Komnas HAM: Banyak Lubang Ditemukan di Lokasi Penembakan Pendeta Zanambani

50
Komnas HAM
Tim Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Republik Indonesia menyatakan menemukan banyak jejak lubang peluru di lokasi kejadian penembakan Pendeta Yeremia Zanambani pada 19 September silam.

Hal itu dinyatakan Komisioner Komnas HAM RI, Choirul Anam saat menyampaikan keterangan pers di Kantor Komnas HAM Perwakilan Papua, Kota Jayapura, Papua, Sabtu (17/10/2020).

Choirul Anam mengatakan jejak peluru itu ditemukan saat tim Komnas HAM RI melakukan rekonstruksi di tempat kejadian perkara yang ada di Kampung Bomba, Distril Hitadipa, Kabupaten Intan Jaya, Papua beberapa hari lalu. “Kami menemukan banyak lubang peluru berbagai ukuran dan berbagai tipologi peluru. Ada bekas darah meski sudah mulai pudar,” kata Choirul Anam.

Akan tetapi, Choirul menyatakan pihaknya belum dapat memastikan lubang peluru di lokasi itu ditimbulkan dari tembakan senjata jenis apa, sebelum dilakukan pengujian untuk menentukan karakter peluru itu.

“Tapi kasus ini bukan peristiwa yang tak diketahui orang. Kasus ini ada latar belakangnya, dan informasinya. Itu memudahkan kami mengungkap apa yang terjadi, bagaimana [penembakan] itu terjadi, dan dugaan siapa pelakunya,” ujarnya.

Ia mengakui sejumlah saksi yang memberikan keterangan kepada Tim Komnas HAM telah menyebut sejumlah pihak sebagai terduga pelaku penembakan. Namun, pihaknya juga akan menggunakan berbagai informasi lain dari berbagai pihak untuk menyusun satu kesimpulan, termasuk hasil rekonstruksi dan melihat tipologi tubuh korban.

“Ini nanti yang akan kami dalami. Apa yang disampaikan saksi kepada kami [siapa terduga pelaku] tidak akan kami sampaikan,” ucapnya.

Choirul menyatakan ada dua pertimbangan sehingga Komnas HAM belum dapat menyampaikan identitas terduga pelaku yang dinyatakan para saksi. Salah satunya, lembaga itu mesti memastikan korban, atau keluarga korban, tidak menjadi korban kekerasan lanjutan.

BACA JUGA:  Kemensos Lakukan Monitoring dan Teguran Pastikan Bansos Cepat Tersalurkan

“Yang kedua, agar ini tidak menggangu proses kami saat mengelelola informasi. Atas nama keamanan, mohon maaf, kami tidak bisa menyebutkan apa keterangannya [saksi],” katanya.

Ia menambahkan, rekonstruksi di lokasi penembakan Pendeta Yeremia Zanambani juga menemukan sejumlah petunjuk lain. Komnas HAM RI akan segera mendalami seluruh keterangan saksi maupun petunjuk lain yang telah ditemukan.

Choirul menyatakan pihaknya akan mendalami berapa perkiraan jarak penembakan Pendeta Yeremia Zanambani, dan memastikan apakah ada tindakan kekerasan lain terhadap korban. Komnas HAM RI juga akan mendalami apakah kasus penembakan itu insiden yang berdiri sendiri, atau merupakan insiden yang terkait dengan peristiwa lain.

“Kami dapat berbagai keterangan yang membuat kasus ini semakin terang. Hal-hal detail belum bisa kami sebutkan. Nanti dalam laporan akhir ada,” katanya.

Kepala Biro Penegakan HAM Komnas HAM RI, Gatot Ristanto mengatakan, pihaknya berterimakasih atas dukungan kepada masyarakat Papua, dan para pihak sehingga tim Komnas HAM RI bisa menyelesaikan tugasnya di lapangan.

“Kita berharap kasus ini semakin terang, keluarga korban mendapat keadilan dan kedamaian bagi Papua segera terwujud,” kata Gatot.