Jasa Buzzer Gentayangan Ditengah Perhelatan Pilkada, Dengan Omset Ratusan Juta Sampai Miliaran Rupiah

152
buzzer
Foto Ilustrasi.
KALSEL, banten.indeksnews.com, Jasa buzzer jadi perdebatan yang menarik dalam diskusi Demokrasi dalam Cengkeraman Oligarki yang digelar menuju pemilu kepada daerah (Pilkada) Provinsi Kalimantan Selatan.

Ada diskusi yang menarik dan mencengangkan yang sampaikan Calon Gubernur (Cagub) Kalimantan Selatan Denny Indrayana dalam sesi diskusi, bahwa adanya keluhan yang krusial, dalam biaya yang harus dikeluarkan untuk menyewa jasa pendengung atau jasa buzzer dalam pilkada di Kalimantan Selatan yang mencapai Rp 1 Miliar.

“Sebagai gambaran di pesta demokrasi Pilkada tahun 2015, sampai mengeluarkan diangka Rp 500 miliar, itu untuk keseluruhan biaya kampanye. Ada sumber yang menyebut sampai Rp 600 miliar, relasinya menyebut Rp 800 miliar, ini jumlah yang pantastis untuk omset jasa buzzer dan perlu disikapi bersama,” kata Cagub Kalimantan Selatan Denny Indrayana, dikutip suara.kepri.com, Senin (03/05/21).

Denny secara gamblang menceritakan, bahwa dalam pencalonan dirinya pernah ditawari menggunakan jasa buzzer dalam pertarungan Pilkada 2020 Kalimantan Selatan, akan tetapi tidak terbuai dalam tawaran yang tidak bisa dipertanggungjawabkan untuk hasil demokrasi.

“Saya sempat ditawarin 1 miliar rupiah. Paling murah yang menawarkan saya Rp 600 juta hanya untuk buzzer dengan orang cuma 20 yang menguasai skema buzzer,” terang Denny.

Dalam penggunaan buzzer dalam perhelatan Pilkada, Denny memaparkan, mengumbar fakta dan data yang framingnya mengarah ke kampanye negatif bahkan kampanye hitam.

“Saya menilai keberadaan buzzer hanya satu dari sekian tantangan yang dihadapinya selama ikut kontestasi pilkada yang harus disikapi dengan dampaknya,” papar dia.

Denny menyebutkan, di lapangan ada berbagai laporan perihal kampanye pembagian sembako yang dikemas dengan zakat, takjil, ukuran paket yang lebih besar, hingga pembagian uang mendekati hari pemilihan.

“Ada penggunaan atau pengerahan ketua RT yang digaji Rp 2,5 juta, kepala desa dan lurah digaji Rp 5 juta. Itu semua sudah buka menjadi rahasia lagi, saya kira semua sudah paham dan mengetahui maraknya pengerahan dari kalangan bawah hingga desa,” aku Denny.

Analis Media Sosial Drone Emprit and Kernels Indonesia, Ismail Fahmi menanggapi, isu buzzer dan influencer mengemuka ditengah para politikus yang saling beradu argumen atau strategi. Ismail menyatakan influencer berperan penting di era demokrasi digital. Apa sih beda buzzer dan influencer?

Pertama, buzzer diilihat dari akar katanya, yakni ‘buzz’ dalam bahasa Inggris berarti ‘dengung’. Jadi, ‘buzzer’ bisa dialihbahasakan sebagai ‘pendengung’ di media sosial (medsos).

Adapun influencer berasal dari kata ‘influence’ yang artinya ‘pengaruh’. Dalam bahasa Indonesia, influencer disebut juga sebagai pemengaruh. Lalu apa beda buzzer dan influencer?

Ismail Fahmi, memberikan penjelasan mengenai perbedaan dua makhluk internet tersebut.

“Buzzer cenderung mengamplifikasi isu yang sudah ada. Dia tidak membuat isu sendiri. Buzzer biasa bekerja atas dasar pesanan isu yang dibawa suatu agensi kehumasan (public relation/PR), partai politik, pemerintah, perusahaan produk tertentu, selebritis, atau pihak lainnya. Secara personal, buzzer bukanlah siapa-siapa, bahkan anonim,” kata Ismail.

Lanjut Ismail, akun-akun medsos buzzer bisa saja cuma sembarang nama, dengan foto profil perempuan, laki-laki, atau tokoh anime. Memang, pihak yang merekrut para buzzer tidak menggubris siapa identitas asli buzzer-buzzer ini. Yang paling penting bagi perekrut, misinya tersebar dan viral di Twitter, Facebook, Instagram, YouTube, atau platform lainnya.

“Buzzer ini biasanya bukan orang terkenal, dia bukan public figure. Di sinilah letak perbedaannya. Buzzer bukanlah sosok terkenal, tapi influencer adalah sosok terkenal yang punya pengaruh. Istilah Influencer adalah figur yang dikenal di bidangnya masing-masing. Misalnya di seni influencer itu adalah artis, atau di bidang politik si influencer ini adalah politikus tenar,” kata Fahmi.

Influencer ini punya banyak pengikut (follower). Apa yang disampaikannya di akun medsos bisa memengaruhi followernya. Pihak yang punya misi menggulirkan isunya via medsos bakal merekrut si influencer lantaran si influencer punya pengaruh yang besar.

“Berbeda dengan buzzer, influencer sudah punya pengaruh yang besar sebelum dia diberi pekerjaan oleh pemberi pesan,” paparnya.

Pada dasarnya, influencer adalah sosok yang independen. Hidup-matinya influencer tidak tergantung isu yang ditawarkan si pemegang proyek, karena sebelum dapat proyek-pun si influencer sudah terkenal duluan.

Bayaran seorang influencer jauh lebih tinggi ketimbang satu orang buzzer. Influencer bisa Rp 10 juta sekali posting saja, bayangkan kalo ratusan isu yang di-posting. Buzzer jauh dari itu. Buzzer dikonttrak sebulan dua bulan untuk terus menerus bekerja memposting isu,” selorohnya.**