Zaim Saidi dan Rekam Jejaknya di Pasar Muamalah

40
Zaim Saidi dan Rekam Jejaknya di Pasar Muamalah
Zaim Saidi ft istw
DEPOK, banten.indeksnews.com- Zaim Saidi mendirikan Pasar Muamalah di sebuah ruko di Depok, Jawa Barat. Yang menjadi kontroversi adalah dalam perdagangan itu, penjual dan pembeli menggunakan koin dinar dan dirham. Bukan bertransaksi dengan mata uang rupiah.

Ia kemudian Zaim Saidi ditangkap oleh Bareskrim Polri pada Selasa (2/2) malam. Meski begitu, polisi belum menjelaskan pasal yang menjerat pendiri Pasar Muamalah tersebut.

Sebenarnya, siapa Zaim Saidi ini? Bagaimana ia tertarik mendirikan Pasar Muamalah? Zaim lahir sebuah kota kecil di Jawa Tengah, Temanggung, pada 21 November 1962. Ia menikah dengan Dini Damayanti pada 1994. Dari pernikahannya itu, keluarga Zaim dikaruniai lima orang anak.

Dari latar belakang pendidikannya, ia merupakan alumnus IPB University dari jurusan Teknologi Pangan dan Gizi. Ia mendapatkan gelar sarjananya itu pada 1986. Pada 1991, ia pernah mengikuti research fellowship dari Washington DC.

koin milik Zaim SAIDI fT ISTW
koin milik Zaim SAIDI fT ISTW

Kemudian, ia pernah kuliah magister di jurusan Public Affairs di Sydney University, Australia, pada 1996. Studinya itu dibiayai oleh pemerintah Australia melalui Merdeka Fellowship.

Ia mulai tertarik mempelajari bidang muamalah sekitar 2005-2006. Zaim belajar dari Syekh Umar Ibrahim Vadillo dan Syekh Dr Abdul Qadir as-Sufi. Kedua tokoh itu merupakan sentral dalam mempengaruhi pemikiran Zaim soal muamalah.

Syekh Abdul, yang lahir di Skotlandia dengan nama Ian Dallas, merupakan pemimpin tarekat era modern yang mendirikan Gerakan Murabitun Internasional. Misi gerakan itu adalah menegakkan Islam secara kaffah. Dalam pandangan Abdul, perlu pemulihan praktik transaksi dengan pemberlakuan mata uang syariah, dinar dan dirham.

Sementara itu, Syekh Umar naik pamor di panggung internasional setelah mencetak koin dinar dan dirham di Spanyol pada 1992. Aksi itu dilakukan setelah ia mengeluarkan fatwa uang kertas haram sebagai alat tukar.

BACA JUGA:  HMI Cimahi Berkolaborasi Dengan BNNK Dalam Menekan Angka Peredaran Narkoba

Sejak saat itu, Umar mempelopori World Islamic Trading Organization (WITO) atau yang lebih dikenal dengan World Islamic Mint (WIM). Organisasi itu mengeluarkan standar pembuatan koin yang dibuat dari zaman Khalifah Umar bin Khattab.

Zaim memang dikenal aktif dalam sejumlah organisasi. Ia pernah bergabung dengan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), dan Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI).

Bahkan, ia mendirikan lembaga Public Interest Research and Advocacy Center (PIRAC) pada 1997. Lembaga itu aktif dalam kegiatan riset dan mengadvokasi kedermawanan sosial di Indonesia.

Tiga tahun setelahnya, ia menginisiasi Wakala Adina yang kemudian berganti menjadi Wakala Induk Nusantara. Organisasi itu sebagai pusat distribusi dinar dan dirham di Indonesia.

Lalu, pada 2020, ia mempromosikan Gerakan Nasional Infak dan Sedekah Se-Dirham untuk Ketahanan Bangsa (GARNISSUN Bangsa). Tujuan dari gerakan ini adalah untuk memperkuat ketahanan ekonomi.