KPK Tetapkan Tiga Tersangka Baru Kasus Korupsi di PTDI

201
KPK Tetapkan Tiga Tersangka Baru Kasus Korupsi di PTDI
Wakil Ketua KPK Alexamder Marwata dalam keterangan pers secara virtual dari Gedung KPK FT istimewa
JAKARTA, banten.indeksnews.com- KPK Komisi Pemberantasan Korupsi menetapkan tiga tersangka baru dalam perkembangan kasus dugaan korupsi dalam kegiatan penjualan dan pemasaran di PT Dirgantara Indonesia (PTDI).

‘Setelah menemukan bukti permulaan yang cukup, KPK meningkatkan status perkara ke penyidikan dan telah menetapkan tersangka AW, DL, dan FSS,” ujar Wakil Ketua KPK Alexamder Marwata dalam keterangan pers secara virtual dari Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi, Jakarta, Selasa 3 Nopember 2020. Sore WIB.

”AW yang dimaksud adalah Kepala Divisi Pemasaran dan Penjualan PTDI 2007-2014 dan Direktur Produksi 2014-2019 Arie Wibowo, kemudian Direktur Utama PT Abadi Sentosa Didi Laksamana, dan Dirut PT Selaras Bangun Usaha Ferry Santosa Subrata.” terang Alex Wakil Ketua KPK.

Wakil Ketua KPK Alexamder Marwata dalam keterangan pers secara virtual dari Gedung KPK Ft Istimewa
Wakil Ketua KPK Alexamder Marwata dalam keterangan pers secara virtual dari Gedung KPK Ft Istimewa ,

Alex menambahkan untuk kepentingan penyidikan, mulai hari ini ketiganya ditahan untuk 20 hari ke depan, terhitung sejak 3-22 November 2020. Arie Wibowo ditahan di Rutan Polres Metro Jakarta Timur, Didi di Rutan Polres Jakarta Pusat, dan Ferry di Rutan Polda Metro Jaya.

Kasus korupsi ini bermula pada awal 2008, saat Budi Santoso dan Irzal Rinaldi Zailani bersama-sama dengan Budi Wuraskito selaku Direktur Aircraft Integration, Budiman Saleh selaku Direktur Aerostructure, serta Arie Wibowo selaku Kepala Divisi Pemasaran dan Penjualan menggelar rapat mengenai kebutuhan dana PTDI untuk mendapatkan pekerjaan di kementerian lainnya.

Dalam rapat itu juga dibahas mengenai biaya entertainment dan uang rapat-rapat yang nilainya tidak dapat dipertanggungjawabkan melalui bagian keuangan. Budi Santoso mengarahkan agar tetap membuat kontrak kerja sama mitra atau keagenan sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan dana tersebut.

Namun sebelum dilaksanakan, Budi meminta agar melaporkan terlebih dahulu rencana tersebut kepada pemegang saham yaitu Kementerian BUMN. Setelah sejumlah pertemuan, disepakati kelanjutan program kerja sama mitra atau keagenan dengan mekanisme penunjukkan langsung.

BACA JUGA:  Indomaret Mau Diboikot Buruh, Berapa Jumlah Saham Konglomerat Anthony Salim di Pesaing Alfamart Itu?

Selain itu, dalam penyusunan anggaran pada rencana kerja dan anggaran perusahaan (RKAP) PTDI, pembiayaan kerja sama tersebut dititipkan dalam ‘sandi-sandi anggaran’ pada kegiatan penjualan dan pemasaran. Selanjutnya, Budi Santoso memerintahkan Irzal Rinaldi Zailani dan Arie Wibowo untuk menyiapkan administrasi dan koordinasi proses kerjasama mitra atau keagenan. Irzal pun menghubungi Didi Laksamana untuk menyiapkan perusahaan yang akan dijadikan mitra atau agen.

Kemudian, mulai Juni 2008 hingga 2018, dibuat kontrak kemitraan atau agen antara PTDI yang ditandatangani oleh Direktur Aircraft Integration dengan Direktur PT Angkasa Mitra Karya, PT Bumiloka Tegar Perkasa, PT Abadi Sentosa Perkasa, PT Niaga Putra Bangsa, dan PT Selaras Bangun Usaha. Atas kontrak kerja sama tersebut, seluruh mitra atau agen tidak pernah melaksanakan pekerjaan berdasarkan kewajiban yang tertera dalam surat perjanjian kerjasama.

PTDI baru mulai membayar nilai kontrak tersebut kepada perusahaan mitra atau agen pada 2011 atau setelah menerima pembayaran dari pihak pemberi pekerjaan. Selama tahun 2011 sampai 2018, jumlah pembayaran yang telah dilakukan oleh PTDI kepada enam perusahaan mitra atau agen tersebut sekitar Rp 205,3 miliar dan USD 8,65 juta, atau sekira Rp 330 miliar.

Para tersangka dikenakan Pasal 2 atau Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tipikor sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Ketiga tersangka baru menyusul tiga orang lainnya yang terlebih dahulu menjadi pasien Komisi Pemberantasan Korupsi. Mereka adalah eks Dirut PTDI Budi Santoso, mantan Direktur Niaga Irzal Rinaldi Zailani, dan eks Direktur Aerostructure Budiman Saleh.