Demi Keadilan, Sang Anak di Demak Tetap Ngotot Penjarakan Ibu Kandungnya

72
Demi Keadilan, Sang Anak di Demak Tetap Ngotot Penjarakan Ibu Kandungnya
foto ilustrasi
Seorang anak melaporkan ibu kandungnya ke polisi, peristiwa itu berawal saat seorang ibu, S (36) jengkel dengan anaknya A (19), Kejengkelan S timbul karena A yang beberapa tahun terakhir tinggal bersama mantan suaminya yang dinilai menjadi membencinya.

“Sejak ikut mantan suami, anak saya ini selalu menentang,” kata S saat ditemui di Mapolres Demak, Jumat (8/1/2021).

Kepala Bagian Operasional Satreskrim Polres Demak Iptu Mujiono mengatakan S dikenai pasal tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Sang ibu pun akhirnya sempat ditahan di tahanan Mapolres Demak.

“Pelaku kita jerat Pasal 44 ayat 1 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan KDRT subsider Pasal 351 KUHP tentang Penganiayaan, ancaman hukuman 5 tahun penjara,” ungkap Mujiono.

Peristiwa tersebut sempat dimediasi oleh anggota DPR RI Dedi Mulyadi untuk berupaya menangguhkan penahanan S. Dedi awalnya menemui kuasa hukum S dari LBH Demak Raya, yakni Haryanto untuk berkoodinasi.

Mereka kemudian menuju Polres Demak dan ditemui oleh Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resort (Kasatreskrim Polres) Demak, AKP Muhammad Fachur Rozi.

S ternyata sudah dipulangkan dan dikenai wajib lapor setelah mendapat jaminan penangguhan penahanan oleh Ketua DPRD Demak Fahrudin Bisri Slamet dan Kepala Desa Banjarsari Kecamatan Sayung Demak.

Namun Dedi tetap menyerahkan berkas pengajuan penangguhan kepada polisi sebagai bentuk empati terhadap S.

“Harapannya agar kasus yang menimpa ibu dan anak kandung ini bisa terselesaikan secepatnya. Jangan berlarut-larut lah. Nggak ada yang namanya mantan anak atau mantan ibu. Yang ada mantan suami atau mantan istri,“ ungkap Dedi, Minggu (10/1/2021).

Dari Mapolres Demak, Dedi kemudian menuju rumah S. Di sela kunjungannya, Dedi menelepon A untuk membujuk supaya kasus dihentikan, Dari telepon, terdengar A enggan menghentikan kasus itu.

BACA JUGA:  Tuyul Kuras Uang Warga di Sukabumi, MUI Turun Tangan

“Saya memaafkan ibu, tetapi tidak mau mencabut laporan. Biarlah proses hukum terhadap ibu saya tetap berjalan,” ucap A.

Mendengar pernyataan A, sang adik yang merupakan anak kedua dari S, meneteskan air mata. Dedi pun berencana akan menemui secara langsung gadis yang kini menempuh pendidikan teknologi logistik di salah satu perguruan tinggi di Jakarta.

“Saya akan menjumpai A dan akan mencoba terus melakukan pendekatan supaya ia mencabut gugatan terhadap ibu kandungnya. Sekeras-kerasnya hati insya Allah pada akhirnya akan luluh juga,“ ucap Dedi.

S mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang membantunya. Dia mengaku telah membukakan pintu maaf anak yang ingin menjebloskannya ke penjara. Meski demikian hingga saat ini kasus S terus diproses oleh kepolisian lantaran sang anak menolak mencabut laporan.

“Terima kasih atas perhatiannya, Pak. Saya berharap kasus ini segera selesai. Saya memaafkan anak saya apapun yang dia lakukan, itu karena pikirannya belum terbuka,” ungkap S dengan suara tersendat.

Sebelumnya diberitakan, A melaporkan ibunya ke kepolisian setelah mengalami luka di pelipis kiri dan hidung.

Kuasa Hukum Sumiyatun, Haryanto menutukan, pelaporan ini dipicu pertengkaran yang terjadi pada 21 Agustus 2020.

Saat itu A yang tinggal bersama bapaknya  ke rumah untuk mengambil pakaian. Tetapi setiba di rumah pakaiannya tidak ada.

S sudah membuang pakaian A karena merasa kesal denga anak perempuannya setelah A turut membencinya.

Khoirur Rohman (41), ayah dari A dan mantan suami S membantah bahwa anaknya tetap melanjutkan proses hukum terhadap ibunya karena masalah pakaian. Akan tetapi, karena perselingkuhan. S, kata Khoirur, berselingkuh dengan laki-laki berinisial L alias W.

“Bahkan mereka saat di kamar itu dengan anak saya yang kecil (sekamar), sementara anak saya nomor 1 dan 2 ada di kamar sebelahnya, orang tua macam apa itu,”

BACA JUGA:  Polres Bogor Tangkap Sembilan Pelaku Curanmor di Area Kabupaten Bogor

Setelah mengetahui hubungannya semakin tidak harmonis karena pihak ketiga, Khoirur mengajukan gugatan cerai ke Pengadilan Agama Demak.

“Agustus atau September 2020 saya ajukan, baru 7 Januari 2021 putusan resmi bercerai.

Jadi tidak benar itu di berita waktu kejadian penganiayaan saya sudah bercererai,” sambungnya.

Sejak hubungan rumah tangga tidak harmonis, A memilih tinggal di rumah neneknya sekaligus  rumah bapaknya di Desa Karangasem, Kecamatan Sayung.

Karena sudah tidak di rumah lagi, pada Jumat, 21 Agustus 2021 A ditemani bapaknya  mengambil pakaianya yang masih tertinggal di rumah Sumiyatun. Namun setibanya di rumah tersebut S memarahai A.

“kamu tu anak durhaka lapo koe neng kene” (kamu itu anak durhaka ngapain kamu disini),” kata Khoirur menirukan perkaraan Sumiyatun kepadan A.

Setelah itu A mencari baju tetapi S mendekati A sambil marah lagi dengan mengatakan:

“koe goleki opo klambimu wes tak buak wes tak bakar” (kamu mencari apa bajumu sudah aku buang sudah aku bakar).

Masih menurut keterangan Khoirur, saat S mengatakan  itu A hanya diam. Lalu dia mendorong A.

A kemudian bergegas keluar rumah, tetapi S mengejar A dan menarik kerudung lalu rambutnya sampai dijambak sampai membuat A mundur ke belakang beberapa langkah.

Tak hanya itu, kata Khoirur, S kemudian juga mencakar A yang menyebabkan pelipis kiri dan hidung terluka.

Karena sudah dilukai ibunya, A melaporkan ibunya ke Polres Demak dengan aduan penganiayaan.***