi standar WHO.

BACA JUGA:  Sudah berupaya, namun Temanku tetap kritis. Segala macam cara dicoba ujungnya kena debt collector dari pinjaman online. Kok bisa?

“Jika kebutuhan dalam negeri sudah aman, tercukupi, maka silahkan saja segera melepas ekspor APD berstandar WHO itu. Namun jika masih banyak ketimpangan soal APD berkualitas, sebaiknya jangan diekspor terlebih dahulu, karena kita masih banyak bergantung dengan Korea dan Tiongkok,” imbuhnya.

Dia pun berempati dengan banyaknya tenaga medis Covid-19 yang justru tertular virus saat menangani pasien. Padahal tenaga medis itu telah dilengkapi APD. Disebutkan, penularan diakibatkan oleh bahan baku APD dianggap tak memenuhi ketentuan standar WHO, sehingga mudah ditembus Covid-19.

“Baru-baru ini tenaga medis di Surabaya, kita sangat prihatin. Kami ingin mensupport pemerintah dalam menangani Covid-19 dengan potensi yang kami miliki,” ungkap Satrio.

Dilanjutkan dia, konsorsium yang dimilikinya merumuskan falsafah Pancasila sebagai ruh perusahaan. Dengan begitu, perusahaan tidak semata-mata hanya bergerak mencari profit bisnis, melainkan yang utama adalah menularkan energi Pancasila dan membumikannya di nusantara.

“Kami rumuskan nilai perusahaan kami adalah pancasila, sehingga kami bisa memberikan sumbangan semangat. Nilai perusahaan itu adalah, pertama energi pancasila, kedua profit, dan ketiga adalah teknologi,” jelasnya.

Artikel sebelumyaASN Kembali WFH ,Karena PSBB Diperpanjang Hingga 28 Juni Di Banten
Artikel berikutnyaPolda Banten Jaga Ketat Rumah Sakit Rujukan Covid-19