41 Hari Jalan Kaki, Ratusan Petani Deli Serdang Tiba di Kota Serang

41 Hari Jalan Kaki, Ratusan Petani Deli Serdang Tiba di Kota Serang
SERANG – Ratusan petani asal Deli Serdang Sumatera Utara menempuh perjalanan dengan berjalan kaki sejauh ribuan kilometer dan menyebrangi laut Selat Sunda, ratusan petani asal Deli Serdang, Sumatera Utara yang akan menuju Istana Negara, telah sampai di Kota Serang, Banten, pada Selasa (4/8/2020).

Rencananya para petani menuntut keadilan yang kini tengah bersengketa dengan PT Perkebunan Nusantara II (PTPN II) atas lahan seluas 854,26 hektare di Kecamatan Pancur Batu, Deli Serdang, Sumatera Utara tersebut menuju ke Istana Negara untuk menemui presiden Jokowi.

Mereka sudah longmarch selama 41 hari. Terdapat 1.520 Kepala Keluarga (KK) yang terdampak atas penggusuran tersebut. Jumlah itu merupakan KK yang berada di dua kampung yang berada di Kabupaten Deli Serdang, yakni Simalingkar sebanyak 810 KK dan Sei Mancirin sebanyak 710 KK.

Dewan Pembina Serikat Petani Simalingkar Bersatu, Aris Wiyono, mengatakan jika aksi jalan kaki yang dilakukan para petani Deli Serdang ini tak lain untuk bertemu dengan Presiden Jokowi di Istana Merdeka.

BACA JUGA: Sempat Istirahat di Cilegon, Ratusan Petani Deli Serdang Jalan Kaki ke Jakarta Demi Tuntut Keadilan

Menurutnya para petani merasa kecewa terhadap negara yang tidak hadir dalam penyelesaian konflik agraria yang terjadi di Kabupaten Deli Serdang. Pasalnya lahan pertanian milik para petani dan warga sekitar dirampas secara paksa dan digusur oleh salah satu BUMN yakni PTPN II.

“Kami adalah korban dari penggusuran paksa, saat ini kami sudah tidak mempunyai tempat tinggal dan lahan pertanian kami juga sudah hilang,” ujar Aris Wiyono saat diwawancara oleh awak media di Alun-alun Kota Serang.

Para petani, sambung Aris, sudah tidak mempunyai tempat tinggal. Lahan pertanian yang mereka miliki sudah hilang diserobot PTPN 2. Kini mereka sudah tidak punya apa-apa. Pihaknya juga mengaku sudah melaporkan dugaan penyerobotan itu ke pemerintah provinsi dan kabupaten setempat.

BACA JUGA:  Perusahaan Langgar AMDAL, Izin Usaha Akan Dicabut

BACA JUGA: Ledakan Beirut, 65 Mahasiswa Indonesia Terkonfirmasi dalam keadaan aman

“Tapi tidak ada tanggapan sehingga kami berharap dengan kami berjalan kaki 1812 KM, nantinya Presiden tahu persoalan ini, negara hadir dan rakyat mendapatkan kepastian hukum di atas tanah yang sudah mereka tempati sejak 1951,” imbuhnya.

Aris melanjutkan, tuntutan dalam aksi tersebut adalah bubarkan PTPN 2, berikan hak atas tanah kepada petani yang sudah menempati sejak 1951 tersebut. Mereka juga mempertanyakan program reditribusi tanah dari negara kepada rakyat yang dikampanyekan Jokowi, yang sampai sekarang belum terealisasikan.

“Kami saat ini ada 170 orang mewakili 810 KK di Simalingkar dan 707 di Semencirim. Untuk eksekusi lahan di Mencirim dilakukan saat corona bulan tiga, yang mana rakyat tidak boleh kemana-mana, tapi perusahaan negara bersama ribuan TNI-Polri menggusur paksa tanah kami,” ungkapnya.