Kapolres Pamekasan selalu bungkam, Dinilai Perburuk Citra Polri

76
Kapolres Pamekasan selalu bungkam, Dinilai Perburuk Citra Polri
Ketua PWI Pamekasan Abd. Aziz. ft istw
PAMEKASAN, banten.indeksnews.com – Kapolres Pamekasan selalu diam .Citra Kepolisian Resor (Polres) Pamekasan mulai dipertaruhkan. Hal itu tidak lepas dari berbagai kasus hukum yang gagal diungkap korps bhayangkara di wilayah hukum setempat.

Tercatat, ada sejumlah kasus besar yang menarik perhatian publik gagal diungkap institusi yang saat ini dipimpin oleh Kapolres Pamekasan AKBP Apip Ginanjar tersebut. Sebut saja, kasus pelecehan Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (NU) Pamekasan, kasus kekerasan terhadap insan pers, dan sejumlah kasus lainnya.

Terbaru, Polres  dan Kapolres Pamekasan kecolongan saat rumah ibu Menko Polhukam Mahfud MD, digruduk puluhan massa usai menggelar aksi unjuk rasa di Mapolres setempat.

Rentetan catatan minor kepemimpinan Apip Ginanjar di wilayah hukum Polres Pamekasan itu, menuai kritik dari berbagai kalangan. Salah satunya dari Ketua PWI Pamekasan Abd. Aziz.

Pihaknya menilai, pilihan Kapolres AKBP Apip Ginanjar untuk bungkam dengan tidak memberikan keterangan resmi terkait kasus penggererudukan rumah orang tua Menko Polhukam Mahfud MD di Jalan Dirgahayu Pamekasan itu, berpotensi menimbilkan tafsir dan persepsi publik yang keliru.

Pertama, bungkamnya Kapolres mengesankan institusi Polri membiarkan aksi persekusi itu terjadi. Alasannya, karena sebelum mendatangi rumah orang tua Mahfud MD, massa terlebih dahulu mendatangi Mapolres Pamekasan menuntut agar pimpinan FPI Rizieq Syihab di Jakarta tidak diperiksa.

Pada konteks ini lanjut Aziz, publik bisa mempersepsikan bahwa Polres sebenarnya sudah mengetahui potensi tindakan persekusi tersebut, akan tetapi hal itu malah dibiarkan.

Kedua, dengan cara bungkam, seolah memberikan sinyal bahwa institusi Polres Pamekasan kecolongan.

“Klaim Polda Jatim dalam rilis di Surabaya tidak kecolongan. Kalau tidak kecolongan, harusnya (penggerudukan, red) tidak akan terjadi,” kata Aziz melalui keterangan persnya, Jumat (4/12/2020).

BACA JUGA:  Sukabumi Catat Ada 168 Warga Telah Meninggal Akibat Covid-19

Ketiga, sikap bungkam Kapolres Pamekasan atas kasus penggerudukan rumah orang tua Mahfud MD pada 1 Desember 2020 itu, seolah menyampaikan kepada publik bahwa pimpinan institusi polisi di Kabupaten Pamekasan ini acuh dan cuek pada adab dan etika warga Madura yang sangat menghormati orang tua.

“Prinsip dan etika orang Madura dalam hal relasi sosial adalah ‘bhapa’ babhuk, guru, ratho,” lanjutnya.

Keempat, sikap diam Kapolres Pamekasan terkait kasus ini, menimbulkan persepsi korelatif pada publik dengan kasus-kasus sebelumnya yang ditangani dan dilaporkan masyarakat ke institusi ini, yang hingga kini belum tuntas. Antara lain, kasus kekerasan pada wartawan, laporan kasus penghinaan pada ketua NU di media sosial dan beberapa kasus lainnya.

“Yang kelima, dengan memilih bungkam ini, kapolres sejatinya sama dengan menciderai sistem demokrasi kita, yang menempatkan pers sebagai pilar keempat,” kata Aziz.

Lebih lanjut alumni magister pascasarjana pada program studi Media dan Komunikasi Unair Surabaya ini menyatakan, bangunan iklim komunikatif tersumbat sebagaimana diterapkan Kapolres Pamekasan sebaiknya segera dihentikan, karena berpotensi menimbulkan cara pandang dan persepsi publik yang kurang baik.

“Cita ideal instutusi negara saya kira tidak seperti yang diterapkan institusi Polres Pamekasan di bawah kepemimpinan Apip Ginanjar saat inj. Pemimpin polres lain di Madura jni, seperti Sampang, Bangkalan dan Sumenep bagus kok,” tegasnya.

Untuk diketahui, sejak insiden penggurudukan rumah orang tua Menko Polhukam Mahfud MD terjadi, hingga kini Kapolres Pamekasan belum memberikan keterangan resmi. Bahkan, saat hendak dikonfirmasi oleh sejumlah media, Kapolres Pamekasan tidak sekalipun merespon upaya konfirmasi insan pers tersebut.