Miris, Yayat Bersama Istri dan Empat Anaknya di Cianjur, Tinggal Digubuk Beratap Jerami

87
Yayat
Foto Istimewa : Puluhan tahun Yayat bersama istri dan anak-anaknya tinggal digubuk derita di Cianjur, Jawa Barat.
CIANJUR,banten.indeksnews.com-Sungguh miris dan memprihatinkan kondisi satu keluarga di Kampung Gunung Empuk, Desa Wangunsari, Kecamatan Naringgul, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Yayat (50) harus berjibaku bersama istri dan empat anaknya yang masih kecil tinggal digubuk berukuran tidak lebih dari 3×3 meter persegi.

Informasi yang dihimpun, kondisi rumah gubuk yang berdindingkan potongan kayu dan beratapkan jerami tidak disertai penerangan listrik. Lokasi gubuk yang ditinggali Yayat bersama istri dan empat anaknya berlokasi di RT 25 RW 8 Kampung Gunung Empuk, Desa Wangunsari, Kecamatan Naringgul, Cianjur. Dinilai tidak layak huni.

Dilansir dari Pasundanpost.com, Yayat sebagai kepala keluarga (KK) mengaku sudah 10 tahun lebih tinggal di gubuk bersama istri dan anaknya. Mirisnya lagi, selama 10 tahun lebih belum pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah setempat, daerah maupun pusat.

“Ya sudah kurang lebih 10 tahun tinggal di gubuk ini. Malahan bantuan yang sudah ada seperti PKH dan bantuan beras Rasta pun ditunda hingga kini, gak tau apa penyebabnya,” ungkap Yayat dengan nada terbata-bata, Selasa 6 Juni 2021.

Yayat
Foto Istimewa : Keluarga Yayat dan Istri juga anak-anaknya saat berjubel tinggal di gubuk berukuran 3×3.

Yayat yang berkelahiran tahun 1970 ini mengaku menikahi Nanih (50) hingga kini sudah dikaruniai empat anak. Ia menuturkan, kondisi rumahnya itu sudah puluhan tahun ia huni ini hasil dari pemberian orang tuannya.

“Karena faktor keterbatasan biaya yang membuat kami tidak mampu memperbaiki rumah ini, meski kondisinya sudah sangat mengkhawatirkan, tapi saya tetap bersyukur bisa punya rumah ini walau kondisinya tidak layak huni yang terpenting bagi kami ada tempat untuk berteduh istri dan anak anak,” terang Yayat dengan nada tabah.

Sambil menunjuk kondisi langit-langit rumah tidak layak huni yang terbuat dari jerami, Yayat hanya bisa pasrah dan menceritakan sering kali bocor ketika hujan deras turun.

“Ya mau bagai mana lagi, pokoknya sedih kalau hujan turun atap pasti banyak yang bocor,” ungkap Yayat.

Sementara itu Nanih (50) istri Yayat berharap, pemerintah daerah (Pemda) Cianjur maupun Provinsi-Pusat bisa segera menyalurkan bantuan berupa program keluarga harapan (PKH) atau bantuan beras sejahtera (Rastra) yang sempat ia terima dan sekarang belum bisa diterima lagi.

“Bantuan PKH dan Rasta yang jadi harapan kami. Untuk itu, saya berharap supaya bisa meringankan beban biaya hidup keluarga saya karena suami saya hanya pekerja serabutan tani itupun kalau ada yang membutuhkan, bantuan tersebut bisa kembali disalurkan,” ucap Nanih.

Yayat
Foto Istimewa Pasundanpost.com . Gubuk yang ditinggali Yayat dan Istri juga empat anaknya.

Sementara itu, Hakimin Ketua Rt 25 Rw 8 mengaku, ditundanya bantuan PKH maupun Rastra yang sempat disalurkan kepada keluarga Yayat lantaran adanya perbedaan data kependudukan yang Yayat tinggali saat ini. Akan tetapi, pihaknya terus dan sudah melaporkan hal tersebut kepada pihak desa.

“Menurut keterangan dari petugas katanya terhambat oleh administrasi data kependudukannya tidak sama. Sehingga bantuan yang sempat didapat oleh keluarga Yayat sebelumnya sudah beberapa bulan ini ditunda,”ucapnya.

Meski hingga saat ini diakui Hakimin, pihaknya belum mendapatkan informasi dari pemerintah desa bahwa keluarga yang mendiami tanah yang berbatasan dengan tanah kehutanan milik Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) ini, akan mendapatkan bantuan rutilahu.

“Tentunya kami dengan warga lainnya berharap, semoga keluarga Kang Yayat segera mendapatkan bantuan Rutilahu dari manapun dan siapapun, agar beban keluarga Kang Yayat bisa tertanggulangi,” pungkas Hakimin.**

Artikel sebelumyaRuang Isolasi Penuh di RSUD Sekarwangi, Bupati Sukabumi Lakukan Evaluasi dan Programkan Pasilitas Untuk Pasien Covid-19
Artikel berikutnyaH. Maman Suparman Tutup Usia, Rakyat Sukabumi Kehilangan Tokoh Petani Nasional dan Pendiri RAI Heri Gunawan