Buntut Kebocoran Data Deny Siregar Selain Radikalisme, Berujung Tuntut Telkomsel 1 Trilyun

1
Deny Siregar, didampingi Kuasa Hukum
Deny Siregar, didampingi Kuasa Hukum
JAKARTA, banten.indeknews.com. – Deny Siregar menuntut Telkomsel untuk membayar kerugian Rp 1 Triliun atas kasus kebocoran data dirinya di media sosial. Selain itu, dia juga meminta aparat penegak hukum untuk menindak tegas pelaku pembocoran dan penyebaran data dirinya.

Kuasa hukum Deny Siregar, Muannas Alaidid mengatakan, pihaknya meminta ganti rugi tersebut untuk memastikan kasus serupa tidak lagi terjadi.

“Memaksa pihak Telkomsel turut membayar kerugian berdasarkan prinsip ‘Punitive Damage’ dengan membayar sejumlah kerugian yang diderita terhadap Deny Siregar sebesar Rp. 1.000.000.000.000 (satu trilyun rupiah) selambat-lambatnya selama 7 hari sejak ini disampaikan & surat pemberitahuan ini diterima,” katanya dalam keterangan tertulisnya, Selasa (2/9).

Selain itu, dia mengungkapkan, laporan polisi yang ditangani Cyber Bareskrim Polri seolah nampak berjalan ditempat. Meski sudah hampir 2 (dua) bulan berjalan sejak kasusnya resmi dilaporkan awal Juli 2020 lalu, polri diketahui baru menangkap FPH seorang pegawai kontrak telkomsel di Surabaya yang mensuplai data.

“Sedangkan bagi pemilik akun kelompok radikal @opposite6891 yang menyebarkan masih berstatus DPO atau setidaknya sampai hari ini belum juga tertangkap, tak tahu apa alasannya?” ujarnya.

Menurut Muannas, tertangkapnya pemilik akun @opposite6891 menjadi kunci soal dugaan keterlibatan pihak lain, termasuk Haikal Hasan yang sempat terseret namanya diduga menjadi penyokong dana dibalik pemilik akun kelompok radikal tersebut.

“Di sisi lain Telkomsel juga terkesan cuci tangan atas kerugian yang nyata-nyata telah ditimbulkan karena perbuatan melanggar hukum yang dilakukan karyawannya meski perusahaan yang beraset trilyunan rupiah tersebut terbukti lalai dalam menjaga kerahasiaan data pelanggannya,” terangnya.

Dia menambahkan, bocornya data pribadi merupakan hal yang sangat berbahaya dan tidak boleh lagi terjadi. Sebab sebagai pelanggan bisa menjadi korban dari aksi kejahatan baik terhadap dirinya maupun anggota keluarganya seperti yang dialami Deny Siregar dengan motif ancaman dan teror.

BACA JUGA:  Permasalahkan Penyakit Habib Rizieq, Bima Arya Dihujat Natizen

“Kerugian itu tidak cukup dinilai dengan sejumlah uang, meski hanya sekedar kerugian moril sekalipun, karena sejatinya nilai privasi seseorang adalah tidak ternilai (priceless),” tutup Muannas.