Kualitas Udara Tangerang Selatan Tahun 2020 Terburuk di ASEAN

220
Kualitas Udara Tangerang Selatan Tahun 2020 Terburuk di ASEAN
Salah Satu Kawasan Lalu Lintas Padat di Tangsel ft istw
TANGSEL, Banten.indeksnews.com- Kualitas udara kota besar di Indonesia dan dunia terungkap lengkap dalam Laporan Kualitas Udara Dunia 2020 yang dikeluarkan IQAir. Hasilnya cukup mengejutkan, sepanjang tahun 2020 kualitas udara Tangerang Selatan tercatat jadi terburuk di se-Asia Tenggara (ASEAN).

Laporan Kualitas Udara Dunia 2020 tersebut disusun berdasarkan pada data PM2.5 dari 106 negara, yang telah diukur oleh stasiun pemantau berbasis darat. Dari sumber data yang termasuk dalam laporan ini, 66,6% stasiun dioperasikan oleh instansi pemerintah, sedangkan sisanya merupakan stasiun pemantauan yang dikelola oleh penduduk setempat, organisasi nirlaba, dan perusahaan.

Dalam Laporan Kualitas Udara Dunia 2020 ini, kualitas udara Tangerang Selatan paling kotor di ASEAN. Sementara Bekasi berada di urutan ketiga dan Jakarta berada di urutan ke-7 di ASEAN.

Di luar dugaan, dalam pantau IQAir sepanjang tahun 2020,  Tangerang Selatan juga masuk dalam daftar 50 kota paling berpolusi di dunia, yakni berada di urutan ke-25. Sementara Jakarta tidak masuk.

Dalam Laporan di Dunia tahun 2020 itu terungkap bahwa lockdown di sejumlah negara akibat pandemi COVID-19 membuat peningkatan kualitas. Sekitar 84% dari semua negara mengalami peningkatan kualitas udara, sebagian besar karena tindakan karantina wilayah global untuk memperlambat penyebaran COVID-19.

CEO IQAir, Frank Hammes mengatakan, tahun 2020 membawa penurunan polusi udara yang tak terduga. Namun pada 2021 kemungkinan akan kembali terjadi peningkatan polusi udara karena aktivitas manusia. “Kami berharap laporan ini akan memberi peringatan bahwa perlu tindakan sesegera mungkin untuk memerangi polusi udara, yang tetap menjadi ancaman kesehatan lingkungan terbesar di dunia,” kata Frank Hammes.

Sementara analis Center for Research on Energy and Clean Air (CREA), Lauri Myllyvirta mengatakan, pada 2020 banyak bagian dunia mengalami peningkatan kualitas udara yang belum pernah terjadi sebelumnya. “Kualitas udara yang meningkat ini berarti puluhan ribu kematian yang terhindarkan dari polusi udara. Dengan beralih ke energi bersih dan transportasi bersih, kita dapat mewujudkan peningkatan yang sama secara berkelanjutan.”

BACA JUGA:  Pemkot Tangsel Menggelar Vaksinasi 2.500 Dosis di Alam Sutera

Di Jakarta sendiri, meskipun ada penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) karena COVID-19, kualitas udara di Jakarta tetap dalam kisaran yang sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Citra satelit dan analisis yang disusun oleh Center for Research on Energy and Clean Air (CREA) mengungkapkan bahwa sementara konsentrasi NO2 turun 33%, tingkat polusi PM2.5 tetap tinggi.

Sedangkan selama masa PSBB transisi, konsentrasi PM2.5 dan NO2 di Jakarta terus meningkat. Bahkan pada 15 Juni 2020, Jakarta masuk lima besar kota di dunia dengan kualitas udara terburuk menurut database IQAir Visual. Penurunan konsentrasi NO2 di Jakarta sebagian besar disebabkan oleh penurunan kegiatan pada sektor transportasi dan industri selama masa PSBB.

Greenpeace mendesak pemerintah provinsi DKI Jakarta untuk menambah stasiun pemantauan kualitas udara yang dapat mewakili Jakarta secara keseluruhan, menyediakan sistem transportasi publik terintegrasi, dan berkoordinasi dengan pemerintah Jawa Barat dan Banten untuk mengendalikan polusi udara lintas batas”, ujar Bondan Andriyanu, Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia.