Petani Padi Sukabumi Galau Abadi, di Tengah Pandemi Harga Gabah Anjlok

226
petani padi
Foto Ilustrasi : Petani padi di Pajampangan Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, saat memanen padi garapan ditengah Pandemi Covid-19.
SUKABUMI,jawabarat.indeksnews.com_ Sejumlah petani padi di Kampung Curugkembar, Desa/Kecamatan Curugkembar, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, keluhkan rendahnya harga gabah anjlok di pasaran yang diterima tengkulak.

Informasi yang dihimpun, ditengah wabah virus Corona melanda, kondisi harga gabah tidak menentu atau tidak ada kepastian harga, dari satu karung gabah basah seberat 50 kilogram hanya diterima Rp 350.000 ribu. Padahal sebelumnya petani menjual gabah basah seberat 50 kg rata-rata perkarung seberat 50 kilogram dengan harga kisaran Rp. 500.000 hingga Rp 600.000. Dengan demikian musim panen kali ini petani sangat merugi besar.

“Penjualan harga gabah basah musim panen kali ini relatif sangat rendah dibandingkan dengan musim panen sebelum adanya wabah Covid-19. Satu karung gabah seberat 50 kilogram kini hanya dihargai sebesar Rp 250.000 – 350.000/50 kilogram, ” ungkap salah seorang petani padi di Kampung Curugkembar Ama Romli (60), Minggu (17/01/21).

Ama mengatakan, para petani padi yang mayoritas mata pencaharian, saat ini mengalami keluhan yang sama, dengan harga gabah dipasaran sangat rendah hingga menurun drastis mencapai 35 persen lebih dibandingkan awal tahun 2020 lalu.

“Musim panen kali ini petani disini sudah galau dengan harga gabah yang diterima tengkuk, akibatnya petani bakal menanggung kerugian sangat besar. Pasalnya tadi itu, karena harus menjual gabah basah dengan harga murah dan tidak sesuai harapan,” aku Ama.

Hal senada disampaikan Sepuloh (55) petani padi di Kecamatan Sagaranten, mengakui penjualan harga gabah ditengah Covid-19 bukan malah meningkat, ini malah makin menurun dan sangat tidak sebanding dengan biaya operasional bercocok tanam yang dikeluarkan saat musim tanam tahun lalu.

“Tidak sebanding dengan biaya pembelian bibit hingga pupuk, belum ditambah ongkos biaya panen dan pengolahan lahan padi. Belum lagi kondisi sulitnya mendapatkan pupuk subsidi, adapun harga pupuk non subsidi yang harganya cukup tinggi,” kata Saepuloh.

Petani yang tersebar di Kecamatan Curugkembar dan Sagaranten, Kabupaten Sukabumi memperkirakan merosotnya harga gabah akibat dampak Pandemi Covid-19. Selain itu, karena kadar rendemen hasil panen padi yang dirasakan terus dirasakan sangat tinggi.

“Karena itu, tengkulak pun dengan seenaknya menentukan harga gabah rendah kepada para petani, dengan alasan yang beragam. Tapi bagi kami sebagai petani yang menggantungkan ekonomi dari bertani padi, tidak bisa berbuat banyak dan mencari-cari alasan. Emang seperti ini yang dirasakan sejak awal tahun 2020,” teras Saep.

Dengan dampak yang dirasakan para petani padi di sejumlah Kecamatan di Kabupaten Sukabumi, yang dirasakan petani, para tengkulak akan menolak membeli hasil gabah. Mereka menolak membeli atau menjual hasil pertanian dari petani seiring harga yang anjlok.

“Mereka berdalih tidak mau membeli karena harga dipasaran anjlok sehingga sulit memperoleh untung. Padahal kami sebagai petani meyakini itu hanyalah alasan saja, untuk bisa membeli padi kami dengan harga murah,” ketusnya.

Mewakili para petani padi yang merasakan hal sama, Ama Romli dan Saepuloh berharap musim panen mendatang (2021) harga gabah dipasaran akan kembali normal seperti semula dan dampak Covid-19 tidak berpengaruh. Dengan begitu petani tidak terlalu besar menanggung kerugian hasil panen padinya.

“Sebagai tengkulak kenapa menerima harga gabah lebih rendah dari musim sebelumnya, karena petama musim panen sekarang ini gabah melimpah, juga tingkat rendemennya sangat tinggi,” kata Nasihin salah satu tengkulak padi di wilayah Pajampangan.

Nasihin berharap, Pandemi Covid-19 segera berakhir dan kedepan harga gabah bisa stabil seperti semula. Dengan harapan petani padi pun tidak terlalu menanggung kerugian sangat besar dan tengkulak tidak diselimuti kebingungan, saat menentukan harga yang ditawarkan untuk hasil gabah petani.

“Berbeda kondisi musim panen tahun sebelumnya, harga cukup setabil dan maksimal. Tapi tahun ini petani maupun tengkuk seperti kami, diselimuti khawatiran untuk menanggun kerugian relatif sangat tinggi, dampak dari pandemi dan perekonomian belum stabil juga sepertinya,” lesu Nasihin.**

Artikel sebelumyaMie Ayam Raja Suguhkan Cita Rasa Bukan Kaleng-kaleng Hadir Di Depok
Artikel berikutnyaIsmed Sofyan Prediksi: Liverpool 1-2 Manchester United