Kasus Covid-19 Kembali Meningkat, Kenali Tanda Mungkin Anda Pernah Terjangkit

1
Kasus Covid-19 Kembali Meningkat, Kenali Tanda Mungkin Anda Pernah Terjangkit
Foto Ilustrasi
JAKARTA, banten.indeksnews.com – Covid-19 telah menelan banyak korban jiwa. Sebagai upaya penanggulangan penyebaran, penting sekali bagi kita untuk mengenali gejala infeksi virus Corona, terutama gejala awalnya di minggu pertama.

Covid-19 merupakan infeksi virus yang menyerang sistem pernapasan manusia. Gejala yang disebabkan penyakit ini biasanya berawal dari gejala ringan. Setelah itu, gejala bisa membaik atau memberat, tergantung pada keadaan sistem imun tubuh penderita.

Gejala yang terjadi di minggu pertama biasanya ringan. Berikut ini adalah gejala terjangkit Virus Corona yang biasanya muncul di minggu pertama:

  • Demam ≥38C
  • Kelelahan atau lemas
  • Batuk tidak berdahak
  • Pegal-pegal
  • Tidak nafsu makan
  • Hilangnya kemampuan mengecap rasa atau mencium

Ketika pandemi corona menyebar di seluruh dunia, dokter mulai menyelisik daya rusak virus corona. Awalnya kasus pneumonia begitu mencuat selama ledakan kasus corona di China, kini muncul patogen misterius yang mampu membahayakan tubuh dan masuk dengan berbagai cara yang tak terduga, bahkan kerap mematikan.

BACA JUGA: Syekh Ali Jaber Ditusuk Oleh Orang Tak Dikenal di Bandar Lampung

Manifestasi klinis bisa tergambar mulai dari gejala pilek dan bronkitis hingga penyakit yang lebih parah seperti pneumonia, sindrom gangguan pernapasan akut, kegagalan multi-organ, bahkan hingga kematian. Penyakit tersebut bisa terjadi sebagai akibat langsung dari infeksi virus corona, serta respons tubuh terhadapnya.

Namun sebagian orang ditemukan tidak memiliki gejala apapun tetapi terbukti mereka positif Virus Corona. Para ahli penyakit menular mengatakan, virus kemungkinan sudah menyebar sebelum kota-kota mulai melakukan karantina wilayah, dan bahkan sebelum banyak negara memberlakukan perintah jarak sosial.

Dilensir dari laman Men’s Health, dokter William Schaffner, seorang profesor dan spesialis penyakit menular di Vanderbilt University mengatakan bisa jadi seseorang sebenarnya telah tertular virus corona tanpa menyadarinya. Terlebih, tanpa gejala bisa dialami siapa saja, dan beberapa gejala Covid-19 menyerupai gejala penyakit lainnya seperti flu biasa.

BACA JUGA:  AM Hendropriyono Ingatkan Pendemo Keluarga Mahfud MD

BACA JUGA: KPUD TANGSEL Lakukan Simulasi Pencoblosan Pilkada Serentak 2020, Dengan Prokes Covid 19

“Kebanyakan orang yang mengidap virus corona memiliki kasus infeksi yang tidak rumit, dan itu bisa dibedakan dari flu biasa atau flu karena virus corona,” kata William.

Para ahli mengatakan, ada beberapa tanda bisa menjadi petunjuk bahwa seseorang mungkin sudah pernah terjangkit Virus Corona.

Di awal pandemi, orang percaya bahwa Covid-19 tidak mulai beredar hingga akhir Februari dan Maret. Namun, penelitian baru dari University of Texas menunjukkan sebaliknya.

Untuk penelitian tersebut, para ilmuwan menganalisis usap tenggorokan yang diambil pada akhir tahun lalu saat musim dingin lalu pada orang yang dicurigai memiliki kasus flu. Tes usap ini dilakukan di Wuhan, China, tempat virus korona baru berasal. Serta Seattle, Washington, tempat kasus pertama Covid-19 dikonfirmasi di AS.

Para peneliti menemukan bahwa setiap dua kasus flu, ada satu kasus Covid-19. Akibatnya, mereka yakin Covid-19 kemungkinan tiba sekitar Natal.

Kata William, mungkin sulit untuk membedakan flu dari bentuk ringan Covid-19 tanpa tes, tergantung pada gejala yang dialami. Namun, pilek biasanya tidak menyebabkan sesak napas, sakit kepala parah, atau gejala gastrointestinal seperti Covid-19.

Gejala resmi Covid-19 antara lain demam atau kedinginan, batuk, sesak napas atau kesulitan bernapas, kelelahan, nyeri otot atau tubuh, sakit kepala, kehilangan rasa atau bau baru, dan sakit tenggorokan. Lalu, hidung tersumbat atau meler, mual atau muntah, serta diare.

Hilangnya bau dan rasa telah menjadi ciri utama Covid-19. Meskipun gejala ini tidak terjadi pada semua orang, Dr Adalja menunjukkan gejala ini sangat terkait dengan virus corona baru.

Data awal dari American Academy of Otolaryngology-Head and Neck Surgery (AAO-HNS) menemukan, pada pasien Covid-19 yang kehilangan indra penciumannya, 27 persen mengalami perbaikan dalam waktu sekitar tujuh hari. Sementara sebagian besar membaik dalam waktu 10 hari.

BACA JUGA:  MUI Jabar Desak Polisi Tangkap Pelaku Adzan Jihad

Namun demikian, gejala ini juga mungkin terjadi untuk sementara waktu kehilangan indra dengan kondisi pernapasan lain, seperti pilek, flu, infeksi sinus, atau bahkan dengan alergi musiman. Tetapi para ahli mengatakan bahwa gejala tersebut dapat bertahan pada beberapa orang dan berlangsung selama berbulan-bulan setelah pulih dari Covid-19.

Banyak orang yang telah pulih dari virus melaporkan mereka memiliki masalah rambut rontok.

Anggota Survivor Corps, grup dukungan Facebook untuk orang-orang yang terjangkit Covid-19, juga berbicara tentang mengalami rambut rontok berbulan-bulan setelah pulih dari sakit. Menurut Dr Adalja, kondisi yang dikenal sebagai telogen effluvium ini  disebabkan oleh banyak faktor, termasuk kehamilan, stres ekstrem, penurunan berat badan, dan penyakit selain Covid-19.

Dia menekankan, rambut rontok tidak akan terjadi kepada orang-orang yang tak bergejala Covid-19, terutama yang tidak mengalami batuk atau demam. Rambut rontok, kata dia juga bisa terjadi karena stres secara umum.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal JAMA menemukan, orang dengan Covid-19 dapat mengalami efek samping virus, termasuk sesak napas. Kemungkinan, hal ini karena peradangan yang berlangsung lama di paru-paru.

“Ini adalah salah satu efek lama yang diketahui pada orang yang didiagnosis dengan Covid-19. Jika Anda mengalami ini, mungkin penyakit yang Anda alami sebelumnya sebenarnya adalah Covid,”  kata Dr William.

Para peserta pada penelitian JAMA menyebut batuk yang berkepanjangan adalah gejala lain yang dialami mereka. Menurut  dokter Adalja, batuknya sering kali kering, artinya tidak ada yang keluar, seperti dahak atau lendir. Data menemukan bahwa 43 persen orang yang menderita Covid-19 masih batuk 14 hingga 21 hari setelah mendapatkan tes positif untuk virus tersebut.

Menurut studi JAMA, rasa lelah adalah salah satu efek bertahan terbesar setelah seseorang terkena Covid-19. Studi itu menemukan 53 persen pasien mengatakan mereka berjuang melawan kelelahan sekitar 60 hari setelah mereka pertama kali menunjukkan tanda-tanda virus. “Kami melihat beberapa orang yang memiliki penyakit ringan yang mengalami kelelahan selama beberapa waktu,” kata Dr Adalja.

BACA JUGA:  Pencarian remaja tenggelam di laut Sukabumi belum buahkan hasil

Namun, katanya, saat ini belum sepenuhnya jelas mengapa hal ini terjadi. Bisa jadi cara sistem kekebalan seseorang bereaksi terhadap virus, atau bisa juga cara virus bekerja di dalam tubuh.

Para ahli menekankan, Covid-19 masih merupakan virus baru, sehingga para dokter dan ilmuwan terus mempelajarinya lebih lanjut. Penelitian tentang efek virus yang bertahan lama sedang berlangsung.

Oleh karenanya, Adalja mengatakan, saat ini sulit bagi dokter untuk menyebut bahwa memiliki gejala tertentu dapat berarti Anda terkena infeksi Covid-19, sementara yang lain tidak. Perlu disebutkan bahwa beberapa orang pernah mengalami masalah jantung setelah tertular virus.

Terdapat satu studi kecil terhadap 100 orang yang pulih dari Covid-19 yang diterbitkan di JAMA Cardiology melakukan MRI kepada mantan pasien. Mereka menemukan, sebanyak 78 persen pasien memiliki semacam temuan jantung abnormal, terlepas dari kondisi yang sudah ada sebelumnya.