Melacak jejak BLBI , Berikut Data Penerima Dana BLBI

393
Sebuah Fenomena Melacak jejak BLBI , ini Data Data Penerima dana BLBI
Penikmat Dana BLBI ft Ilustrasi
JAKARTA, banten.indeksnews.com-  Melacak Jejak BLBI. BLBI merupakan skema bantuan (pinjaman) yang diberikan pemerintah melalui Bank Indonesia (BI), kepada bank-bank yang mengalami masalah likuiditas pada saat terjadinya krisis moneter 1998 di Indonesia. Skema dalam sebuah Fenomena dilakukan berdasarkan perjanjian Indonesia dengan IMF dalam mengatasi masalah krisis. Pada bulan Desember 1998, BI telah menyalurkan dana bantuan sebesar Rp147,7 triliun kepada 48 bank.

Ironisnya, sebuah fenomena ini disalahgunakan. Dimana dana BLBI justru banyak yang diselewengkan oleh penerimanya. Proses penyalurannya pun terindikasi terpapar penyimpangan. Hal itu diketahui saat Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) melakukan audit dan menemukan potensi kerugian negara sebanyak Rp 138 triliun. Dalam Melacak Jejak BLBI sederet bankir kemudian menjadi terpidana kasus penyelewengan dana tersebut, termasuk tiga mantan Direktur Bank Indonesia, yakni Paul Sutopo Tjokronegoro, Hendro Budiyanto, dan Heru Supratomo. Ketiganya kemudian mendekam di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Cipinang setelah Mahkamah Agung memvonis mereka masing-masing 1,6 tahun penjara.

Mereka terbukti bersalah dalam penyaluran Bantuan Likuditas BI. Sementara itu, dari pihak penerima aliran dana, nama-nama seperti David Nusa Wijaya, Samadikun Hartono, Atang Latif, dan Agus Anwar, sempat menjadi tersangka dan terpidana dalam kasus mega korupsi itu. Beberapa diantara mereka ada yang benar-benar menjalani hukuman, atau justru memilih menjadi buronan dengan melarikan diri ke luar negeri. Sedangkan sisanya, ada yang tidak diperiksa sama sekali dan ada pula yang penyelidikannya dihentikan karena kurangnya alat bukti. Ini mengurai simpul ruwetnya Melacak jejak BLBI.

Saking ruwetnya, ditambah 50 buronan BLBI, menjadikan skandal BLBI ini menjadi the phenomenon, sebuah Fenomena. Penjelasan singkat ini merupakan 40% mengurai dari daftar 32 Bank penerima BLBI. Tanpa uraian dari buku supremacy kapital, sebuah mission impossible bagi pemerintah mengendalikan kekuatan skandal BLBI, selamanya pemerintah menjadi cacat tersandera.

Dalam menelusuri jejak BLBI itu jangan menggunakan logika tetapi gunakan pembuktian terbalik. Dengan demikian jangan melacak dari atas tetapi dari bawah. Jangan melacak dari perusahaan yang sudah mati namun dilacak dari perusahaan yang masih hidup. Disebut Genealogy atau Riwayat asal usul atau silsilah. Oleh karena itu teks ini bukan merupakan barang bukti dan pembuktian. Namun sekedar pelacakan atau perunutan.

BACA JUGA:  Kabar Baik PLN Perpanjang Diskon Tarif Listrik Sampai Desember 2021

Logikanya, bila mengemplang BLBI kok bisa perusahaan bertahan hidup?
Bagaimana caranya penerima BLBI mengecoh jejak mereka dari skandal BLBI?
Menggunakan cara-cara pendapat umum seolah-olah perusahaan menjalani operasi secara legal. Misalnya Bank BCA. Bank Mega.
Semua ijin ijin pihak pengawasan OJK dan Bursa efek meloloskan. Pada tatanan pendapat umum, perusahaan berjalan lancar, sampai kemudian ada gejolak seperti TPI rebutan. Dengan asumsi operasi perusahaan berkelanjutan. Tidak ada keraguan atau jeda. Misalnya pengembang Properti, proyek-proyek berjalan.

Seolah-olah konglomerat wajar melakukan ekspansi. Tanpa disadari bahwa pihak pelaku berbeda silsilah dari keluarga inti sebelumnya. Misal, Wings group detergent aslinya adalah keluarga Tan. Sedangkan Wings food dipimpin oleh Teddy. beda.
Saking ketat nya mereka menyimpan rahasia bahkan anak anak nya pun tidak mengerti duduk permasalahan. Oleh karena itu sebelumnya anda bisa mencoba mencerna, anda perlu kondisi bebas, jangan terikat oleh tatanan. Misalnya nomor terakhir Bank Danautama Sofyan lolos dari penerima BLBI dengan dalih berlindung kepada Jusuf Kala. Jabatan beliau terakhir staf khusus Wakil presiden 2014- 2019.

Konglomerat penerima BLBI berikutnya adalah Bank Ciputra. Beliau lolos dari kebangkrutan penerima BLBI yaitu dengan proyek-proyek kerjasama dengan pemilik lahan. Jadi seolah-olah perusahaan memiliki banyak proyek-proyek dengan banyak Pemilik lahan.

Proyek terbesar Ciputra Development yaitu adalah PT Ciputra Residence dengan kerja sama dengan Hanson international, dengan lahan 2.700 hektar di Citra Raya Maja.

Dengan logika pembuktian terbalik, kenapa Ciputra development sebagai Top penjualan nomor satu developer tahun 2020 kok menggandeng perusahaan Hanson international yang pailit?

Hanson international sudah pailit tgl 31 Agustus 2020 sudah berjalan 8 bulan tidak ada tanda tanda PT Ciputra Residence mengambil tindakan lepas dari kepailitan Hanson international.

BACA JUGA:  Gubernur Banten: Mendirikan Rumah Sakit Harus Didukung Oleh Tenaga Kesehatan Yang Mencukupi

Pembahasan selanjutnya adalah nomor 26-28 yaitu Bank RSI, Bank Surya. Perusahaan yang menerima BLBI tersebut berganti nama menjadi Global TV, Global mediacom dan Bank Mega. Adapun bank tersebut sekarang sebagian 37% sudah kembali di buy back oleh Salim.

Kaitan selanjutnya adalah nomor 23-24 nah yang ini agak ruwet, namun jejak kepailitan Bank Umum Nasional berupa tanah di parung berganti kulit menjadi Inagro dari Group Kalbe.

Group Kalbe kemudian juga berbesan dengan Group Saratoga. Pernah tahun 2015 Kalbe Farma diguncang oleh skandal tertukar nya obat anesthesia mereka di RS SILOAM KARAWACI. Akibatnya 20 nomor pendaftaran BPOM produk sempat dibatalkan BPOM. Akhirnya saham Kalbe Farma sebagian diambil oleh Edwin.

Group Saratoga ini paling ilusif, tidak mengemuka Walaupun masuk terbesar di Indonesia, dipimpin oleh cucu pak William Soerjadjaja. Group Saratoga juga memiliki grup rumah sakit Primaya.

Kenapa skandal BLBI ini bersambung menjadi Gurita anggaran BPJS karena skala nya yang kedua ini jauh lebih kuat berlipat lipat dibandingkan BLBI.

Dengan demikian jejak mereka berlanjut.

Dengan pembuktian terbalik, kita pun bertanya, kenapa sekarang bahkan Menteri Terawan tidak bisa masuk ke dalam anggaran BPJS. Istilahnya kata urang sunda, jangan mengurus ikan yang sudah mati melainkan ikan hidup. Karena ikan yang sudah mati tidak bisa diapakan.

Sehingga menggunakan logika pembuktian terbalik selanjutnya. Yang paling mengecoh diantara daftar Bank penerima BLBI adalah Bank BCA karena ada 50 Bank lainnya merger, atau ditutup, hanya BCA yang bertahan. Namanya tetap.

Group lainnya Salim group adalah
Bank BCA , berubah menjadi milik Djarum. Saat ini seluruh direktur BCA melepaskan saham mereka. UIC PT Unggul indah corporations bidang bahan baku detergent, berubah menjadi Wings food, bergerak ke Yoshinoya, Top coffee, Mie sedap, real estate, gypsum, keramik, semen, dll
Indomobil sudah berpindah tangan dan kembali di buy back Salim . PT Bimantara menjadi Global mediacom. Presiden direktur MNC group akhir akhir ini resign.

BACA JUGA:  PPDB Tangerang-Tangsel, Masuk SMKN-SMAN Diduga Ada Praktek Jual Beli Kursi

Skandal ini melibatkan orang terkaya di Indonesia. Mereka dari grup Djarum.
Gurita anggaran Gula Selain itu skandal raksasa ikutan atau lanjutan dari BLBI adalah permainan Gurita anggaran Gula melibatkan orang terkaya pabrik rokok terbesar. Kasus ini sedang dalam penetapan terpidana meliputi Piko, dihukum 18 bulan, Direktur PTPN nusantara holding, dll.

Logika pembuktian terbalik selanjutnya. Anda pun sudah menebak.

Sehingga sekarang konglomerat memegang kekuasaan sebagai Supremasi Kapital

Berikut daftar pengusaha penerima dana BLBI tersebut

1. Agus Anwar (Pemilik Bank Pelita)
2. Hashim Djojohadikusumo (Bank Papan Sejahtera, Bank Pelita, dan Istimarat)
3. Samadikun Hartono (Bank Modern)
4. Kaharuddin Ongko (Bank Umum Nasional)   5. Ulung Bursa (Bank Lautan Berlian)
6. Atang Latief (Bank Indonesia Raya)
7. Lidia Muchtar (Bank Tamara)
8. Omar Putihrai (Bank Tamara)
9. Adisaputra Januardy (Bank Namura Yasonta)
10. James Januardy (Bank Namura Yasonta)   11. Marimutu Sinivasan (Bank Putera Multikarsa)
12. Santosa Sumali (Bank Metropolitan dan Bank Bahari)
13. Fadel Muhammad (Bank Intan)
14. Baringin MH Panggabean (Bank Namura Internusa)
15. Joseph Januardy (Bank Namura Internusa)
16. Trijono Gondokusumo (Bank Putera Surya Perkasa)
17. Hengky Wijaya (Bank Tata)
18. Tony Tanjung (Bank Tata)
19. I Gde Dermawan (Bank Aken)
20. Made Sudiarta (Bank Aken)
21. Tarunojo Nusa Wijaya (Bank Umum Servitia)
22. David Nusa Wijaya (Bank Umum Servitia)
23. Liem Sioe Liong/Anthony Salim/Salim Grup (Bank Central Asia)
24. Mohammad ‘Bob’ Hasan (Bank Umum Nasional)
25. Sjamsul Nursalim (Bank Dagang Nasional Indonesia/BDNI)
26. Sudwikatmono (Bank Surya)
27. Ibrahim Risjad (Bank Risjad Salim Internasional)
28. Bambang Trihatmodjo (Bank Alfa)
29. Suryadi/Subandi Tanuwidjaja (Bank Sino)
30. Keluarga Ciputra (Bank Ciputra)
31. Aldo Brasali (Bank Orient)
32. Sofjan Wanandi (Bank Danahutama)

Klik link dibawah ini untuk mendapatkan buku
SUPREMASI KAPITAL
Ir. Goenardjoadi Goenawan, M.M
NAWACITA Sosial Inisiatif

https://drive.google.com/file/d/1ae5yoP2bPb5dYQ-XkYzRyjfwByT7CZP-/view?usp=drivesdk

Artikel sebelumyaMengintip Kue Kering Ramadhan Ala Dapur Mom’s Rindu di Tengah Covid-19
Artikel berikutnyaPersib Bandung 2-1 PSS Sleman: Maung Selangkah Lagi ke Final