Iuran BPJS Kesehatan naik Rp9.500, Tahun Depan

38
Iuran BPJS Kesehatan naik Rp9.500, Tahun Depan
PESERTA BPJS KESEHATAN ft ILUSTRASI
JAKARTA, banten.indeksnews.com- Iuran BPJS  kesehatan Pemerintah melakukan penyesuaian kepada peserta Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) atau peserta mandiri dan Bukan Pekerja (BP) kelas 3 di tahun 2021.

Ketentuan ini sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 64 Tahun 2020 yang mengatur penyesuaian besaran iuran BPJS kesehatan peserta Program JKN-KIS

Kenaikan iuran BPJS Kesehatan pada 2021 sebesar Rp9.500 di mana pada 2020 peserta hanya membayar Rp25.500. Sementara pada 2021, peserta harus membayar iuran sebesar Rp35.000.

Adapun besaran iuran untuk kelas 3 masih sama dengan tahun 2020, yakni sebesar Rp42.000 per bulan. Sisanya pemerintah tetap memberikan bantuan iuran.

Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Askolani mengatakan, pengurangan bantuan iuran pemerintah kepada peserta BPJS Kesehatan Kelas III PBPU dan BP itu bertujuan untuk menyeimbangkan fiskal APBN 2021.

Keputusan itu dinilai sudah melalui berbagai pertimbangan yang matang.

”Sudah mempertimbangkan dengan dukungan pemerintah melalui APBN, menyesuaikan dengan kemampuan masyarakat, serta pengelolaan JKN yang lebih sustainable jangka panjang untuk memberikan perlindungan sosial pada masyarakat,” kata dia mengutip pasardana.

Sementara itu, Staf Khusus Menteri Keuangan, Yustinus Prastowo mengatakan, kenaikan iuran di tahun 2021 diikuti dengan komitmen pemerintah meningkatkan cakupan dan nilai dari perlindungan sosial.

“Jangan sampai kita hanya mempersoalkan kenaikan sekitar Rp9.500 tetapi lupa bahwa pemerintah telah memperluas cakupan bantuan sosial bagi masyarakat,” ujarnya dalam webinar, Selasa (22/12).

Menurutnya, benefit bansos lebih tinggi daripada kenaikan iuran Kesehatan pada peserta PBPU dan BP.

Alokasi perlindungan sosial dalam APBN tahun 2021 sebesar Rp408,8 triliun yang diprioritaskan untuk program keluarga harapan (PKH) 10 juta keluarga penerima manfaat (KPM), bansos tunai 9 juta KPM, kartu sembako 20 juta KPM, dan penerima bantuan iuran (PBI) JKN 96,8 juta jiwa.

BACA JUGA:  Budi Arie Setiadi: Berharap Desa di Gunung Kidul Jadi Inspirasi Bagi Desa Lainnya

“Pemerintah berkomitmen untuk terus memperhatikan aspek kesehatan dan bantuan BPJS untuk Covid-19 juga dialokasikan ada tambahan sebesar Rp4,11 triliun untuk warga yang mengalami atau positif Covid-19 itu ada alokasi tambahan,” katanya.

Di sisi lain, Kepala Pusat Kajian Antikorupsi Universitas Gajah Mada (UGM), Oce Madril mengungkapkan, pemerintah dan BPJS Kesehatan harus mengimplementasikan hal-hal yang diatur dalam Perpres 64/2020 ini.

Madril mengungkapkan, dalam Perpres ini tentu sudah memperhatikan 2 asas utama yaitu asas proporsionalitas dan asas kemanfaatan.

“Asas proporsional, bahwa iuran JKN ini harus memperhatikan kemampuan anggaran dan finansial negara. Sementara asas kemanfaatan, adanya kebijakan tersebut ada kemanfaatan bagi publik. Satu prinsip lagi yang telah diperhatikan dalam Perpres yaitu prinsip gotong royong, artinya ada kebersamaan antar peserta dalam menanggung pembiayaan jaminan kesehatan,” ujar Madril.