Dampak Polusi Udara 2020: Kematian Dini Dunia Capai 98.000 Jiwa, di Indonesia Capai 9.000 Jiwa

361
aktivis lingkungan GP ft istimewa
JAKARTA – Polusi udara sepanjang tahun 2020 ini telah menimbulkan potensi kerugian ekonomi mencapai 56,5 miliar dolar AS dan mengakibatkan kematian prematur sekitar 98.000 orang di seluruh dunia. Sementara angka kematian dini akibat polusi udara di Indonesia sejak 1 Januari 2020 diperkirakan mencapai lebih dari 9.000 jiwa. Kematian dini terbesar terjadi di Jakarta diperkirakan mencapai 6.100 jiwa, kemudian disusul di Surabaya mencapai 1.700 jiwa, di Denpasar sebanyak 410 jiwa dan di Bandung sebanyak 1.400 jiwa. Hal ini terungkap berdasar perangkat penghitungan udara bersih yang diluncurkan oleh gabungan aktivis lingkungan dari Pusat Penelitian Energi dan Udara Bersih (CREA), Greenpeace Asia Tenggara, dan IQAir Air Visual, pada hari Kamis (09/07).

Perangkat yang mereka luncurkan dapat melakukan kalkulasi polusi udara secara online dan mampu mengukur kabut asap di 28 kota besar di seluruh dunia. Alat ini juga menggunakan model yang dirancang oleh program penelitian Global Burden of Disease untuk memperkirakan dampak polusi udara terhadap kesehatan manusia.

Tingginya tingkat polusi udara berkorelasi dengan berbagai penyakit seperti gangguan paru kronis, penyakit jantung, stroke, dan kanker paru-paru yang juga berimbas pada produktivitas ekonomi. Potensi kerugian ekonomi akibat polusi udara dihitung dengan memperkirakan faktor-faktor seperti absen kerja dan kehilangan tahun-tahun produktif karena sakit. Kota-kota dengan penduduk padat seperti Tokyo, New Delhi dan Shanghai pun tercatat mengalami kerugian besar.

Menurut perangkat hitung tersebut, sejak 1 Januari 2020 ada sekitar 29 ribu kematian prematur di Tokyo, Jepang, yang berpenduduk sekitar 37 juta jiwa. Sementara di New Delhi, India, yang berpenduduk sekitar 30 juta, diestimasikan terdapat 24 ribu kematian prematur dan kota Shanghai di Cina mencatat sekitar 27.000 kematian prematur.

BACA JUGA:  Polresta Tangerang Ajak Mahasiswa HMI ke Pemakaman Khusus Covid-19 dan ke RSUD Balaraja

Sementara di Indonesia, menurut data Greenpeace Indonesia, angka kematian dini akibat polusi udara di Indonesia sejak 1 Januari 2020 diperkirakan mencapai lebih dari 9.000 jiwa. Kematian dini di Jakarta diperkirakan mencapai 6.100 jiwa, di Surabaya mencapai 1.700 jiwa, di Denpasar sebanyak 410 jiwa dan di Bandung sebanyak 1.400 jiwa.

Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace, Bondan Andriyanu mengatakan, kerugian ekonomi akibat buruknya kualitas udara di Indonesia diperkirakan mencapai puluhan triliun rupiah. Greenpeace mencatat total potensi kerugian ekonomi yang dialami oleh empat kota besar di Indonesia, salah satunya yaitu Jakarta yang mencapai Rp 23 triliun atau sekitar 26 persen dari total Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Sementara itu, potensi kerugian ekonomi akibat buruknya kualitas udara di Bandung diperkirakan mencapai Rp 5,34 triliun, di Surabaya mencapai Rp 6,35 triliun dan sebesar Rp 1,44 triliun di Denpasar.

Greenpeace menilai bahwa penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) karena wabah COVID-19, tidak terlalu berdampak pada perbaikan kualitas udara di Jakarta. Kualitas udara di ibu kota Indonesia itu dinilai tetap dalam kisaran yang sama bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Organisasi lingkungan tersebut mengungkapkan bahwa berdasarkan citra satelit dan analisis yang disusun CREA, tingkat polusi PM2.5 di Jakarta tetap tinggi. Namun konsentrasi senyawa nitrogen dioksida atau NO2 memang menurun sebanyak 33 persen. Penurunan konsentrasi NO2 di Jakarta sebagian besar disebabkan oleh penurunan kegiatan pada sektor transportasi dan industri selama masa PSBB.

Akan tetapi penurunan ini tidak berlangsung lama. Bondan Andriyanu, mengatakan, sejak masa transisi PSBB justru terlihat tren kenaikan polusi udara di Jakarta. Dalam masa PSBB transisi, konsentrasi PM2.5 dan NO2 di Jakarta justru terus meningkat. Bahkan pada 15 Juni, Jakarta berada di daftar lima kota dengan kualitas udara terburuk di dunia, demikian menurut database IQAir Visual.

BACA JUGA:  Realisasi Dana Covid Banten 27,70 Persen, Insentif Nakes 56,07 Persen

Bondan mengatakan bahwa kualitas udara aktual di Jakarta menunjukkan, solusi pemerintah untuk menghadapi masalah polusi udara masih jauh dari optimal. “Perlu ada langkah nyata dan rencana jangka panjang dari pemerintah,” ujar Bondan.

Upaya yang dapat dilakukan antara lain, memberikan data polusi udara secara realtime kepada publik dengan menyediakan alat pantau yang representatif, melakukan upaya mitigasi atas bahaya polusi udara dan mengedukasi publik akan bahaya dan dampak polusi udara bagi kesehatan. Selain itu perlu juga ada langkah bersama antara pemerintah daerah guna mengatasi polusi udara lintas batas.

Artikel sebelumyaPolisi Tangkap Pembobol Data Denny Siregar,Ternyata Karyawan Outsourcing Telkomsel di Grapari Rungkut Surabaya
Artikel berikutnyaKekasih Editor Metro TV ,Ungkap Gelagat Aneh Sebelum Ditemukan tewas