BEM UI Ditantang BEM Jabotabek Dalam menyelesaikan Langkah Langkah Konkrit Agar Keluar Dari Lilitan Pandemi Covid

169
BEM UI Ditantang BEM Jabotabek Dalam menyelesaikan Langkah Langkah Konkrit Agar Keluar Dari Lilitan Pandemi Covid
BEM SE JABOTABEK

JABODETABEK, banten.indeksnews.com – BEM UI ditantang Sejumlah mahasiswa yang mengaku sebagai Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dari sejumlah Kampus Swasta di Jabodetabek, menantang para mahasiswa yang tergabung di Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI), untuk bergerak melakukan langkah-langkah konkret, agar keluar dari lilitan berbagai persoalan akibat pandemi Covid-19.

Dalam rilis yang diterima, 10 kampus swasta yang menamakan dirinya sebagai Badan Eksekutif Mahasiswa Sejabodetabek (BEM Sejabodetabek) menyebut, BEM UI sangat eksklusif dan hanya mampu berolok-olok terhadap Pemerintahan, khususnya Presiden Joko Widodo.

Budi Rahmansyah, yang didapuk sebagai Koordinator BEM Sejabodetabek itu mengatakan, mereka menggelar konperensi pers, di sebuah cafe di Jakarta. Dan menyebut, banyak sikap BEM UI yang tidak mewakili perasaan mahasiswa Indonesia.

“Politik mahasiswa adalah politik pengabdian. Bukan olok-olok. Saat ini, yang kami rasakan, dan banyak dari keluarga mahasiswa yang berduka karena keluarga mereka banyak yang sakit, bahkan meninggal dunia karena Covid. Lalu, Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia tanpa pernah mengetahui perasaan kita, mengambil kesempatan politis di saat sulit,” ujar Budi Rahmansyah, Rabu (30/06/2021).

Budi Rahmansyah merinci, paling tidak, ada 10 BEM dari kampus swasta yang tergabung dalam BEM Sejabodetabek, yang mengecam cara-cara yang dilakukan Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia karena menyebut Presiden Joko Widodo sebagai The King of Lips Service.

Kesepuluh Kampus Swasta yang menyatakan diri sebagai BEM Sejabodetabek itu adalah BEM Indonesia Banking School, BEM STMIK Jayakarta, BEM STAI Al Aqidah, BEM Universitas Islam Jakarta, BEM STMIK Mercusuar, BEM Universitas Ibnu Chaldun, BEM STIAKIN Sekolah Ilmu Administrasi Kawula Indonesia, BEM Universitas Azzahra, Universitas Bhayangkara, dan BEM STMIK Pranata Indonesia.

BACA JUGA:  Gubernur Banten Serahkan Hadiah Sayembara Tugu Pamulang

Mereka mengatakan, pergerakan Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia sangat eksklusif. Dengan tidak pernah memperhatikan perasaan rakyat miskin yang sebenarnya.

Budi dan kelompoknya juga menyatakan, kebutuhan rakyat miskin saat ini adalah bisa segera keluar dari situasi krisis karena Covid-19.

“Tidak ada korelasinya mengolok-olok Presiden dan perubahan keadaan krisis saat ini. Apakah dengan Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia mengolok-olok Pak Jokowi lantas Covid langsung hilang dan krisis langsung selesai?” tantang Budi.

Budi beranggapan, saat ini empati adalah respon yang benar dengan kondisi di saat lonjakan pasien Covid-19 sedang melejit.

Dia mengatakan, Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia tidak mengerti dan tidak bisa bersikap empati, karena diduga sudah disusupi oleh kelompok kepentingan politik tertentu.

“Arah gerakan mereka sudah tidak seusai dengan doktrin gerakan mahasiswa yang kita kenal dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi,” lanjutnya.

Model yang diperlihatkan Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia, katanya lagi, diduga lebih ke arah gerakan politik praktis. Mengambil alih kekuasaan dengan mengolok-olok Kepala Negara. “Dengan tujuan mengajak untuk membenci Presiden dengan cara olok-olok,” kata Budi.

Politik mahasiswa adalah politik Tri Dharma. Membangun Bangsa Negara dengan pengabdian, ketulusan dan kecintaan. Menurut Budi, apa yang dilakukan Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia lebih ke arah membangun kebencian.

“Bagaimana pun mengolok-olok akan selalu melahirkan kebencian. Tidak ada cinta kasih dan pengabdian di balik olok-olok,” ujar Budi.

Artikel sebelumyaIndonesia Kembali Kedatangan Vaksin, 998.400 Dosis Vaksin AstraZeneca Tiba di RI
Artikel berikutnyaBerlakukan PPKM Darurat, Tidak Main-Main, Polri Tegaskan Jaga Ketat Perbatasan