Etika Dan Tanggungjawab Seorang Pemimpin Dalam Islam

108
Etika Dan Tanggungjawab Seorang Pemimpin Dalam Islam
Kekuasaan tidaklah diberikan kepada seseorang pemimpin melainkan untuk mewujudkan tujuan. Nah, tercapainya tujuan tersebut merupakan tanggung jawab bersama antara rakyat dan penguasa.

Maksud dan tujuan setiap kekuasaan di dalam Islam adalah agar agama ini menjadi milik Allah, kalimat Allah menjadi yang tertinggi dan ibadah hanya diperuntukkan untuk Allah.

Sesungguhnya Allah SWT menciptakan makhluk untuk beribadah semata kepada-Nya. Karena tujuan itulah Allah menurunkan wahyu, mengutus Rasul dan karena alasan itu juga Rasul dan orang-orang beriman melakukan jihad.

Pimpinan adalah wakil dari umat dalam mewujudkan tujuan-tujuan syariat. Rakyat telah memberikan haknya kepada pemimpin melalui baiat. Oleh karena itu kewajiban besar menanti tugas seorang pemimpin Islam.

Namun, tugas yang demikian besar itu rasanya tidak mungkin dapat dilaksanakan oleh seorang pimpinan itu sendirian, meskipun dia orang yang kuat, pandai dan cerdas. Oleh karena itu Islam juga membebankan tanggung jawab ini kepada rakyat berupa penunaian terhadap hak-hak imam sebagai timbal balik dari kewajiban besar yang dipanggul oleh imam.

Dijelaskan dalam sebuah hadits riwayat Muslim, Rasulullah SAW Bersabda:

عن ابن عمرعن النبى – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – انه قَالَ – أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رعيته وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ وَالْعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ ألا فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Dari Ibn umar R.A dari Nabi Sholallohu alaihi wasallam sesungguhnya bersabda : Setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannnya. Seorang kepala negara adalah pemimpin atas rakyatnya dan akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin atas anggota keluarganya dan akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya.

Seorang isteri adalah memimpin atas rumah tangga dan anak-anaknya dan akan ditanya perihal tanggung jawabnya.  Seorang pembantu/pekerja rumah tangga adalah bertugas memelihara barang milik majikannya dan akan ditanya atas pertanggungjawabannya. Dan kamu sekalian pemimpin dan akan ditanya (diminta pertanggungan jawab) darihal hal yang dipimpinnya (HR.Muslim).

Pelajaran yang terdapat di dalam hadits:

1- Hadist di atas sangat jelas menerangkan tentang kepemimpinan setiap orang muslim dalam berbagai posisi dan tingkatannya. Mulai dari tingkatan rakyat sampai tingkatan pemimpin terhadap diri sendiri. Semua orang pasti memiliki tanggung jawab dan akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala atas itu semua kelak di akhirat.

2- Etika paling pokok dalam Islam adalah tanggung jawab. Semua orang yang hidup di muka bumi ini disebut sebagai pemimpin. Karenanya mereka semua memikul tanggung jawab, sekurang-kurangnya terhadap dirinya sendiri.

Seorang suami bertanggung jawab atas istrinya, seorang bapak bertangung jawab kepada anak-anaknya, seorang majikan betanggung jawab kepada pekerjanya, seorang atasan bertanggung jawab kepada bawahannya, dan seorang presiden, bupati, gubernur bertanggung jawab kepada rakyat yang dipimpinnya, dst.

3- Dengan demikian, setiap orang Islam harus berusaha untuk menjadi pemimpin yang paling baik dalam segala tindakannya.

Tema hadist yang berkaitan dengan Al Qur’an:

– Pemimpin harus berbuat adil dan ihsan (kebajikan).

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُون

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat ihsan (kebajikan), memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepada kalian agar kalian dapat mengambil pelajaran. [QS. al-Nahl ayat 90]

Inilah gambaran tanggungjawab seorang yang diberikan amanat terhadap umat islam. Tentunya, poin-poin di atas hanyalah gambaran global dari tugas seorang imam, karena pada dasarnya tugas seorang imam itu bisa berkembang sesuai dengan perkembangan zaman.

Besarnya tanggungjawab yang dipikul berbanding lurus dengan balasan yang Allah siapkan. Sebaliknya, jika seorang pimpinan menyia-nyiakan amanat yang telah diberikan kepadanya, maka dia akan menanggung akibatnya di akhirat kelak. Wallahu a’lam bissowab.***