Gagasan Pemerataan Penuh Omong Kosong Lewat Digitalisasi Birokrasi

61
Gagasan Pemerataan Penuh Omong Kosong Lewat Digitalisasi Birokrasi
Debat Publik Pilkada TANGSEL 2020 fT iSTW
TANGSEL, banten.indeksnews.com – Gagasan Pemerataan .Pada sesi kedua debat kandidat calon walikota-wakil walikota Tangerang Selatan yang diselenggarakan oleh KPUD Kota Tangerang Selatan bersama Metro TV pada Kamis (3/11), terlihat jelas bagaimana visi, misi, serta program kerja para pasangan calon yang hari ini melingkar bersama dalam kontestasi politik elektoral.

Pada sesi debat tersebut, terlihat dengan jelas adanya kompetisi yang mulai memanas. Hal ini dapat kita lihat dari pemaparan gagasan masing-masing calon: mereka semua berlomba-lomba memaparkan gagasan pemerataan semenarik mungkin, semata-mata agar dapat menarik hati masyarakat lewat kesempatan pemaparan visi, misi serta program keja.

Gagasan pemerataan para pasangan calon tentu beragam. Ada yang berusaha untuk terus klaim keberhasilan kepemimpinan Pemerintah Kota Tangerang Selatan periode sebelumnya, ada yang benar-benar berusaha untuk menyajikan gagasan segar, dan yang terakhir—yang paling menarik untuk dibahas—yaitu terdapat pasangan calon yang seolah-olah memberikan pembaharuan program kerja pada bidang digitalisasi birokrasi yang pada penerapannya seringkali hanya menjadi website/aplikasi formalitas penggugur kewajiban.

Dalam hal ini, pasangan calon nomor urut 02 jelas terlihat bahwa mereka sangat concern pada isu modernisasi dan digitalisasi. Pada debat tersebut, pasangan calon yang membawa slogan besar bernama Pemerataan Kota Tangerang Selatan (Permata Tangsel) ini menyebutkan bahwa agar kita semua dapat sama-sama mengubah Kota Tangerang Selatan, dibutuhkan semangat reformasi birokrasi yang diimplementasikan melalui pembangunan sistem informasi big data yang berisikan kebutuhan masyarakat Tangerang Selatan. Sebuah omong kosong yang telah ada pada periode sebelumnya—dan gagal.

Anggapan ini menjadi menarik untuk kita bahas bersama sebab pasangan Azizah-Ruhamaben terkesan tidak memiliki gagasan yang benar-benar baru demi Tangerang Selatan yang lebih baik, atau lebih tepatnya bertolak belakang dengan tagline kampanye mereka yang terpampang di tiap-tiap baliho pinggir jalan:

BACA JUGA:  Honda Gyro X 2021, Skuter Utilitas Roda 3

Azizah-Ruhamaben “harapan baru” Kota Tangerang Selatan. Memangnya, apanya yang baru dari digitalisasi birokrasi?
Tentunya tim pemenangan pasangan calon nomor urut 02, terlebih untuk calonnya, agar perlu menggali lebih dalam lagi soal narasi apa yang ingin disampaikan ke publik khalayak.

Sebab digitalisasi birokrasi berbasis website dan aplikasi telah lama beredar dan berjalan tanpa dampak partisipasi publik Tangerang Selatan yang naik secara signifikan. Kegagalan program ini harusnya menjadi evaluasi bersama, bukan malah diteruskan dengan takaran keberhasilan yang masih belum jelas arahanya.

Tercatat, Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) Kota Tangerang Selatan yang berhasil mendapatkan Predikat Baik dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi nyatanya mandek pada penerapannya.

Hal ini mengindikasikan adanya kontradiksi antar evaluasi tahun 2018 dengan fakta di lapangan. Aplikasi Siaran Tangsel misalnya, aplikasi yang memungkinkan masyarakat melakukan pengaduan terhadap kinerja pelayanan publik itu masih jarang sekali ditanggapi oleh birokrat yang bertugas melayani. Terbatasnya akses timbal balik aspirasi masyarakat inilah yang membuat aplikasi semacam itu menjadi sesuatu yang pasti usang, terlebih juga karena faktor masyarakat Tangerang Selatan yang rasanya masih awam dengan dunia internet, website, dan aplikasi—efek dari pendidikan yang tidak merata.

Pada debat tersebut, pasangan calon nomor urut 02 juga memaparkan bahwa pelayanan publik pada dunia modern hari ini harus berlandaskan IT, termasuk Kota Tangerang Selatan yang ditargetkan menjadi kota kelas dunia. Tentu hal ini menjadi pertanyaan besar: bagaimana bisa pelayanan birokrasi Tangerang Selatan berjalan berlandaskan IT dan internet jikalau kualitas ASN-nya saja masih malas untuk sekedar menanggapi keluhan masyarakat lewat aplikasi yang diluncurkan?

Padahal, masalah reformasi birokrasi hanya dapat terealiasi jika kualitas SDM Kota Tangerang Selatan sudah mumpuni, dan hal ini dapat diwujudkan lewat reformasi sektor pendidikan Kota Tangerang Selatan yang kian carut marut. Bukan lewat cara sederhana seperti yang disampaikan oleh pasangan calon Azizah-Ruhamaben: SDM Kota Tangerang Selatan akan jauh lebih mumpuni jika dipimpin oleh pemimpin yang tidak punya beban masa lalu.

BACA JUGA:  Ratusan ASN Kota Sukabumi, Ikuti Vaksinasi Covid – 19

Jawaban tersebut sangat membahayakan, sebab, selain salah sambung, jawaban normatif tersebut malah menjauhkan masyarakat dari realitas permasalahan yang terjadi di Tangerang Selatan.

Artikel ini ditulis oleh tim riset Sisi Lain Tangsel.