Mart 212 dan Skandal bisnis berbau syariah.

136
Mart 212 dan Skandal bisnis berbau syariah.
Mart 212 ft istw
JAKARTA, banten.indeksnews.com- Mart 212 Waktu aksi 411 dan 212, saya sempat berpikir sederhana. Kalaulah gerakan politik yang dibungkus agama itu bisa melahirkan gerakan ekonomi, tentu luar biasa sekali potensinya. Ternyata pikiran saya itu sudah ada dikepala penggerak aksi 212, yang tergabung dalam alumni 212, yaitu mendirikan Koperasi 212 Mart. Tujuannya tentu mulia, yaitu menciptakan kemandirian UMKM dalam bidang ritel dan sekaligus mengkampanyekan gerakan ekonomi syariah dari masjid ke masjid da dunia luar.

Pada waktu ide pendirian koperasi itu, tidak tanggung tanggung diawasi langsung oleh Rizieq Syihab, Bachtiar Nasir, Zaitun Rasmin, Syafii Antonio, dan Muhammad Syukri. Ketika beroperasi, tidak tanggung tanggung, UAS juga mengendorse Mart 212 retail sebagai bisnis yang amanah dibandingkan jaringan retail lainnya. Dengan adanya gerakan amanah dari koperasi 212, mereka berambisi akan menggusur retail non syariah yang sudah ada.

Tiga hari lalu, Koperasi berbentuk minimarket, Mart 212 dilaporkan ke pihak kepolisian lantaran diduga melakukan penipuan serta penggelapan uang investornya, Jumat (30/4/2021). Diketahui, sekitar 400 investor telah menyerahkan dana demi terwujudnya 212 Mart. Para investor ini melakukan pengumpulan dana investasi dengan cara mentransfer uang ke rekening. Dana yang dihimpun berada di kisaran dari Rp 500 ribu hingga Rp 20 juta per orang.

Mewakili korban lainnya, 26 investornya melaporkan kasus tersebut ke Polresta Samarinda. Kuasa hukum LKBH Lentera Borneo, I Kadek Indra Kusuma Wardhana menuturkan, kronologi berawal pada tahun 2018, ada ajakan untuk mendirikan 212 Mart di Samarinda melalui obrolan grup di aplikasi WhatsApp. Pembentukan yang bersifat koperasi ini dikoordinir oleh kelompok orang yang bernama Komunitas Koperasi Syariah 212 Samarinda.

Tertanyata setiap upaya idealis dan program utopia, tidak beda dengan program Ok Oce nya Anies- Sandi, selalu tidak pernah siap dengan kemungkinan buruk terjadi. Mengelola bisnis tidak cukup dengan mengandalkan dalil agama, tetapi lebih daripada itu adalah sikap mental sebagai wirausaha yang menentukan apakan usaha itu bisa berkembang atau berakhir kandas dan memalukan.

BACA JUGA:  Kemlu Berikan Layanan Digital Bagi Eksportir Indonesia, Jual Produk Langsung ke Mitra di Eropa Barat dan Selatan

Apa yang terjadi pada koperasi 212, itu melengkapi kasus Travel bodong, PT kampung kurma, bisnis property syariah dan lain lain. Semua itu selalu menyertakan ustad sebagai endorsement. Setelah korban berjatuhan, yang mengendorse aman saja.