Harapan Kota Kelas Dunia yang Jauh dari Angan

120
Harapan Kota Kelas Dunia yang Jauh dari Angan
Pasangan walikota dan Wakil Walikota Tangsel No 2 Azizah dan Ruhamaben
TANGSEL, banten.indeksnews.com- Harapan kota kelas dunia waah apa yang terbesit dalam kepala kita ketika berbicara soal kelas dunia? Pasti yang tergambarkan dalam benak adalah kota-kota beken Eropa seperti Berlin, London, Amsterdam dan masih banyak yang lainnya. Sebuah gambaran kota modern yang timpang rasanya jika kita semua mau kembali melirik realitas keadaan Kota Tangerang Selatan.

Kota Tangerang Selatan yang sebentar lagi akan menghadapi pergantian kepemimpinan melalui pilkada serentak yang digelar KPU RI tentunya punya ambisi dengan harapan akan datangnya perbaikan-perbaikan pada semua sektor kehidupan—atau setidaknya harapan itu dimunculkan oleh pasangan calon yang saling berkontestasi pada pagelaran pemilukada Kota Tangerang Selatan 2020 Ada wacana tentang harapan kota kelas dunia.

Yap, benar saja. Terdapat salah satu pasangan calon yang tidak henti membawa narasi perubahan menuju harapan kota kelas dunia yang tercantum lewat visi-misi maupun lewat penyampaian berbagai pidato kampanye yang telah dilakukan. Ialah pasangan calon Azizah-Ruhamaben yang kerap membawa narasi perubahan glamor walaupun tidak jelas indikator perubahannya.

Dalam melihat narasi kota kelas dunia ini, tentunya kami menjadi sangat tertarik sehingga memutuskan untuk mengikuti perkembangan visi-misi dan program kerja pasangan calon nomor urut 02 serta menganalisanya secara mendalam: apakah benar harapan Tangerang Selatan untuk bisa naik tingkat menjadi kota kelas dunia dapat terwujud?

Hal ini sedikit banyak terjawab pada debat kandidat yang digelar oleh KPUD Kota Tangerang Selatan sebagai salah satu rangkaian pemilukada serentak 2020. Pada sesi debat kali ini, pasangan calon nomor urut 02 ini kembali menyampaikan gagasannya soal Kota Tangerang Selatan yang berpotensi naik kelas menjadi kota kelas dunia.

Mendengar narasi semacam ini, kami yakin bahwa banyak dari masyarakat luas yang tentunya tertarik sekaligus bertanya-tanya pada waktu yang bersamaan, “bagaimana caranya?”.

BACA JUGA:  OJK Resmikan Dua Bank Wakaf Mikro di Surakarta

Beruntungnya, isu ini juga menjadi perhatian para pakar sehingga turut disampaikan lewat beberapa pertanyaan oleh para panelis debat malam itu. Para panelis bertanya soal apa yang dimaksud dengan kota kelas dunia, bagaimana strategi Azizah-Ruhamaben agar gagasan tersebut dapat terealisasi, serta tidak luput menanyakan apa indikator keberhasilannya.

Sayangnya, pasangan calon ini menjawab pertanyaan brilian tersebut dengan cara yang sangat bertele-tele dan tidak lugas.

Terdapat keraguan yang terpancar dari raut wajah Azizah-Ruhamaben saat menjawab pertanyaan tersebut. Hal ini dapat dilihat dari berbagai jawaban yang ngalor ngidul—bukti bahwa gagasan tersebut sama sekali tidak terukur.

Pertama, Azizah-Ruhamaben gagal mendefinisikan gagasan kota kelas dunia yang dibawanya. Kelas dunia yang coba dijelaskan pasangan tersebut adalah reformasi budaya masyarakat Kota Tangerang Selatan. Menurutnya, masyarakat hari ini harus santun, disipilin, dan memiliki pola pikir think globally-act locally—tanpa menyentuh strategi pembangunan infrastruktur kelas dunia seperti apa yang ada pada kepala masyarakat seperti gedung pencakar langit, sungai yang bersih, sekolah yang layak, jalanan bebas macet, udara bebas polusi, serta taman yang rindang.

Kedua, mereka juga menjabarkan dengan lugas bahwa kota kelas dunia haruslah kota yang berisikan sumber daya manusia bersaing global. Pertanyaannya adalah, bagaimana cara mencapai SDM berdaya saing unggul jikalau masih terdapat begitu banyak problema pada sektor pendidikan? Mulai dari ketimpangan jumlah sekolah negeri-swasta, persebaran sekolah negeri yang tidak merata, minat membaca yang rendah, ketimpangan jumlah peserta didik yang semakin turun pada jenjangnya, sampai permasalahan pemungutan liar yang masih terjadi pada dunia pendidikan.

Berbagai permasalahan tersebut tidak tersampaikan pada sesi debat kandidat yang disiarkan oleh salah satu stasiun televisi mainstream, sebab Azizah-Ruhamaben memang tidak menyiapkan strategi apapun untuk dapat memajukan kualitas SDM Kota Tangerang Selatan selain narasi perubahan-digitalisasi yang tidak jelas arahnya.

BACA JUGA:  Pernikahan Anda Bisa Terancam Perceraian, Apa Yang Harus Dilakukan?

Ketiga, dan menjadi yang terakhir ialah pertanyaan terkait indikator keberhasilan kota kelas dunia yang bahkan tidak dijawab sama sekali oleh Azizah-Ruhamaben. Dari sini kita dapat melihat bahwa narasi perubahan yang disampaikan hanyalah narasi usang tanpa strategi.

Berbagai permasalahan yang terjadi di Kota Tangerang Selatan menjadi seolah tidak terlihat, diukur dari narasi yang keluar soal “kota kelas dunia”. Sebab, narasi mewah tersebut menanggalkan sejuta permasalahan Kota Tangerang Selatan yang sejatinya menjadi penghambat jalan menuju perubahan itu sendiri. Ketimpangan pendidikan, ekonomi, permasalahan kesehatan, dan korupsi seharusnya menjadi prioritas paling utama yang harus segera diselesaikan.

Karena ketidakpuasan yang didasari oleh analisa di atas, kami kembali berhitung ulang soal siapa yang sebenarnya layak untuk menjadi pemimpin Kota Tangerang Selatan periode ke depan. Tentunya rasionalitas pilihan berlandaskan isu, strategi, serta gagasan para pasangan calon menjadi variabel-variabel yang turut menentukan.

Pasangan calon nomor urut 01 Muhammad Saraswati sebagai pasangan paling relevan Team Sisi Lain Tangsel Ft ISTW
Pasangan calon nomor urut 01, Muhammad-Saraswati, sebagai pasangan paling relevan Team Sisi Lain Tangsel Ft ISTW

Dilihat dari faktor sosiologis, pasangan calon nomor urut 03, Benyamin-Pilarsaga, menjadi pasangan calon petahana yang paling tidak memungkinkan untuk dipilih. Sebab, Pilar masih merupakan bagian besar dari keluarga dinasti elit Banten yang telah terbukti melakukan banyak tindak pidana korupsi di Banten. Dari faktor pengalaman, sosok Pilar malah turut menenggelamkan harapan perubahan dikarenakan Pilar yang nihil pengalaman politik.

Hal tersebut juga kami rasa berlaku untuk pasangan calon nomor urut 02 yang juga minim pengalaman politik—walaupun hal ini sampai menjadi jargon “pemimpin tanpa beban masa lalu”.

Berdasarkan analisis ini, akhirnya di penghujung masa kampanye pilkada Kota Tangerang Selatan 2020, kami tim Sisi Lain Tangsel, menyatakan dukungan kami pada pasangan calon nomor urut 01, Muhammad-Saraswati, sebagai pasangan paling relevan dan seimbang untuk dapat memimpin Kota Tangerang Selatan selama 1 periode ke depan.

BACA JUGA:  Polda Banten Konsisten Berantas Mafia Tanah Yang Sasar Rakyat Kecil, IPW mengapresiasi

Artikel ini ditulis oleh tim riset Sisi Lain Tangsel.