Carilah Harta Kekayaan Dengan Cara Halal

253
Carilah Harta Kekayaan Dengan Cara Halal
Ketahuilah bahwa yang terpenting dalam urusan harta kekayaan dan rizki bukanlah pada sedikit atau banyaknya. Yang terpenting adalah keberkahannya. Tidak ada kebaikan pada harta yang banyak jika tidak berkah. Dan beragam kebaikan akan muncul pada harta yang disertai keberkahan di dalamnya.

Maka seorang mukmin, yang dicari dalam seluruh sisi kehidupannya di dunia ini adalah keberhakannya. Termasuk dalam urusan harta. Karena banyaknya harta kekayaan tidak menjamin kebahagian dan kecukupan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta, kekayaan itu adalah kekayaan jiwa.” Muttafaq ‘alaih.

Bahkan, Allah menyebutkan, bahwa ada diantara manusia yang justru Allah siksa dengan harta kekayaan nya.

Rasulullah SAW bersabda:

عن أنس رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عن أمّ سُلَيم أَنَّها قَالتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَنَسٌ خَادِمُكَ ادْعُ اللَّهَ لَه،ُ قَالَ: «اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ، وَبَارِكْ لَهُ فِيمَا أَعْطَيْتَهُ»

 Dari Anas bin Malik semoga Allah  meridhoinya,  dari Ummu Sulaaim bahwasanya ia berkata, Ya,Rasulullah bahwa Anas pelayanmu, mohonkan kepada Allah untuknya; Beliau berdoa:

“Ya Allah, perbanyaklah harta dan keturunannya, dan berkahilah ia pada apa yang Engkau karuniakan kepadanya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Pelajaran yang terdapat di dalam hadist

1- Ketahuilah bahwa yang terpenting dalam urusan harta dan rizki bukanlah pada sedikit atau banyaknya. Yang terpenting adalah keberkahannya.

2- Tidak ada kebaikan pada harta yang banyak jika tidak berkah. Dan beragam kebaikan akan muncul pada harta yang disertai keberkahan di dalamnya.

3- Arti dari keberkahan,

 البركة هي ثبوت الخير الإلهي في الشيء

 “Barakah adalah tetapnya kebaikan ilahi pada sesuatu.”

4- Maka seorang mukmin, yang dicari dalam seluruh sisi kehidupannya di dunia ini adalah keberhakannya. Termasuk dalam urusan harta. Karena banyaknya harta tidak menjamin kebahagian dan kecukupan.

5- Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta, kekayaan itu adalah kekayaan jiwa.” Muttafaq ‘alaih.

 Tema hadist yang berkaitan dengan Al qur’an :

 1- Allah menyebutkan, bahwa ada diantara manusia yang justru Allah siksa dengan harta kekayaannya.

  فَلَا تُعْجِبْكَ أَمْوَالُهُمْ وَلَا أَوْلَادُهُمْ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ بِهَا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَتَزْهَقَ أَنْفُسُهُمْ وَهُمْ كَافِرُونَ

 “Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam Keadaan kafir.” (QS. At Taubah: 55)

2- Banyaknya harta kekayaan juga bisa jadi termasuk istidraj

وَٱلَّذِینَ كَذَّبُوا۟ بِـَٔایَـٰتِنَا سَنَسۡتَدۡرِجُهُم مِّنۡ حَیۡثُ لَا یَعۡلَمُونَ وَأُمۡلِی لَهُمۡۚ إِنَّ كَیۡدِی مَتِینٌ

“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) (Istidraj), dengan cara yang tidak mereka ketahui. dan aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku Amat teguh.” (QS. Al A’râf: 182-183)

3- Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika engkau melihat Allah memberikan kepada seorang hamba (kenikmatan) dunia yang disukainya padahal ia suka bermaksiat, maka itu adalah istidraj.” Kemudian beliau membaca firman Allah,

 فَلَمَّا نَسُوا۟ مَا ذُكِّرُوا۟ بِهِۦ فَتَحۡنَا عَلَیۡهِمۡ أَبۡوَ ٰبَ كُلِّ شَیۡءٍ حَتَّىٰۤ إِذَا فَرِحُوا۟ بِمَاۤ أُوتُوۤا۟ أَخَذۡنَـٰهُم بَغۡتَةࣰ فَإِذَا هُم مُّبۡلِسُونَ

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al An’âm: 44)

Mencari Harta Kekayaan dengan Aturan Allah

Allah berfriman (yang artinya),

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatNya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” (QS. Shad: 29)

Tujuan Allah menurunkan syariat-Nya adalah:

1. Untuk menguji manusia, siapa diantara mereka yang taat dan siapa diantara mereka yang durhaka. Yang taat kepada syariat, hukum dan aturan Allah, maka ia akan dibalas dengan kebaikan di dunia dan akhirat.

2. Untuk menjadi rahmat bagi umat manusia. Sehingga dengan melaksanakan syariatnya, manusia akan hidup dalam keberkahan dan rahmat dari Allah.

Oleh karena itu, diantara cara agar harta kekayaan yang kita miliki mendatangkan keberkahan dan kebaikan bagi kita, hendaknya kita menjaga aturan Allah dalam mencarinya. Carilah harta kekayaan hanya yang Allah halalkan dalam Al Qur`an dan Sunnah.

Harta kekayaan yang Berkah adalah Harta yang digunakan Untuk Ketaatan

Buah dari keberkahan harta kekayaan yang paling besar adalah ketaatan kepada Allah. Jika dengan semakin banyak harta kekayaan yang dimiliki seorang hamba ia kian taat dan rajin beribadah kepada Allah, kian indah akhlaknya, kian semangat beramal shaleh, maka itu adalah tanda hartanya barakah. Allah berfirman (yang artinya),

“Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya aku Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Muminun: 51)

Ayat ini menunjukkan bahwa sangat erat hubungan antara mengkonsumsi makanan yang baik dengan amal shaleh. Jasad akan bergairah untuk melakukan amal shaleh jika jasad itu tumbuh dan berkembang dari makanan yang halal.

Kebaikan Harta Kekayaan

Allah menyebut harta dengan al Khair.

“Dan Sesungguhnya Dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta.” (QS. Al Adhiyat: 8)

كُتِبَ عَلَيْكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ إِنْ تَرَكَ خَيْرًا الْوَصِيَّةُ لِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ بِالْمَعْرُوفِ حَقًّا عَلَى الْمُتَّقِينَ

“Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, Berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma’ruf[112], (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Baqarah: 180)

Allah juga menyebutnya dengan ‘Qiyaamaa’ yang artinya ‘pokok kehidupan’

وَلَا تُؤْتُوا السُّفَهَاءَ أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ قِيَامًا وَارْزُقُوهُمْ فِيهَا وَاكْسُوهُمْ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلًا مَعْرُوفًا

“Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik.” (QS. An Nisa: 5)

Banyak ibadah yang tidak bisa dilakukan kecuali dengan harta.

عن أَبي هريرةرضي الله عنه – : أنَّ فُقَراءَ المُهَاجِرينَ أتَوْا رسول اللهصلى الله عليه وسلم، فَقَالُوا : ذَهَبَ أهْلُ الدُّثُورِ بِالدَّرَجَاتِ العُلَى ، وَالنَّعِيم المُقيم ، فَقَالَ : (( وَمَا ذَاك ؟)) فَقَالوا : يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّي ، وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ ، وَيَتَصَدَّقُونَ وَلاَ نَتَصَدَّقُ ، وَيَعْتِقُونَ وَلاَ نَعْتِقُ ، فَقَالَ رسول اللهصلى الله عليه وسلم – : (( أفَلا أُعَلِّمُكُمْ شَيْئاً تُدْرِكُونَ بِهِ مَنْ سَبَقَكُمْ ،

وَتَسْبِقُونَ بِهِ مَنْ بَعْدَكُمْ ، وَلاَ يَكُونُ أحَدٌ أفْضَلَ مِنْكُمْ إِلاَّ مَنْ صَنَعَ مِثْلَ مَا صَنَعْتُمْ ؟ )) قالوا : بَلَى يَا رسول الله ، قَالَ : (( تُسَبِّحُونَ وَتُكَبِّرُونَ وَتَحْمِدُونَ ، دُبُرَ كُلِّ صَلاَةٍ ثَلاثاً وَثَلاثِينَ مَرَّةً )) فَرَجَعَ فُقَرَاء المُهَاجِرِينَ إِلَى رسول اللهصلى الله عليه وسلم، فقالوا : سَمِعَ إخْوَانُنَا أهلُ الأمْوالِ بِمَا فَعَلْنَا ، فَفَعَلُوا مِثلَهُ ؟ فَقَالَ رسول اللهصلى الله عليه وسلم – : (( ذَلِكَ فَضْلُ اللهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ ))

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, “Orang-orang miskin dari kalangan orang-orang muhajirin datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam. Mereka berkata, “Orang-orang yang berharta telah mendapatkan derajat yang tinggi dan kenikmatan yang abadi.” Beliau bertanya, “Bagaimana itu?” Mereka menjelaskan,

“Mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, namun mereka mampu bersedekah dan kami tidak mampu bersedekah, mereka mampu memerdekakan budak sahaya sementara kami tidak mampu melakukannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah kalian mau aku ajarkan sesuatu yang dengannya kamu dapat menandingi orang-orang yang telah melampaui kalian dan kalian mampu melampaui dengannya orang-orang setelah kalian, dan tidak ada yang lebih utama dari kalian kecuali orang yang melakukan seperti yang kalian lakukan.?”

Mereka menjawab, “Iya wahai Rasulullah.”

Beliau bersabda, “Kalian mengucapkan subhanallah, Allahu akbar dan Alhamdulillah setiap selesai shalat tiga puluh tiga kali.”

Setelah beberapa lama, orang-orang miskin dari kalangan muhajirin itu datang lagi kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengatakan, “Wahai Rasulullah, saudara-saudara kami dari kalangan orang kaya itu mendengar apa yang kami lakukan dan mereka pun melakukan apa yang kami lakukan.”

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Itu adalah karunia Allah yang Dia karuniakan kepada siapa saja yang Dia kehendaki.” (HR Muslim)

Namun kebaikan harta kekayaan diatas tidak akan terwujud manakala harta tidak berada dalam kendali orang-orang shaleh. Yang terjadi justru sebaliknya, harta akan berubah menjadi keburukan, tatkala dipegang oleh orang-orang buruk. Oleh karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

نعم المال الصالح للرجل الصالح

“Sebaik-baik harta kekayaan adalah harta yang berada di tangan orang shaleh.” (HR Ahmad)

Wallahu A’lam.