Breathalyzer Pemindai Nafas dari UGM ini Mendeteksi Covid-19 hanya dalam 2 Menit

60
Breathalyzer Pemindai Nafas dari UGM ini Mendeteksi Covid-19 hanya dalam 2 Menit
Mesin uji ini dinamai GeNose, alat ini dikembangkan dan diujicobakan oleh Universitas Gajah Mada (UGM) di Yogyakarta ft istw
YOGYAKARTA, banten.indeksnews.com – Breathalyzer dimasa pandemi ini, UGM menemukan inovasi pengujian berupa pemindai nafas yang ternyata dapat mendeteksi keberadaan virus COVID-19 hanya dalam hitungan menit.

Mesin uji ini dinamai GeNose, alat Breathalyzer ini dikembangkan dan diujicobakan oleh Universitas Gajah Mada (UGM) di Yogyakarta. Para peneliti mengklaim bahwa tes ini tidak menimbulkan rasa sakit seperti uji biasanya (rapidtest & swab) dan disini hanya mengharuskan subjek untuk meniup ke dalam tabung untuk menyelesaikan pengujian.

Uji Covid-19 tersebut bekerja dengan menganalisis senyawa organik volatil yang terkait dengan komponen virus Covid-19. Peneliti pun mengklaim alat Breathalyzer ini memiliki tingkat akurasi 93 persen. Lebih baik lagi, pengembangnya mengklaim bahwa setiap tes diperkirakan hanya akan menelan biaya antara US $ 1,06 hingga US $ 1,77 (Sekitar Rp15.000 hingga Rp25.000), dengan hasil yang muncul dalam waktu dua menit.

Keterjangkauan (murahnya) dan kecepatan (durasi uji) di mana tes pemindai nafas ini dapat mendeteksi virus Covid-19 memberikan peluang emas bagi Indonesia untuk membalikkan nasib buruknya yang sejauh ini berjuang dalam menangani pandemi, dan masalah ketersediaan alat pengujian sebagai salah satu kendala utama.

Pengujian reaksi berantai polimerase (PCR), sebagai standar pengujian global saat ini yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dinilai mahal dan membutuhkan waktu lebih lama untuk memberikan hasil. Setiap tes PCR bisa menghabiskan biaya di atas US $ 142 (Rp2 juta), yang melampaui batas biaya USD64 (Rp900.000) yang ditetapkan oleh otoritas kesehatan Indonesia pada Oktober 2020.

Dan bahkan tes cepat (rapidtes) yang lebih terjangkau masih dijual dengan harga hingga US $ 10,6 (Rp150.000) – sekitar sepuluh kali lebih mahal dari uji tes pemindai nafas menggunakan GeNose.

BACA JUGA:  Komjen Pol Agus Andrianto Kabareskrim Polri Baru, Ini PR yang Dititipkan Kapolri

“Dengan produksi batch pertama dari 100 perangkat penguji yang kami rilis, kami berharap dapat menyelesaikan 120 pengujian per perangkat, yang setara dengan 12.000 pengujian per hari,” kata ketua peneliti Profesor Kuwat Triyana dalam siaran persnya, Pada Kamis (31/12).

“Perkiraan ini didasarkan pada hanya sekitar tiga menit yang dibutuhkan untuk setiap tes, ini termasuk pengambilan sampel napas, yang berarti kami dapat menguji 20 orang dalam satu jam jika perangkat beroperasi selama enam jam.” Tambah Kuwat.

Sri Sultan Hamengkubuwono X sedang mencoba menggunakan alat uji GeNose di Yogyakarta Perwakilan dari universitas juga menyebutkan bahwa rencana saat ini sedang dilakukan untuk membuat dan mendistribusikan tes GeNose pada skala publik yang lebih luas, dengan harapan alat tes pernafasan tersebut akan tersedia secara nasional pada akhir Februari 2021.

Dengan semua perkiraan, pencapaian target ini akan memungkinkan institusi kesehatan Indonesia untuk menguji sekitar 1,2 juta orang setiap hari, jauh di atas rekomendasi WHO bagi negara-negara untuk menguji Covid-19 setidaknya 1.000 orang per setiap juta penduduknya per minggu.

Namun, para ahli medis Indonesia mengungkapkan, sementera mereka memuji efisiensi tes alat GeNose, mereka masih bersikeras bahwa tes PCR tetap menjadi standar emas untuk pengujian COVID-19 secara menyeluruh sesuai dengan protokol yang ditetapkan oleh WHO.