NSI Nawacita sosial Inisiatif : terminologi racist tidak ada di Indonesia

218
NSI Nawacita sosial Inisiatif : terminologi racist tidak ada di Indonesia
terminologi racist ft ilustrasi ft 1
JAKARTA, banten.indeksnews.com – NSI Nawacita sosial inisiatif melihat kisruh ditubuh Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) berkeberatan Haris Pertama disebut sebagai ketua umum mereka. KNPI menegaskan ketua umum mereka adalah Noer Fajrieansyah dalam ribut ribut pelaporan ke Abu Janda. Selasa 2 Februari 2021.

“Untuk diketahui, Haris Pertama melaporkan Permadi Arya atau Abu Janda ke Bareskrim Polri atas dugaan rasialisme kepada Natalius Pigai terkait cuitan evolusi. KNPI menegaskan Haris Pertama bukan Ketum KNPI disini NSI Nawacita sosial inisiatif melihat ada kekisruhan kepemimpinan dan fatalnya lagi yang harus melaporkan Abu Janda itu harusnya Natalius Pigai terkait evolusi lha kenapa ini justru Ketua Umum KNPI.

NSI Nawacita sosial inisiatif menjelaskan Terminology Racist itu tidak ada di Indonesia. Coba kita Perhatikan dari zaman jadul kita senang dengan pepatah.

“Tidak ada TK di madura
Karena ada TN taman nak kanak
Dari jadul kita cerita Kabayan, Mukidi,

Nama saya Monako, asli Palembang
Artinya anak nomor satu
Untung dari Palembang, kalau di Padang
Wong ciek”

terminologi racist ft ikustrasi 2
terminologi racist ft ikustrasi 2

Racist itu tidak ada di Indonesia. Kalau di Surabaya Jancuk koenItu artinya gak ada. Jancuk itu tidak ada terjemahan nya. Sama dengan mblegedes

Di sisi lain, rasisme bukan pesan ucapan, keyakinan, atau tindakan semata-mata. Di dalamnya semua mencakup hal, terutama yang menghalangi seseorang untuk mendapatkan martabat dan persamaan karena ras mereka. Sayangnya, rasisme semakin banyak dilakukan secara terang-terangan, bahkan menjadi parah terutama di media sosial.

Kasus rasisme besar yang terungkap sejarah adalah perilaku Sosialis Nasional Jerman (Nazisme). Nazi menelurkan teori ras Nazi yang menyebut bangsa Jerman dan Bangsa Eropa utara lainnya adalah ras Arya yang unggul. Lalu, mereka juga membuat UU Nurember tahun 1935 yang berisi kodifikasi definisi biologis ke-Yahudi-an.

BACA JUGA:  KPK Terus Selidiki Dugaan Korupsi pengadaan tanah di Munjul Pondok Ranggon, Kapan Gubernur DKI Dimintai Keterangan?

Untuk melegitimasi rasisme Nazi tersebut, selama Perang Dunia II, para dokter Nazi melakukan eksperimen medis palsu untuk dijadikan bukti fisik keunggulan bangsa Arya dan kelemahan bangsa non-Arya. Mengutip laman Museum Momorial Holocaust Amerika Serikat , akibat eksperimen itu, banyak tawanan non-Arya harus meregang nyawa. Dan, selama itu pula para dokter Nazi gagal membuktikan teori unggulnya bangsa Arya.

Rasisme dapat diperangi. Namun, hal ini membutuhkan komitmen dari setiap orang untuk benar-benar tidak melakukan perbuatan rasis.

1. Memahami arti rasisme

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan rasialisme sebagai prasangka berdasarkan keturunan bangsa, atau sebuah paham jika ras diri sendiri adalah ras unggulan. Dengan arti memahami rasisme, maka perbuatan itu tidak dibenarkan.

2. Memahami kepercayaan sosial

Rasisme ketetapan dan ketidaksetaraan dalam kehidupan pribadi dan publik. Maka, menjadi anti-rasis yaitu memahami dan menyadari ada perlakuan yang tidak adil untuk ras tertentu yang tidak boleh berulang.

3. Berhenti mengatakan “Saya tidak rasis”

Setiap orang memiliki potensi untuk rasis. Berkata “Saya tidak rasis” adalah bentuk pernyataan egois dan menyangkal realita.

4. Menentang gagasan rasisme

Langkah selanjutnya, setiap orang perlu setiap pandangan, keyakinan, hingga dukungan politik yang menghakimi adanya ketidaksetaraan ras. Ini sikap nyata sebagai anti-rasis.

5. Mendukung anti-rasis dan mengedukasi orang lain

Gagasan anti-rasis harus terus ditularkan sehingga mengedukasi orang lain atas kesetaraan ras yang perlu berkelanjutan.

Artikel sebelumyaBandara Taksi Terbang Pertama di Dunia, Ada di Inggris
Artikel berikutnyaBio Farma: Mulai Diproduksi 13 Februari, 11 Juta Bahan Baku Vaksin COVID-19 Tiba di Tanah Air