Jadi Salah Satu Identitas, Bank Banten Harus Dipertahankan.

121
1
diskuai publik
SERANG – Bank Banten merupakan identitas masyarakat Banten. Oleh karena itu sewajarnya jika Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten wajib mempertahankannya. Hal itu terungkap dalam diskusi terbatas yang diselenggarakan Vector Circle Banten dengan tema ‘Bank Banten: Identitas, Bisnis dan Kesejahteraan’ di salah satu rumah makan di Kota Serang, Rabu (17/6/2020).

Dalam diskusi tersebut juga menghadirkan beberapa narasumber diantaranya, Ketua Komisi III DPRD Banten, Gembobg R Sumedi, pengamat ekonomi Banten, Hady Sutjipto dan Sejarawan UIN SMH Banten, Mufti Ali. Ketua Komisi III DPRD Banten, Gembong R Sumedi menilai, dlaam upaya menyehatkan dan menyelamatkan Bank Banten, langkah konkret yang harus dilakukan oleh Pemprov Banten segera menyetorkan dana segar ke bank tersebut.

“OJK (Otoritas Jasa Keuangan) telah memberikan langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan. Ya itu harus diikuti. Misalkan pemprov harus menyetorkan sisa kewajiban modal sebesar Rp 335 miliar itu harus dilakukan,” ujar Gembong. Gembong menjelaskan, saat ini terdapat dana kas daerah (kasda) sebesar Rp 1,9 triliun di Bank Banten. Ia menilai, dana tersebut bisa digunakan sebagai penyertaan modal.

“Ada dana kasda Rp 1,9 triliun, tinggal potong saja Rp 335 miliar untuk modal. Selesai kan,” jelasnya.

Meski begitu, Gembong mengakui, walaupun sisa modal sudah disetorkan belum bisa membuat bank tersebut langsung sehat. “Ini kan upaya penyehatan. Bukan otomatis langsung sehat. Dan saran yang diberikan OJK juga saya rasa ngga main-main. Bahkan banyak bank yang tadinya sakit juga ketika mengikuti saran OJK sehat lagi. Walaupun, (saran) OJK bukan segalanya, tapi ini kan sebuah opsi,” katanya.

Pakar Ekonomi Banten, Hady Sutjipto menilai kegagalan penyehatan Bank Banten merupakan hasil dari komunikasi politik yang tidak berjalan baik.

BACA JUGA:  Kapolda Metro Jaya Didatangi Sejumlah Kiai dan Tokoh Masyarakat

“Seharusnya dari awal komunikasi sudah baik. Sehingga ada langkah-langkah untuk menyehatkan Bank Banten,” kata Hady.

Sebagai masyarakat Banten, lanjut Hady, seharusnya ada upaya menjaga Bank Banten sebagai identitas Provinsi Banten.

“Makanya kita harus kawal, jangan bosan. Sebagai warga Banten kita harus jaga marwahnya. Harus kita jaga pimpinannya. Akan tetapi juga pimpinan harus memberikan keteladanan kepada masyarakatnya,” jelasnya.

Sejarawan dan akademisi UIN SMH Banten, Mufti Ali menyayangkan jika Bank Banten segabagi salah satu identitas masyarakat Banten harus hilang.

“Sangat disayangkan sekali. Apalagi kalau memang terjadi merger antara Bank Banten dengan Bank Jabar Banten (BJB) kita ngga ada identitas lagi,” kata Mufti.

Oleh karena itu, dirinya berharap, Pemprov Banten dapat mempertahankan Bank Banten. “Harus dipertahankan. Apalagi Banten kan dulu juga pernah punya bank juga. Dan sekarang sudah ada tapi tidak dipertahankan,” ujarnya.