Polri Akan Kawal Pembebasan Abu Bakar Ba’asyir Pada 8 Januari 2021

249
Polri Akan Kawal Pembebasan Abu Bakar Ba'asyir Pada 8 Januari 2021
Terpidana kasus terorisme Abu Bakar Ba’asyir akan dibebaskan dari Lembaga Pemasyarakatan Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, Jumat (8/1/2021).

Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Kombes Amhad Ramadhan memastikan pihaknya bakal mengawal proses bebas murni narapidana terorisme Abu Bakar Ba’asyir pada Jumat (8/1).

“Ada atau tidak ada permintaan (pengamanan) itu sudah menjadi tugas dan tanggung jawab Polri untuk mengamankan situasi kamtibmas,” kata Kombes Pol. Ramadhan di Kantor Bareskrim Polri, Jakarta, Senin.

Setelah Ba’asyir bebas, jajaran intelijen Polri akan mengawasi aktivitas Ba’asyir.
Pengawasan ini sama seperti napi teroris lainnya yang sudah menghirup udara bebas.

“Jajaran intelijen terus awasi orang-orang yang pernah melakukan tipid (tindak pidana) apa pun,” tuturnya.

Secara terpisah, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Jawa Barat Imam Suyudi menyebutkan, Ba’asyir mendapat total remisi sebanyak 55 bulan.

“Beliau hukumannya 15 tahun setelah mendapat remisi sebanyak 55 bulan, yaitu remisi umum, dasawarsa, khusus, Idul Fitri, dan remisi sakit,” kata Imam, dikutip dari Tribunnews.com.

Pengamat terorisme, Al Chaidar, memperkirakan Abu Bakar Ba’asyir akan bertransformasi menjadi ulama oposisi yang radikal setelah bebas. Baasyir diketahui bakal bebas pada 8 Januari 2021.

“ABB akan bertransformasi menjadi ulama oposisi yang radikal, tapi bersifat nasionalistik, humanis dan inklusif,” ujar Chaidar saat dihubungi pada Selasa, 5 Januari 2020.

Selain itu, Chaidar melihat Baasyir akan merebut massa eks Front Pembela Islam (FPI) yang kehilangan induknya, Rizieq Shihab, yang saat ini tengah mendekam di penjara. Hal itu lantaran Baasyir dinilai sebagai ulama yang populis berkenaan dengan masyarakat.

“Tergantung kepada keinginan massa Islam. Jika massa publik Islam menghendaki pemimpin radikal yang beroposisi kepada negara, maka dia akan menyesuaikan fatwa-fatwa dan tausiyah-nya agar sewarna dengan massa Islam yang nasionalis, humanis, dan inklusif,” kata Chaidar melensir Tempo.co, Selasa (5/01/2021).

BACA JUGA:  Kemlu Berikan Layanan Digital Bagi Eksportir Indonesia, Jual Produk Langsung ke Mitra di Eropa Barat dan Selatan

Diketahui, Ba’asyir divonis 15 tahun hukuman penjara oleh majelis hakim di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel) pada 2011.

Putusan itu tak berubah hingga tingkat kasasi. Abu bakar Ba’asyir, yang merupakan pimpinan dan pengasuh Pondok Pesantren Al-Mukmin Ngruki, Sukoharjo, Jateng, itu terbukti secara sah dan meyakinkan menggerakkan orang lain dalam penggunaan dana untuk melakukan tindak pidana terorisme.

Dia juga melarang santrinya hormat kepada Bendera Merah Putih dengan menyebutnya sebagai perbuatan syirik. Pengadilan memvonis keduanya selama 9 tahun penjara.

Kemudian, pada Maret 2005, dia divonis 2,6 tahun penjara lantaran terbukti terlibat dalam peledakan bom di Hotel JW Marriot dan bom Bali.  Dia divonis 2,6 tahun penjara dan dibebaskan pada 2006, menyusul tahun 2010 ia divonis penjara selama 15 tahun lantaran terbukti terlibat dalam menggalang dana untuk melakukan tindak pidana terorisme.

Pada 2014, didakwa terlibat dalam pemufakatan jahat dengan pelaku bom Bali yaitu Amrozi dan Mubarok. Dari tuntutan delapan tahun penjara, hakim memvonis Abu Bakar Ba’asyir bersalah dan mengganjarnya 2,5 tahun penjara serta membayar biaya perkara Rp5.000.***