Kembali Masuk Zona Merah, Kabupaten Tangerang Antisipasi Klaster Baru Pasca Demo

3
Kembali Masuk Zona Merah, Kabupaten Tangerang Antisipasi Klaster Baru Pasca Demo
Tangerang – Sempat mengalami penurunan penularan Covid-19, kini Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang Selatan kembali masuk zona merah.

Data yang diunggah Dinas Kesehatan Provinsi Banten. Per tanggal 12 Oktober 2020, hanya Kota Tangerang Selatan dan Kabupaten Tangerang yang kembali masuk zona merah. Selebihnya, enam kota dan kabupaten lain di Provinsi Banten masuk dalam zona oranye.

Jubir Gugus Tugas Pemkab Tangerang Hendra Tarmizi membenarkan daerahnya kembali jadi zona merah. Menurutnya, salah satu penyebab zona merah dan pasien bertambah karena tracing atau pelacakan pada yang kontak erat dengan pasien positif semakin gencar dilakukan.

“Tadi malam merah lagi, kemungkinan dari penambahan kasus-kasus karena kita rajin tracing ke yang satu positif kita tracing 20-30 orang. Dari 20-30 orang banyak yang terjaring positif karena kontak erat dengan yang positif,” kata Hendra, Selasa (13/10/2020).

Meski kasus bertambah, Hendra memastikan ketersediaan tempat tidur di tiga rumah sakit rujukan Covid-19 di wilayahnya aman dan masih mampu menampung pasien. Sebab, tingkat kesembuhan di Kabupaten Tangerang pun terbilang cukup tinggi, yakni sebesar 78 persen.

“Untuk ketersediaan di rumah sakit aman. Untuk Hotel Yasmin yang menampung pasien OTG, tower depan kapasitas 120, terisi 82 pasien,” katanya.

Tapi, Hendra belum bisa menentukan apakah sudah muncul klaster baru usai ramainya demonstrasi di Tangerang. Menurutnya, itu butuh 1 sampai 14 hari ke depan untuk melihat apakah ada peningkatan jumlah pasien Corona baik di Puskesmas dan rumah sakit. Dari situ, kemudian dilakukan identifikasi apakah pasien itu buruh atau bukan.

“Kita tracing itu buruh ikut demo atau tidak. Sejauh ini memang belum ada, belum sampai 10 hari (pasca demo),”paparnya.

BACA JUGA:  Wagub DKI, Ahmad Riza Patria Positif Covid-19

Hendra pun berharap pekan ini angka penyebaran Covid-19 bisa ditekan dan tak terjadi lonjakan. Pasalnya, pasca-aksi unjuk rasa penolakan Undang-Undang Omnibus Law Ciptaker, pihaknya belum menemukan adanya klaster baru.

Diperlukan waktu satu sampai dua minggu untuk mengetahui adanya keberadaan klaster baru tersebut. “14 hari, itu pun jika yang demo atau keluarga ada yang positif. Baru bisa kita tracing,” ujar Hendra.