Ledakan di Beirut, Diduga Berasal dari 2.750 Ton Amonium Nitrat, 1 WNI Terluka

Ledakan di Beirut, Diduga Berasal dari 2.750 Ton Amonium Nitrat, 1 WNI Terluka
Beirut – Sebuah ledakan hebat terjadi di Beirut, Lebanon pada Selasa (4/8/2020) petang waktu setempat, menewaskan 73 orang dan dan lebih dari 3.000 lainnya luka-luka, pada Selasa (4/8/2020).

Mengutip CNN (5/8/2020), dilaporkan Menteri Kesehatan Hamad Hassan, ribuan orang terluka dalam insiden ledakan tersebut. Perdana Menteri Hassan Diab menyatakan, sebanyak 2.750 ton amonium nitrat yang merupakan pupuk pertanian disinyalir menjadi penyebab insiden.

Pupuk itu, kata PM Diab, disimpan selama bertahun-tahun dalam gudang di tepi laut. “Tidak dapat diterima ada 2.750 amonium nitrat disimpan di gudang selama enam tahun, tanpa adanya langkah pengamanan sehingga membahayakan keselamatan warga,” imbuhnya.

Sementara Duta Besar RI untuk Lebanon Hajriyanto Thohari memastikan WNI di Beirut dalam keadaan aman usai terjadi ledakan besar di Port of Beirut, Selasa (4/8/2020).

BACA JUGA: Ledakan Beirut, 65 Mahasiswa Indonesia Terkonfirmasi dalam keadaan aman

“Berdasarkan pengecekan terakhir seluruh WNI dalam keadaan aman dan selamat. Dalam catatan KBRI, terdapat 1.447 WNI, 1.234 di antaranya adalah Kontingen Garuda dan 213 merupakan WNI sipil termasuk keluarga KBRI dan mahasiswa,” kata Hajriyanto dalam keterangan tertulis, Rabu (5/8/2020).

“Satu WNI yang sedang di karantina di RS Rafiq Hariri, Beirut, yang tidak jauh dari lokasi ledakan, juga sudah terkonfirmasi aman,” lanjut dia.

Ia menambahkan, KBRI telah menyampaikan imbauan melalui grup whatsapp dan melalui simpul-simpul WNI lainnya di Beirut.

BACA JUGA: Ledakan Mirip Bom Atom Luluh lantakkan Ibu Kota Lebanon, Beirut

Sejauh ini, lanjut Hajriyanto, seluruh WNI terpantau aman. Ia pun mengatakan KBRI telah mengimbau untuk segera melapor apabila berada dalam situasi tidak aman.

“KBRI telah melakukan komunikasi dengan pihak Kepolisian dan meminta laporan segera apabila ada update mengenai WNI dan sepakat akan segera menyampaikan informasi kepada KBRI,” lanjut dia.

BACA JUGA:  Dianggap Rusak Lingkungan, Warga Padarincang Tolak Pembangunan Geothermal