Pengusaha Pakaian Bekas Asal Sukabumi Miliki Kaus Snoop Dogg, WNA Asal AS Berani Beli 2500 Dolar

160
Pakaian
Foto Istimewa.
SUKABUMI,jawabarat.indeksnews.com_Sebagai seorang pengusaha pakaian bekas atau thrifting shop street wear, Zaenal Muttaqin menjajakan thrifting shop street wear di wilayah Sukabumi. Mengaku kaus bekas bergambar Snoop Dogg di beli seharga Rp 150 ribu dan telah laku dibeli oleh orang Amerika Serikat (AS) dengan harga yang fantastis.

Dilansir dari Tribun Banten, kisah pakaian atau kaus bekas bergambar rapper asal Negeri Paman Sam ternama, Snoop Dogg sampai diminati dan dibeli oleh orang AS seharga 2500 dolar AS atau sekitar Rp 36 juta.

Zaenal memaparkan, kronologis ditemukan pakaian bekas Snoop Dogg tersebut di temukan ketika sedang menyortir baju-baju bekas sebelum dijajakan untuk dijual dengan harga obral kelas baju bekas.

Dengan tidak sengaja, ternyata dari tumpukan pakaian bekas yang disortir itu ada kaus Snoop Dogg Rap Tee dengan kondisi layak. Zaenal mengaku, seperti merasa menemukan harta karun. Pasalnya, kaus Snoop Dogg tersebut memiliki nilai jual tinggi di pasaran.

“Awalnya biasa kegiatan saya sehari hari bongkar bal pakaian second, sore itu buka kaus sortiran dan wow, kaget nongol kaus Snoop Dogg rap tee. Sebenernya, kaus tersebut banyak penilaiannya kenapa bisa mahal, mulai dari tahun rilis, art atau grafiknya, artist atau band nya, intinya lebih ke historis kaos tersebut sih,” ungkap Zaenal, Kamis (04/03/21) kemarin.

Lanjut Zaenal, kondisi kaus bekas bergambar Snoop Dogg-nya itu berukuran XL, berbahan tipis dan warna agak pudar. Awalnya Zaenal mengaku tidak berniat untuk menjual kembali. Namun, saat dirinya mem-posting foto kaus tersebut diposting di lapaknya, ternyata respon dari beberapa komentar dalam postingan sangat luar biasa.

“Sebenarnya saya gak niat untuk jual, banyak tawaran masuk juga mulai dari seller Indonesia berani Rp 18 juta, Rp 20 juta, dan 25 juta. Tapi gak saya lepas karena saya tahu harganya masih di atas Rp 30 juta,” paparnya.

BACA JUGA:  Ahmad Najib Qodratullah: Beharap Terbentuknya Kemeninves Dapat Selesaikan Persoalan Birokrasi

Namun, tiba-tiba ada orang asal Amerika Serikat (AS) langsung menawar bajunya dengan harga 2500 dolar AS atau senilai Rp 36 juta.

“Si pembeli awalnya bukan followers XStyle, namun banyak akun yang repost temen-temen seller vintage, nah jadi tersebar klo saya punya kaos itu dan ada seller AS yang lihat dan langsung minat. Transaksinya juga sangat simple dan cepat, dia nanya harga dan size, saya pasang 2.500 USD size XL, langsung menit itu juga deal. Ill take it. dan transfer,” beber Zaenal.

Bahkan, lanjut Zaenal, setelah bajunya resmi dijual ke orang AS tersebut, 10 menit kemudian ada lagi orang yang menawar dengan harg yang lebih tinggi, yakni 3.500 USD atau sekitar Rp 50 juta.

“Karena sudah kadung deal dengan pembeli pertama, tawaran yang lebih tinggi itu akhirnya terpaksa ditolak,” kata Zaenal.

Zaenal mengaku, sudah tujuh tahun jalani usaha baju bekas, ia merintis bisnis pakaian bekas ini sejak 2014 lalu. Sebelum memulai bisnis tersebut, Zaenal sempat bekerja sebagai karyawan bank.

“Waktu itu saya sebagai karyawan bank, jadi untuk nyari pendapatan sampingan dengan jualan. Akhirnya di tahun 2017 saya resign dari pekerjaan karena usaha sudah mulai stabil jadi berani untuk berhenti kerja dan fokus usaha,” bebernya.

Untuk diketahui, Zaenal membuka lapaknya melalui platform online seperti kaskus, OLX, Facebook dan mulai fokus di Instagram @XStyle.id di tahun 2016.

Seiring waktu, bisnis baju bekas yang dirintisnya berkembang dengan cepat, hingga dirinya bisa membuka toko offline pada 2018 di Kawasan Condet, Jakarta Timur. Di tahun 2020 dirinya berani membuka cabang di wilayah pasar Kota Sukabumi, Jabar.

BACA JUGA:  Pemkot Tangerang bagikan 104.000 bibit lele ke warga

Menurutnya, potensi bisnis atau usaha pakaian bekas ini cukup bagus dan menjanjikan. Karena masih banyak orang khususnya anak muda yang ingin menggunakan pakaian street wear namun dengan harga yang murah.

“Tidak ada hal yang pasti apalagi di dunia usaha, turun naik pasti ada. tapi untuk usaha second ini akan tetap ada karena sebagai solusi untuk masyarakat yang ingin bergaya dengan merek branded tapi harga murah atau terjangkau,” jelas Zaenal.

Apalagi di era pandemi Covid-19 saat ini, dirinya tetap akan fokus ke jaringan online, karena cukup efektif untuk menjangkau pasar internasional.

“Ya sangat terdampak (pandemi) khususnya penjualan di toko offline, sempat tutup 3 bulan waktu awal ada corona bulan Maret 2020. Sekarang sudah buka kembali tapi penjualan sangat berkurang. Alhamdulilah, penjualan online meningkat, saya manfaatkan media sosial (medsos) dan marketplace,” tandas Zaenal.*(sumber/Tribun Banten)