Potret Rumah Umi Entin di Desa Cikaret Sukabumi Memprihatinkan, Belasan Tahun Tak Tersentuh Bantuan RTLH

SUKABUMI,jawabarat.indeksnews.com-Potret buram kehidupan yang dirasakan janda paruh baya bernama Entin Surtini (51) warga Kampung Dangdeur RT 027/008, Desa Cikaret, Kecamatan Kebonpedes, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Umi Entin sapaan akrab janda anak empat ini, saat ini tinggal bersama cucunya dan anaknya Wildan (36) di rumah berbilik bambu yang hampir roboh akibat termakan usia. Mirisnya, potret yang sudah menjadi hal biasa ketika hujan turun, bocor disetiap sudut rumah. Apalagi bagian sudut dapur dan jamban (kamar mandi) sudah ambruk hampir tak berdinding.

“Kondisi rumah umi sudah belasan tahun seperti ini, sudah tidak aneh lagi setiap kali turun hujan deras apalagi dibarengi angin kencang, bocor air hujan dari atas atap di setiap sudut rumah. Lampu listrik juga baru empat bulan ini, itupun ngambil dari KWH tetangga sebelah dengan iuran seikhlasnya. Sebelumnya, pake lampu minyak atau lilin untuk menerangi pada malam hari saja,” kata Umi Entin, saat disambangi indeksnews.com di rumah bilik bambunya, Kamis (25/03/21).

potret
FOTO DOKUMENTASI : Umi Entin saat memperlihatkan kondisi bagian dapur dan kamar mandi rumah balik bambunya yang sudah memprihatinkan.

Ironisnya lagi, Umi Entin mengaku dari dulu belum pernah tersentuh bantuan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), baik dari Pemerintah Desa (Pemdes), maupun Pemerintah Kabupaten (Pemkab) bahkan Program Pemprov Jabar. Umi mengaku, sudah pernah meminta ketua RT untuk dibantu diajukan. Akan tetapi, hanya jawaban “umi mah masih keneh tiasa usaha” (umi masih bisa kerja).

“Umi tidak mampu untuk memperbaiki kondisi kerusakan rumah, cuma bisa berdoa dan tawakal dengan kondisi rumah yang seperti ini. Untuk makan sehari-hari pun, menunggu panggilan tetangga untuk mencuci pakaian dengan upah Rp 20-50 ribu. Itupun kalo ada,” papar Umi Entin.

Adapun bantuan program pemerintah yang masih dirasakan Umi Entin sampai saat ini. Dari Program Keluarga Harapan (PKH) sebesar Rp 350 ribu/ tiga bulan. Tetapi untuk tahun ini, Umi mengaku belum ada kabar kapannya bakal menerima pencairan PKH.

Potret
FOTO DOKUMENTASI : Umi Entin saat ditempat tidurnya, perihatin harus pindah ketika bocor karena hujan.

“Alhamdulillah ada bantuan dari PKH sebanyak 350 ribu dari dulu, tapi udah dua bulan belum ada pencairan. Sekarang dikolektifkan untuk pencairanya, kalo dulu dikantor pos dan harus mengantri. Meski tidak sama nominalnya dengan penerima PKH yang lain, umi hanya bisa bersyukur dan berterima kasih kepada yang iklas peduli kepada umi,” papar Umi.

Umi Entin berharap, ada uluran tangan dari penggerak sosial maupun pemerintah ataupun lembaga keagamaan, untuk bisa menoleh kondisi rumahnya. Harapan yang selalu kandas, akan bahagia ketika ada yang membantu perbaiki rumahnya yang sudah pada keropos sebagian besar kontruksi rumah bilik bambu berukuran kurang lebih 40×50 meter ini.

“Umi hanya bisa berharap dan berdoa saja, semoga ada hamba Allah maupun dari pihak pemerintah yang membantu perbaiki rumah ini. Agar ketika hujan tidak lagi bocor dimana-mana,” harap Umi Entin.

Potret
FOTO DOKUMENTASI.

Ahmad Hilal (57) tetangga Umi Entin merasa perihatin dan iba, dengan kondisi rumah janda paruh baya yang sudah sangat memperihatinkan. Ahmad menilai, disini peran pemerintah desa dan daerah, hingga masyarakat setempat sangat dibutuhkan. Untuk bisa membantu sisi kesuliatannya, hingga bisa merenovasi rumahnya yang masuk katagori rumah tidak layak huni (RTLH).

“Setau saya umi ini asli disini, sejak suaminya tidak ada, umi itu seorang ibu yang tangguh yang berjuang mencari sesuap nasi untuk bisa makan, apalagi ditengah pandemi virus Corona masih dirasakan, semoga apa yang menjadi harapan Umi Entin bisa segera terwujud untuk bisa merasa nyaman dan layak tinggal di rumah tersebut,” tandas Ahmad.(CR-1/Red).

 

-
Artikel sebelumyaMax Sopacua Pertanyakan Proses Hukum Ibas, dan Ingatkan Kasus Korupsi Hambalang
Artikel berikutnyaPotret Rumah Bilik Bambu Umi Entin, Camat dan Kades Angkat Bicara