BPPTKG: Ada Peningkatan Konsentrasi Gas CO2 di Gunung Merapi, Jawa Tengah

BPPTKG: Ada Peningkatan Konsentrasi Gas CO2 di Gunung Merapi, Jawa Tengah
GUNUNG MERAPI JAWA TENGAH ft Istimewa
JAWA TENGAH, banten.indeksnews.com –BPPTKG Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi melaporkan peningkatan konsentrasi gas CO2 di Gunung Merapi, Jawa Tengah, Senin (01/12/20). Informasi peningkatan konsentrasi gas CO2 di Gunung Merapi adalah tanda lain dari peningkatan aktivitas vulkanik di gunung yang kini berstatus Siaga tersebut.

“Konsentrasi gas CO2 mengalami peningkatan menjadi 675 ppm (bagian per juta),” kata Hanik Humaida Kepala BPPTKG dalam keterangan tertulis.

Hanik mengatakan pemantauan BPPTKG gas itu dilakukan dari Stasiun VOGAMOS (Volcanic Gas Monitoring System). Lokasi pengukuran di Kubah Lava 1953 dengan interval pengambilan data setiap tiga jam.

Data yang ada menunjukkan, sepanjang 1-20 November 2020, konsentrasi CO2 cukup konstan, yaitu rata-rata 525 ppm, hingga akhir November menunjukkan peningkatan hingga nilai maksimal sebesar 675 ppm.

“Pemantauan kami, menunjukkan proses desakan magma menuju permukaan,” papar Hanik.

Selain konsentrasi gas, jelas Hanik, indikator terjadinya peningkatan aktivitas vulkanik adalah kegempaan internal di tubuh gunung itu yang meningkat mencapai 400 kali per hari.

Secara keseluruhan, lanjut dia intensitas kegempaan sepanjang November juga tercatat 2-5 kali lebih tinggi dibandingkan Oktober bulan lalu.

Rinciannya, kegempaan Gunung Merapi tercatat 1.069 kali gempa vulkanik dangkal (VTB), 9.201 kali gempa fase banyak (MP), 29 kali gempa low frekuensi (LF), 1.687 kali gempa guguran (RF), 1.783 kali gempa hembusan (DG), dan 39 kali gempa Tektonik (TT).

Analisis morfologi area puncak berdasarkan foto dari sektor tenggara pada November juga menunjukkan adanya perubahan morfologi sekitar puncak, yakni runtuhnya sebagian kubah Lava1954.

Sedangkan berdasarkan analisis foto drone pada 16 November 2020, teramati adanya perubahan morfologi dinding kawah akibat runtuhnya lava lama, terutama Lava1997 (Selatan), Lava1998, Lava1888 (Barat) dan Lava1954 (Utara).

Selain itu, ia mengatakan, deformasi Gunung Merapi yang diukur menggunakan electronic distance measurement (EDM) pada November menunjukkan adanya laju pemendekan jarak sebesar 11 cm/hari.

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi mempertahankan status Gunung Merapi pada Level III atau Siaga. Potensi bahaya akibat erupsi Merapi diperkirakan maksimal dalam radius lima kilometer dari puncak.

Exit mobile version