Herman Dzumafo Striker Naturalisasi Sebut Sepak Bola Indonesia Tak Punya Kredibilitas

213
Striker Bhayangkara FC, Herman Dzumafo,
Striker Bhayangkara FC, Herman Dzumafo,
BOLA, banten.indeksnews.com -Striker Naturalisasi yang kini bermain di  Bhayangkara FC, Herman Dzumafo, menyatakan Liga 1 2020 harus segera mungkin dilanjutkan. Jika tidak, hal itu tentu akan mempengaruhi kredibilitas sepak bola Indonesia di mata dunia, terlebih tahun depan berstatus tuan rumah Piala Dunia U-20.

Menurut Herman Dzumafo, jika Liga 1 2020 tak berlanjut, sepak bola Indonesia semakin jauh tertinggal. Ia paham dengan situasi adanya pandemi virus corona, namun kompetisi bisa berjalan berdampingan seperti liga-liga di luar negeri.

“Harus dilanjutkan demi sepak bola Indonesia. Kalau tidak, bisa saja kita mundur 2 tahun ke belakang dan akan jadi sejarah bahwa Indonesia satu-satunya negara yang liganya tidak bergulir dan mau bangga jadi tuan rumah Piala Dunia U-20?” kata Herman Dzumafo pemain naturalisasi tersebut.

Herman Dzumafo sangat kecewa dengan penundaan kick-off lanjutan Liga 1 2020 awal bulan ini karena semua tim telah melakukan persiapan dengan matang. Ia tidak heran dengan situasi yang ada, namun juga tidak habis pikir dengan keputusan mendadak H-3.

“Iya apa bedanya dari tahun sebelumnya? Kan selalu mundur. Bagi saya sudah terbiasa, walaupun kecewa tapi ya bagaimana lagi,” sesalnya.

Dengan tata kelola yang masih amburadul, Herman Dzumafo menyatakan sepak bola Indonesia seakan tak punya nilai atau kredibilitas. Oleh sebab itu, PSSI harus segera mengambil keputusan dan melanjutkan kompetisi.

“Sepak bola Indonesia saja tidak punya kredibilitas di mata dunia, dengan tidak bergulirnya liga pasti akan lebih parah,” cetus pria kelahiran Kamerun itu.

“Sama-sama kita harus korbankan sesuatu, biar jalan sesuai inginan PSSI, yaitu liga jalan kembali, demi majunya sepak bola Indonesia walaupun susah saat ini,” pungkas Herman Dzumafo.

BACA JUGA:  Inggris Kirim 9 Juta Dosis Vaksin COVID-19 ke Berbagai Negara, Termasuk Indonesia
Artikel sebelumyaPiala Adipura, Ini Strategi Saraswati, Jika Kelak Pimpin Tangsel Bersama Babeh Muhamad
Artikel berikutnyaStadion Manahan: Lebih dari Sekadar Kebanggaan Publik Solo, Sebuah Barometer Sepak Bola Indonesia