Jurnalis Media Online Tewas Oleh Penembak Misterius, Insan Pers Desak Polri Tangkap Pelaku

198
JAKARTA,banten.indeksnews.com-Seorang Jurnalis atau pekerja tinta di perusahaan media online bernama Mara Salem Harahap dikabaran jadi korban penembakan yang dilakukan oleh orang tak diikenal di kawasan Huta 7 pasar 3, Nagori Karang Anyer, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara (Sumut), Sabtu 19 Juni 2021.

Informasi yang dihimpun, peristiwa yang dialami korban secara misterius ini, terjadi pada Sabtu dini hari, tidak jauh dari kediaman korban yang kerap disapa Marsal yang merupakan pewarta/wartawan di salah satu media online di Kota Pematan Siantar.

Dikutip dari palopomedia, korban (Marsal) ditemukan tewas oleh warga dalam kondisi bersimbah darah yang dikeluarkan dari luka tembak di bagian paha kiri korban, dengan posisi di dalam mobil, berjarak sekitar 300 meter dari rumah kediamannya.

Melihat kondisi yang dialami korban, warga yang melihat kondisi korban langsung membawa Marsal ke Rumah Sakit (RS) Vita Insani Pematang Siantar. Akan tetapi, setiba di rumah sakit, nyawa korban sudah tidak bisa tertolong dan dinyatakan meninggal dunia.

Media
Foto Ilustrasi.

“Benar benar, korban meninggal dunia. Saat dibawa ke rumah sakit sudah meninggal, belum mengetahui detail penyebab kematian korban dan masih dalam penyelidikan pihak kepolisian,” jelas Sutrisno Dalimunthe Humas RS Vita Insani Pematangsiantar.

Menanggapi hal tersebut, Rudi Samsidi jurnalis media online grup indeksnews.com wilayah Jawa Barat dan Banten, mengucapkan bela sungkawa atas kejadian yang dialami korban penembakan orang tak dikenal. Atas kejadian tersebut, mendesak pihak Polisi Republik Indonesia (Polri) untuk mengusut tuntas kasus pembunuhan terhadap pekerjaan pewarta atau wartawan (Jurnalis).

“Menurut informasi di pesan singkat Whatsapp Informasi Grup Jurnalis Indonesia, korban adalah pimpinan redaksi dan sekaligus pemilik media online lassernewstoday.com. Kabar duka tersebut dengan cepat menyebar dan mendapat respon kegeraman para grup WhatsApp tersebut,” kata Putra Kasep sapaan akrabnya.

Media
Foto Ilustrasi : Dok korban Marsal Jurnalis Media Online.

Mantan jurnalis/reporter Sukabumi Ekspres Jawa Pos Grup ini, mengutuk keras bentuk tindakan diskriminasi ataupun kekerasan yang berujung pembunuhan, seperti dialami teman satu profesinya (Marsal). Ia menilai, kejadian tindakan kekerasan kepada awak media akhir-akhir ini sudah sangat mengkhawatirkan dan perlu adanya penanganan yang serius dari pihak kepolisian.

“Ini perlu tindakan tegas dan kongkrit dari kepolisian untuk mengusut, mengungkap seterusnya menangkap siapa pelaku, aktor atau dalang dibalik kejadian penembakan misterius yang jadi sasaran seorang jurnalis seperti kami,” selorohnya.

Pihaknya, meminta kepada aparat penegakan hukum (Polri) untuk memberikan hukuman seberat-beratnya kepada pelaku, bila perlu hukuman mati tanpa melihat dari kalangan mana pelaku, sampai melakukan pembunuhan.

“Secara peribadi, percaya dan meyakini pihak kepolisian bisa melaksanakan tugasnya dengan profesional dan tegas dalam menangani kasus pembunuh terhadap korban Marsal. Karena hal ini, menurut saya sudah termasuk pembunuhan yang direncanakan dan dilakukan oleh pelaku yang sudah dipetakan untuk melakukan penembakan terhadap korban,” cetus Putra.

Lanjut Putra, tindakan kekerasan terhadap pekerja tinta/wartawan/pewarta atau insan pers, tentu merupakan tindakan kejahatan kemanusiaan dan termasuk pelanggan HAM berat.

“Pembunuhan atau kekerasan terhadap awak media diharapkan tidak kembali terjadi atau dialami korban lainnya. Untuk kasus yang sudah menewaskan korban Amsal, bisa segera diungkap oleh pihak hukum secara terang benderang dan dibuka kepada publik,” tegas Putra.

Media
Foto Ilustrasi.

Menurutnya, Pers merupakan salah satu pilar dan tonggak demokrasi di tanah air tercinta Indonesia, karena itu sangat penting dan strategis fungsi, peran dan tugasnya dalam mengawal demokrasi, untuk kepentingan masyarakat dan pemerintah.

Sementara, dalam melaksanakan tugasnya masih dibayangi ancaman-ancaman terhadap profesi seorang pers dan sudah semakin nyata dan relatif tinggi dengan berbagai motif kejadian.

“Sebagaimana UU 40/1999 tentang pers, profesi seperti kami itu dijamin dan mendapat perlindungan hukum dari negara. Akan tetapi, kenyataan masih banyak praktek intervensi, diskriminasi, kekerasan yang berujung penganiayaan hingga pembunuhan, seperti yang dialami kawan kita (Amsal) di Kota Pematan Siantar Sumut,” jelasnya.

“Saya kira semua sama untuk menyikapi kasus ini dan berharap para insan pers di tanah air agar semakin solid dan tidak ciut nyalinya terus berkarya sesuai pakta. Terus berjuang menyajikan informasi teraktual disertai dedikasi yang tinggi, profesional, berani dan berintegritas,” tandas Putra.**

Artikel sebelumyaJaksa Agung Burhanuddin: Pemulangan Adelin Lis Berkat Sinergitas RI-Singapura
Artikel berikutnyaKorsleting Listrik Jadi Faktor Penyebab Terjadinya Kebakaran di Sukabumi, Tim Relawan Gencar Bimtek Secara Gratis