Keampuhan Gasing Tengkorak Untuk Menundukkan Hati Orang Yang Dicintai

223
Keampuhan Gasing Tengkorak Untuk Menundukkan Hati Orang Yang Dicintai
Cerita mistis gasing tengkorak atau gasiang tangkurak diambil dari budaya Minangkabau. Gasing tengkorak adalah praktik untuk mengganggu, menganiaya, dan menarik hati orang lain lewat bantuan jin yang pelaksanaannya dilakukan oleh dukun.

Praktik ini sangat terkenal sehingga dikisahkan dalam lagu berbahasa Minangkabau bertajuk Gasiang Tangkurak. Dalam lagu ini yang diceritakan adalah persoalan cinta yang ditolak sehingga orang yang kasihnya bertepuk sebelah tangan menggunakan gasing tengkorak untuk menundukkan hati orang yang dicintainya.

Indak kayu …, mak janjang dikapiang – tak ada kayu jenjang ku keping (belah)
Asakan dapek urang den cinto – asal dapat orang yang ku cinta
Tolong tangkurak namonyo gasiang – tolong tengkorak, namanya gasing
Namuah disuruah jo disarayo- mau disuruh dan diberi perintah

Gasiang batali jo kain kapan – gasing bertali dengan kain kapan
Di patang kamih malam jumahaik – di kamis petang, malam jumat
Gasiang tangkurak nan den nyanyikan – gasing tengkorak yang ku nyanyikan
Putuihnyo gasiang putuih makripaik – putus gasing putus makrifat

Lah manggabubu asok kumayan – mengebu asap kemenyan

Urang di dunia banyak kiramaik – orang di dunia banyak keramat
Tolong … tolong lah jihin si rajo hawa – tolong jin raja hawa

Gasiang tangkurak baoklah pasan – gasing tengkorak bawalah pesan

Jikok nyo lalok tolong jagokan – jika tidur tolong bangunkan
Jikok nyo tagak suruah bajalan – jika berdiri suruh berjalan
Di siko kini denai nantikan – disini sekarang aku nantikan

Tolonglah japuik, japuik tabaok – tolonglah jemput, jemput di bawa

Suruah nyo sujuik di kaki denai – suruh dia sujud di kakiku
Jikok tak namuah tanggang matonyo – jika tak mau tahan matanya (untuk tidur)
Tanggang salero bia nyo rasai – tahan selera (nafsu makan) biar dia tahu rasa

Datang sijundai bia nyo gilo – datang sijundai biar dia gila (sijundai- makhluk halus suruhan)

Siang jo malam, nyo caro denai – siang malam dengan cara saya
Baru … baru nyo sanang dek kiro-kiro – baru senang kira-kira (senang hati)

Itulah potongan lirik lagu dan terjemahan gasiang tangkurak (gasing tengkorak). Jika di dunia dukun ala Jawa dikenal Jaran Goyang, maka di ranah Minang ilmu pelet cinta yang paling sadis dikenal dengan gasiang tangkurak ; atau gasing tengkorak.

BACA JUGA:  Kapolri Listyo Launching Aplikasi Dumas Presisi, Dalam Rangka Wujudkan Transparansi

Gasing ini diberi 2 lobang ditengah. Diputar beberapa kali, lalu ditarik pada ujung ujungnya sehingga bagian gasing berputar terus menerus.

Lirik berikutnya menyebutkan gasing ini bertali kain kafan dan diputarkan pada Kamis petang yang segera dijemput malam Jumat. Mantra dinyanyikan, kemenyan dibakar, dan gasing tengkorak berputar diiringi mantra-mantra, bekerja secara gaib agar orang yang dicintai, hatinya menjadi tunduk.

Cerita cara membuat gasing tengkorak ini juga banyak versinya. Pertama, dibutuhkan tengkorak wanita yang meninggal ketika melahirkan. Ada juga yang menyebutkan diambil dari tengkorak seorang anak yang sengaja dibunuh.

Versi lain, tengkorak diambil dari seseorang dengan ciri tertentu. sang Dukun akan menggali kuburan, dan mengambil tengkorak. Bahan yang digunakan adalah tengkorak bagian dahi.

Ilmu pelet cinta ini dimintakan seorang laki-laki yang tidak terima cintanya ditolak. Biasanya sang dukun akan meminta beberapa persyaratan tertentu.

Dari cerita yang beredar, uniknya sang dukun tidak langsung menerima bayaran. Sang dukun akan meminta sejumlah emas sebagai ‘gadaian’. Jika sukses, maka emas tersebut akan menjadi milik dukun. Pabila gagal, maka emas kembali kepada ‘si peminta’, sang dukun tidak akan mendapatkan apa-apa.

Selain gasiang tangkurak, juga ada jenis gasiang lain. Gasiang ini dinamakan gasiang limau puruik. Pembuatannya dari limau puruik / sejenis asam. Limau tersebut dihimpit di antara dua batu besar hingga gepeng. Kemudian, lobangi ditengah seperti gasiang tengkorak.

Jika gasing tengkorak mengunakan tali kapan sebagai tali sumbu gasing, maka untuk gasiang limau puruik akan digunakan benang 7 warna atau disebut dengan pincono.

Praktik ini menurut Marzam dalam Basirompak: Sebuah Transformasi Aktivitas Ritual Magis Menuju Seni Pertunjukkan (2002) adalah upacara ritual magis untuk menaklukkan hati seorang perempuan yang telah menghina seorang laki-laki. Balas dendam lintas gender yang mempergilirkan korban.

BACA JUGA:  LKN Lembaga Kajian Nawacita berkunjung ke Irjen Kemetrian Pertahanan RI

Mula-mula lelaki yang merasa jadi korban karena cintanya ditolak, kemudian lewat ritual ini perempuan menjadi korban karena ia dipaksa secara gaib untuk takluk kepada orang tidak dicintainya.

Sirompak (rompak) artinya mendobrak, rampok, mengambil dengan paksa batin seseorang sesuai dengan keinginan orang yang melakukannya dengan bantuan kekuatan gaib. Proses ritualnya dilakukan secara diam-diam agar tidak diketahui oleh orang lain. Salah satu media upacaranya adalah saluang sirompak yang difungsikan untuk mengiringi mantra-mantra yang didendangkan,” tulis Ediwar dkk. dalam Musik Tradisional Minangkabau (2017).

Sebelum melakukan upacara, tambah Marzam, orang yang meminta tolong kepada pawang atau dukun untuk melakukan ritual ini terlebih dulu mesti menyiapkan pelbagai sesaji berupa nasi kuning, bareh rondang (beras yang telah direndang), bungo panggia-panggia (bunga untuk memanggil makhluk halus), kemenyan, serta salah satu unsur yang ada pada diri perempuan yang dimaksud seperti rambut, kuku, bagian dari pakaian, foto, dan sebagainya.

“Dengan semua kelengkapan tersebut, pawang sirompak melaksanakan tugasnya,” tulis Marzam.

Seperti dalam lirik lagu Gasiang Tangkurak yang menyebut “Tolong, tolonglah jihin si rajo hawa (Tolong, tolonglah jin raja udara/angin)”, ritual ini menurut Ediwar dkk. dalam Musik Tradisional Minangkabau (2017) memang meminta kepada makhluk halus yang disebut rajo jin, rajo angin, mambang hitam, dan mambang putih untuk mendatangkan kekuatan gaib lewat mantra-mantra yag didendangkan yang disebut dendang sirompak.

Gasing tengkorak lahir dari tradisi lisan Minangkabau berupa mantra. Mantra, menurut Maryelliwati dan Wahyudi Rahmat dalam Sastra Minangkabau dan Penciptaan Sebuah Karya (2016) adalah puisi tertua dalam sastra rakyat Minangkabau.

Dalam tradisi lisan Minangkabau, gasing tengkorak lahir dari kisah masa lalu tentang seorang pemuda bernama Sibabau yang menderita penyakit kulit sehingga diusir penduduk dengan cara diasingkan di sebuah tempat yang bentuknya mirip seperti kandang.

Menurut Fitri Elia dan Imran T. Abdullah dalam “Sirompak: Satu Ragam Mantra dalam Tradisi Lisan Minangkabau” (Jurnal Humanika UGM Vol. 12 No. 2, April 2004), kisah ini terjadi di daerah yang disebut Pakandangan yang terletak di bagian timur Nagari Taeh Bukit, Kecamatan Guguk, Kabupaten 50 Kota.

BACA JUGA:  Polisi Berhasil Ringkus Andrew Ayer, Tahanan Interpol

Sekali waktu, seorang perempuan bernama Puti Losuang Batu menghina Sibabau hingga dia sakit hati. Ia kemudian berdendang sambil sesekali meniup siluang (sejenis seruling yang terbuat dari bambu dengan lima lobang melodi) untuk menghilangkan kesedihannya.

Hal ini, terang Fitri Elia dan Imran T. Abdullah, mengundang perhatian orang-orang yang lewat. Mereka kemudian mendatangi Sibabau untuk mendengarkan dendangnya. Oleh para dukun, dendang ini dijadikan sebagai mantra untuk memanggil makhluk halus yang digunakan untuk sijundai atau guna-guna.

Untuk mencapai tingkatan paling tinggi atau hasil optimal dalam mengguna-guna orang lain, persyaratan yang harus dipenuhinya antara lain gasing tengkorak (sebuah gasing yang terbuat dari tulang tengkorak kepala orang yang mati dibunuh namun sempat melakukan perlawanan sebelum kematiannya), bonang pincono (benang dengan warna tujuh rupa), telur, kemenyan, dan daun sirih.

“Setelah syarat-syarat tersebut dipenuhi, si dukun menuju tempat-tempat sepi dan jarang dikunjungi oleh karena dianggap keramat,” tulisnya.

Sementara versi lain yang ditulis oleh Ediwar dkk. dalam Musik Tradisional Minangkabau (2017), justru Sibabau yang mendatangi dukun untuk membalaskan dendam sakitnya terhadap Puti Losuang Batu.

Lewat ritual yang dilengkapi pelbagai persyaratan, Puti Losuang Batu akhirnya tergila-gila kepada Sibabau yang telah dihinanya.

Kisah cinta ini kemudian dipandang masyarakat sebagai kesenian sakti dan menakutkan. Para pemuda yang merasa terhina oleh gadis-gadis dan cintanya ditolak, kerap datang kepada pawang sirompak untuk membalaskan sakit hatinya dan untuk mewujudkan keinginannya.

“Cara-cara seperti yang dilakukan melalui sirompak itu, lama-kelamaan ditentang oleh masyarakat sebagai perbuatan yang merusak jiwa manusia dan merusak ketenangan masyarakat. Pemain sirompak disisihkan oleh masyarakat,” tulisnya.

Gasiang Tangkurak bukan satu-satunya lirik lagu daerah yang mengandung unsur mistis dan bertalian dengan guna-guna dalam budaya Minangkabau.

Nindie Cecioria mencatat dalam “Unsur-unsur Magis dalam Lirik Lagu Minangkabau” (Jurnal Wacana Etnik Vol. 2 No. 2, Oktober 2011), ada lagu lain yang menceritakan hal yang sama, di antaranya Sampelong, Limau Kiriman Urang, dan Kasiak Tujuh Muaro.***