UU Cipta Kerja, Penolakan Dan Kepentingan Politik

284
Demo Penolakan UU Cipta Kerja Bundaran HI ft Istimewa
Demo Penolakan UU Cipta Kerja Bundaran HI ft Istimewa
JAKARTA, banten.indeksnews.com – Aksi demo penolakan UU Cipta Kerja yang digelar buruh dan mahasiswa di berbagai daerah adalah fenomena yang cukup menyedihkan. Bagaimana tidak? Seperti biasanya, peserta demo banyak yang belum membaca isi UU Cipta Kerja tersebut. Memang pada dasarnya tidak semua orang harus membacanya, tapi kalau mau menolak minimal tau dulu apa dasar dan alasannya.

Terlepas dari hal itu, penting untuk mengetahui dalang di balik aksi demo penolakan UU Cipta Kerja ini. Supaya kita bisa paham apa maksud dan tujuan dari kegaduhan yang sedang terjadi. Apakah aksi penolakan ini murni gerakan memperjuangkan hak buruh atau ada kepentingan politik?

Sebab, saya tidak yakin bahwa buruh dan mahasiswa bergerak dengan sendirinya lalu kemudian melakukan aksi tanpa ada yang mengarahkan. Bagaimana mau bergerak sendiri, jika rata-rata mereka yg melakukan aksi demo tersebut belum paham tentang UU Cipta Kerja itu sendiri.

Bahkan membacanya saja pun belum dan ini terbukti ketika ada beberapa peserta aksi yang berhasil diamankan pihak kepolisian.

Ketika ditanya alasan ikut demo, dengan polosnya mereka menjawab tidak tau.

Ayo, mari kita bahas dari awal. Sebelumnya, pada saat UU Cipta Kerja ini masih dalam proses pembahasan di DPR dimana pada saat itu semua fraksi di luar PKS, telah sepakat untuk menyetujui pengesahannya.

Namun pada saat pengesahan, tak ada angin dan tak ada hujan tiba-tiba anggota DPR dari fraksi Demokrat tidak menyetujui lalu kemudian walk out dari rapat paripurna pengesahan RUU Cipta Kerja yang kini sudah sah jadi UU.

Pertanyaannya, kenapa fraksi Demokrat mencabut persetujuannya lalu kemudian walk out dari rapat paripurna pengesahan RUU Cipta Kerja?

BACA JUGA:  Windy Cantika Aisah Persembahkan Medali Pertama untuk Indonesia di Olimpiade Tokyo

Jawabannya adalah karena Demokrat ingin terlihat sebagai pahlawan. Kita tau bahwa saat ini rating Partai Demokrat sudah anjlok, maka dengan alasan itulah Demokrat berusaha memanfaatkan situasi ini untuk menarik simpati buruh.

Setelah fraksi Demokrat walk out dari rapat paripurna pengesahan RUU Cipta Kerja, AHY langsung medramatisir dgn meminta maaf kepada seluruh rakyat Indonesia, karena partainya tidak berhasil menggagalkan pengesahan RUU Cipta Kerja tersebut.

Drama yang diperankan AHY disponsori langsung oleh media peliharaan SBY, lalu kemudian dipublikasikan di portal berita nasional.

Isu terkait UU Cipta Kerja ini akan dimainkan Demokrat minimal sampai pelaksanaan pilkada serentak 9 Desember nanti, sehingga cakada yang diusung Partai Demokrat di beberapa daerah mendapatkan dukungan penuh dari buruh. Itu tujuannya.

Pertanyaan selanjutnya, apakah mahasiswa, buruh dan Demokrat ada hubungannya? Entahlah. Namun yang jelas, mustahil buruh dan mahasiswa melakukan aksi demo tanpa ada yang mengarahkan, UU-nya saja blm mereka baca apalagi mau demo. Tidak mungkin.

Jika tujuan mahasiswa melakukan aksi demo adalah murni untuk kepentingan buruh dan bukan untuk kepentingan politik, maka seharusnya yang mereka lakukan adalah menempuh jalur hukum melalui judicial review di MK.

Tapi sayangnya fakta yang terjadi tidak demikian. Bermodalkan berita hoax, mahasiswa langsung menyatakan sikap dan turun ke jalan untuk melakukan penolakan UU Cipta Kerja di berbagai daerah tanpa mempedulikan situasi pandemi Covid-19.

SUMBER : @seruanhl

Artikel sebelumyaMpok Saraswati Rajin Kondangan, Kunjungi Pernikahan Anggota Srikandi Barisan Muda Tangerang Selatan
Artikel berikutnyaKepala BKPM Bahlil Lahadalia : UU Cipta Kerja Disahkan, Berbagai Negara Siap Relokasi Pabrik ke Indonesia