Belasan Santri di Mancak, Serang Dicabuli Oleh Ketua Pondok Pesantren

2
Belasan Santri di Mancak, Serang Dicabuli Oleh Ketua Pondok Pesantren
perwakilan santri korban Anton Daeng Harahap
SERANG – Belasan santri oleh ketua pesantren salafi di Kecamatan Mancak, Kabupaten Serang dengan modus akan diberikan wiridan yang harus ditebus dengan hubungan badan.

Salah seorang perwakilan santri korban Anton Daeng Harahap mengatakan untuk saat ini hanya ada empat korban yang mau melaporkan perbuatan pelaku yang berinisial JMJ. Keempat korban tersebut yakni DA, MA, YH, ES yang semuanya merupakan warga Kecamatan Mancak, Kabupaten Serang.

Kata dia, para korban berusia 14 tahun hingga 20 tahun yang sudah menjadi santri di pesantren tersebut dari kurang satu tahun dan lebih dari satu tahun. “Ada yang sudah dicabuli satu kali dan ada juga yang sudah dua kali,” katanya kepada wartawan di Polres Serang Kota, Senin (27/7).

Lanjutnya, untuk santri yang dicabuli oleh JMJ berasal dari Kecamatan Anyar, Mancak, Padarincang serta ada yang berasal dari Kabupaten Pandeglang. Akan tetapi ia tidak mau memaparkan nama maupun inisial korban karena sudah berjanji kepada korban dan keluarga korban untuk tidak memberitahukan nama korban.

Kata dia, pelaku melakukan aksinya sudah lama namun para santri tidak mau melaporkan perbuatan pelaku dikarenakan mendapatkan ancaman. Jika korban melaporkan hal tersebut kepada orang lain maka pelaku akan melakukan teluh atau guna-guna.

“Dipeluk dan disuruh buka pakaian disuruh memeluk pelaku,” katanya.

Ia juga mengatakan pelaku JMJ tidak pernah mengajar di pesanteren tersebut akan tetapi pelaku mencari anak didik dengan cara menyuruh orang lain sejak tahun 2012.

“Yang mengajar santri-santri disana,” ujarnya.

Lanjutnya, pelaku juga sudah mempunyai tiga orang istri yang juga merupakan korban dari aksi pencabulan yang dilakukan oleh pelaku.

Sementara itu, orang tua salah seorang korban berinisial SY mengatakan anaknya sudah menjadi santri di pesantren pelaku kurang lebih satu tahun lamanya. Akan tetapi anaknya tidak pernah mau menceritakan kejadian pencabulan tersebut. Ia mengatahui hal tersebut karena adanya laporan dari perlindungan perempuan dan anak (PPTP2A).

BACA JUGA:  Tim Densus 88 Antiteror Tangkap Pria Terduga Teroris di Palembang

“Ada yang melaporkan dari PPTP2A, disitulah saya tau,” katanya.