Mensos RI Tri Rismaharini Tinjau Posko Tanggap Bencana NTB dan NTT

107
BIMA,banten.indeksnews.com-Menteri Sosial RI (Mensos) Tri Rismaharini mengunjungi Posko Tanggap Bencana di Puskesmas Waipukang, Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) Jum’at, (09/04/21).

Pada kunjungan Mensos RI bersama jajarannya guna memastikan pasca dalam penanganan korban bencana di NTT dan NTB berjalan dengan baik dan teratasi. Mensos Tri Rismaharini juga menyempatkan diri untuk menyapa dan berinteraksi dengan warga (para korban), ikut menghibur anak-anak korban bencana, dan meninjau Dapur Umum sekaligus membantu memasak makanan bersama para relawan.

“Banjir yang melanda Kabupaten Bima, NTB dan NTT telah membangkitkan semangat gotong-royong seluruh pihak, termasuk pilar-pilar sosial, antara lain Taruna Siaga Bencana (Tagana), Pelopor Perdamaian dan Sumber Daya Manusia (SDM) Program Keluarga Harapan (PKH) dengan semangat membantu para korban bencana. Untuk itu, kami pastikan penanganan disini berjalan baik,” singkat Mensos RI Tri Rismaharini.

Informasi yang dihimpun, Tim Tagana membuka dapur umum dan membantu evakuasi korban, Pelopor Perdamaian memberikan layanan dukungan psikososial kepada kelompok rentan dan memberikan konseling kepada keluarga yang anggota keluarganya meninggal, sementara SDM PKH melakukan pendataan Keluarga Penerima Manfaat (KPM) yang terdampak untuk memastikan tidak ada kendala saat pencairan bantuan dan juga melakukan distribusi makanan ke lokasi-lokasi terdampak banjir.

Mensos
Foto Ilustrasi : Mensos RI Tri Rismaharini saat ikut membagikan makan siang untuk para korban bencana.

“Dalam sehari, dapur umum Tagana mampu menyiapkan 10.000 porsi makanan yang didistribusikan kepada para korban banjir yang masih berjibaku membersihkan sisa-sisa lumpur di rumah mereka, maupun mereka yang mengungsi ke rumah keluarga akibat rumah mereka rusak diterjang banjir,” ungkap Ketua Forum Komunikasi Tagana Provinsi NTB Dedi.

Dedi mengatakan, setidaknya ada 200 orang relawan dari Tagana yang terlibat di dapur umum lapangan. Mereka, yang mayoritas berasal dari Kota Bima, Kabupaten Sumbawa dan Kabupaten Bima itu, secara bahu-membahu meringankan beban korban banjir.

“Setelah kunjungan kerja Menteri Sosial Tri Rismaharini di Kabuparen Bima pada Senin (5/4), Tagana, Pelopor Perdamaian dan SDM PKH, seperti mendapatkan dukungan penuh dalam menjalankan tugas kami,” jelas Dedi.

Sementara itu, Koordinator PKH Kabupaten Bima, Muhammad Yasin, mengatakan dari unsur SDM PKH, mereka telah melakukan pendataan terhadap KPM PKH, serta membantu membagikan nasi bungkus kepada para korban banjir.

“Dari hasil pendataan sementara, terdapat 1.455 KPM PKH dan 18 SDM PKH terdampak. Rata-rata, buku tabungan dan kartu ATM mereka hilang terbawa banjir,” ungkap Yasin.

Mensos
Foto Dokumentasi.

Kami akan berkoordinasi dengan Dinas Sosial dan bank penyalur untuk segera melakukan penggantian ATM dan buku tabungan, mengingat bantuan PKH tahap II telah cair pada bulan ini (April).

“Jangan sampai mereka terkendala dalam pencairan bantuan,” tandas Yasin.

Seperti diberitakan, hujan yang turun selama kurang-lebih 9 jam sejak Sabtu (03/04/21) lalu di seluruh wilayah Kabupaten Bima, NTB, menyebabkan bendungan di empat kecamatan meluap sehingga menggenangi persawahan dan perumahan warga.

Hasil assessment psikososial dari para penyintas yang dilakukan oleh Pelopor Perdamaian terhadap kondisi psikologis menunjukkan sebagian besar warga merasa terpukul dan kehilangan atas musibah yang melanda daerah tempat tinggal mereka.

“Rata-rata warga, yang area sawahnya terendam air, merasa terpukul lantaran mereka harus mengalami gagal panen pasca padi yang sedianya sudah siap panen ikut terendam banjir. Sementara, padi yang berhasil diselamatkan dikhawatirkan akan membusuk lantaran tidak mendapat panas matahari dalam beberapa hari ke depan,” kata Tim Layanan Dukungan dari unsur Pelopor Perdamaian, Roni Faisal.

Tim Pelopor Perdamaian juga mengunjungi keluarga korban yang meninggal dunia, akibat terseret arus, untuk memberikan penguatan psikologis. Salah satunya, yang dialami Ibu Suhada, istri dari korban meninggal dunia, alm. A. Bakar.

“Pertama kali kami kunjungi, Ibu Suhada masih sangat sedih, shock dan terpukul. Ia terlihat bingung, harus seperti apa (menjalani hidup selanjutnya, tanpa sang suami). Sebab, dari info yang kami peroleh, suaminya adalah tulang punggung keluarga, dan beliau memiliki tiga anak bersekolah yang masih harus dibiayai pendidikannya,” ungkap Roni.

Dengan pendekatan dan pendampingan yang dilakukan oleh Pelopor Perdamaian, Perlahan, Suhada mulai terbuka dan mau bercerita. Tak hanya itu, dari sudut matanya mulai muncul harapan dan keinginan untuk melupakan kejadian yang menimpanya.

“Bagaimana anak-anak kalau saya selalu bersedih, terpuruk, hingga sakit? Saya mikirin anak-anak, kasihan mereka. Saya harus sehat, harus kuat demi mereka. Itu dulu Bapaknya pernah berpesan ke saya,” ucapnya sembari menyeka air mata yang sesekali mengalir dari sudut matanya.**(Sumber : Alek Triyono/OHH Ditjen Linjamsos)

PSX 20210409 211835