Supremasi kapital dan Stereotypes, manakah yang lebih pintar?

204
FOTO ilustrasi
FOTO ilustrasi
JAKARTA, banten.indeknews.com – Supremasi kapital, coba kita test, katakan seratus responden ditanya, mana yang lebih pintar? Chinese, Pribumi, Mungkin anda tidak percaya, bahwa anak usia 2 tahun sudah mengenal stereotypes. Fakta asumsi prejudise tentang anggapan satu ras atau suku itu, pintar, tekun, jujur, lebih kredibel, lebih pintar mengelola uang, lebih dipercaya. Stereotypes = kenyataan .Anggapan umum sejak usia 2 tahun itu ada. Coba test kepada anak anda, ada dua boneka bayi barbie,  White barbie ,Black barbie.

Stereotipe merupakan jalan pintas pemikiran yang dilakukan secara intuitif oleh manusia untuk menyederhanakan hal-hal yang kompleks dan membantu dalam pengambilan namun keputusan secara cepat namun, stereotipe dapat berupa prasangka positif dan juga negatif, dan kadang-kadang dijadikan alasan untuk melakukan tindakan diskriminatif. Bagaimana dengan Supremasi Kapital?

Tanyakan, siapa yang lebih cantik? Anda mungkin tidak percaya, sejak usia 2.tahun anak anak memiliki stereotypes anggapan. Bahwa white = beautiful. White = smart, sukses. Rich, dan kredibel.  Oleh karena stereot Anda bisa anjlok menghadapi kenyataan bahwa Anda tidak sanggup bayar bensin. Memasuki era Supremasi Kapital. Anda dihadapkan pada pil pahit

Stereoypes ini sulit dibangun, butuh satu dua puluh tahun untuk menyembuhkan anggapan tersebut, maka bisa dikatakan supremasi kapital itu seperti mempertemukan virus (kekuasaan) dengan vaksin (kekayaan).

Secara sederhana, mempertemukan virus (pejabat) dengan vaksin (konglomerat).

Anda mungkin berpikir, itu bukannya jadul? Oh tidak. Jadul itu Ciputra, William Soerjadjaja, Sudono Salim (alm.), zaman now itu a n d a

BACA JUGA:  Gara Gara Pengusaha Sumbang Penanganan Covid 19 ke Kapolda SumSel, Semua Seakan Menahan Napas
Artikel sebelumyaSaraswati: Salut Dengan Kegigihan Para Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang mampu bertahan di masa pandemi Covid-19.
Artikel berikutnyaDana PKH Diselewengkan Oknum TKSK