Sony Teguh Trilaksono: Tentang Banjir Di Wilayah Jabodetabek Yang Merupakan Sebuah Fakta, Yang Harus Disingkapi Dengan Bijak dan Logis Oleh Semua Pihak

129
Sony Teguh Trilaksono: Tentang Banjir Di Wilayah Jabodetabek Yang Merupakan Sebuah Fakta, Yang Harus Disingkapi Dengan Bijak dan Logis Oleh Semua Pihak
Sony Teguh Trilaksono Founder Rumah Sopan FT bin
JABODETABEK, banten.indeksnews.com – Sony Teguh Trilaksono mencoba menganalisa Ketika banjir melanda Jabodetabek seperti beberapa saat lalu dimana sempat terjadi Cisarua Bogor dan juga jebolnya tanggul Citarum , maka saat itu pula muncul opini,diskusi,analisa solusi bahkan muncul tuduhan,tudingan kepada beberapa pihak sebagai kambing hitamnya.

“Namun toh bencana itu tetap saja terus terjadi hingga kini seolah semua upaya yang telah dilakukan siasia ,bahkan beberapa pihak sampai pesimis sampai mengatakan ..”Siapapun Presidennya,Gubernur,Walikota,Bupatinya,Banjir AkanTetap Terjadi “. Pernyataan itu ada benarnya bila kita semua berpikir secara logis,apalagi mengacu pada data sejarah banjir di Jabodetabek yang terjadi dari masa ke masa.” ujar Sony Teguh Trilaksono.

Sony Teguh Trilaksono mencoba mengajak kita mundur kebelakang untuk mengingat ingat sejarah terjadinya banjir di Jabodetabek  “Maka yuk kita mundur dulu ke belakang untuk menjelajahi sejarah banjir di Jabodetabek”

Bencana banjir telah terjadi pada abad V di wilayah kekuasaan Kerajaan Tarumanagara (sekarang Jabodetabek),peristiwanya tertuang dalam Prasasti Tugu yg menjelaskan bahwa saat itu telah dibuat/digali kali Cadrabaga dan Gomati untuk menghadapi bencana banjir besar di wilayah kerajaan Tarumanagara di di kala itu.

Kemudian di era kolonial Belanda pun tercatat telah terjadi berkali kali banjir dan puncaknya terbesar pada tahun 1872 yang melumpuhkan kota Batavia.

Sehingga Pemerintah kolonial pada tahun 1889-1911membangun Bendungan Katulampa yang berfungsi sebagai irigasi juga sebagai pemantau debit air sungai Ciliwung yang mengalir dari Bogor ke Jakarta.

Namun banjir masih saja terus terjadi saat itu karena debit air terus meningkat ketika musim hujan karena berbagai sebab.

Kemudian bagaimana kondisi di era kemerdekaan hingga kini ?

Dipahami bersama bahwa Kawasan puncak yang awalnya berfungsi sebagai sumber air sekaligus area khusus resapan air hujan, kini telah bergeser menjadi kawasan pemukiman, sehingga fungsi awalnya tidak lagi bisa maksimal.

BACA JUGA:  Tuntut Polri Usut Tuntas Kasus Pembunuhan Jurnalis Mara Salem Harahap

Sementara area persawahan yang terhampar dari Bogor-Jakarta yg awalnya berfungsi mendukung resapan air ketika musim hujan, pada akhir tahun 1990 luasnya masih sekitar 2500 hektar kini tinggal kurang dari 70 hektar (tinggal 3 %).

Sementara sungai Ciliwung sebagai saluran utama aliran air hujan dari hulu ke hilir/laut kini mengalami penyempitan dan pendangkalan yang signifikan yakni lebih dari 50 %.

Kanal /Drainase di Jakarta yang dibuat dengan susah payah tidak juga bisa berfungsi secara maksimal,diantaranya karena terus mengalami pendangkalan dan penyumbatan sampah yang luar biasa selain pengelolaannya yang kurang terpadu.

Daya serap tanah di Jabodetabek sangat menurun drastis lebih dari 40 %,menambah peningkatan debit air bila terjadi hujan.

Pemanasan global bedampak pada kenaikan permukaan air laut secara berkelanjutan sehingga dalam jangka waktu tertentu akan merendam sebagian wilayah kota Jakarta

Dari data dan fakta yang terjadi di 3 era tersebut timbul pertanyaan, mungkinkah Jabodetabek bisa terbebas dari Banjir?.

Pendapat saya pribadi peluangnya maksimal hanya 50 % saja, itu semua tercermin dari berbagai hal yakni; tidak kunjung terintegrasinya berbagai upaya yang dilakukan oleh pihak berwenang,solusi yang lakukan hanya alakadarnya, kasus perkasus dan tidak pernah Visioner. Sementara perilaku buruk masyarakat terhadap lingkungannya makin memperparah kondisi.

Jadi kelihatannya harapan masyarakat untuk menikmati hidup di Jabodetabek yang terbebas dari banjir masih akan sangat sulit menjadi kenyataan dalam waktu dekat.

Tapi bagaimana bila harapan masyarakat kita turunkan dulu, yakni bilapun terjadi banjir tidak akan terlalu parah dan dampaknya bisa minimal…bisakah itu terjadi?.

Atau harapan masyarakat tersebut memang hanya sebuah mimpi yang tidak akan mungkin pernah terealisasi …Wallahualam

 

Oleh: Sony Teguh Trilaksono
Pemerhati dan Penggiat Lingkungan
FOUNDER RUMAH SOPAN

BACA JUGA:  Polda Sumut Pastikan Usut Tuntas Kasus Penembakan Wartawan