17 Tahun Buron Tersangka pembobol Bank BNI senilai 1.7 Trilyun Maria Pauline Lumowa di ekstradisi dari Serbia

Maria Pauline Lumowa
JAKARTA – Penangkapan Maria Pauline Lumowa jadi angin segar yang menyehatkan penindakan hukum di Indonesia. Maria Pauline adalah pembobol kas BNI Rp 1,7 triliun yang buron 17 tahun.Sebelum dibawa ke Indonesia dari Serbia, Maria Pauline Lumowa menjalani pemeriksaan kesehatan di bandara, Belgrad, Serbia.

Menteri Hukum dan Ham Yasonna H Laoly menyerahkan sepenuhnya proses hukum pembobol Rp 1,2 triliun Bank BNI, Maria Pauline Lumowa kepada kepolisian dan juga pengadilan.Dia menegaskan, kejahatan yang dilakukan Maria, murni upaya untuk memperkaya diri sendiri. “Yang pasti dia memperkaya diri, tapi selengkapnya itu urusan pengadilan, saya urusan ekstradisi. Nanti tentunya, pengadilanlah yang mempertimbangkan fakta-fakta meringankan, fakta-fakta memberatkan, itu urusan pengadilan,” kata Yasonna Laoly di Gedung VIP Terminal 3 Bandara Soetta, Kamis (9/7/2020).

Maria Pauline Lumowa, lahir di Manado, jadi WN Belanda sejak 1979, bobol kas BNI Rp 1,7 triliun pada 2002-2003.Maria Pauline Lumowa merupakan pembobolan kas BNI cabang Kebayoran Baru lewat Letter of Credit (L/C) fiktif. Pada periode Oktober 2002 hingga Juli 2003, Bank Negara Indonesia (BNI) mengucurkan pinjaman senilai 136 juta dolar AS dan 56 juta Euro atau sama dengan Rp 1,7 triliun dengan kurs saat itu kepada PT Gramarindo Group yang dimiliki Maria Pauline Lumowa dan Adrian Waworuntu.

PERJALANAN BURON

Aksi PT Gramarindo Group diduga mendapat bantuan dari ‘orang dalam’ karena BNI tetap menyetujui jaminan L/C dari Dubai Bank Kenya Ltd, Rosbank Switzerland, Middle East Bank Kenya Ltd, dan The Wall Street Banking Corp yang bukan merupakan bank korespondensi BNI.

Pada Juni 2003, pihak BNI yang curiga dengan transaksi keuangan PT Gramarindo Group mulai melakukan penyelidikan dan mendapati perusahaan tersebut tak pernah melakukan ekspor.

BACA JUGA:  Andi Iwan Darmawan Wakil Ketua Komisi V DPR RI: Harap Tol Serang-Panimbang Selesai Tepat Waktu

Dugaan L/C fiktif ini kemudian dilaporkan ke Mabes Polri, namun Maria Pauline Lumowa sudah lebih dahulu terbang ke Singapura pada September 2003 alias sebulan sebelum ditetapkan sebagai tersangka oleh tim khusus yang dibentuk Mabes Polri.

Selama buron, Maria sempat bolak balik Singapura-Belanda. Maria diketahui sudah menjadi warga negara Belanda sejak 1979. Pemerintah Indonesia juga sempat meminta Kerajaan Belanda untuk mengektradisi Maria namun ditolak.

Maria akhirnya ditangkap di Serbia oleh NCB Interpol Serbia di Bandara Internasional Nikola Tesla Serbia pada 16 Juli 2019. Penangkapan berdasarkan red notice yang diterbitkan Interpol pada 22 Desember 2003.