PPKM Darurat Sejumlah Remaja di Kota Sukabumi Sibuk Berselfi Ditengah Jalan, Pelaku Jasa Servis Handphone Menjerit

228
JABAR, banten.indeksnews.com-Pelaksanaan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat di wilayah Kota/Kabupaten di Jawa-Bali sejak 3 hingga 20 Juli 2021, sejumlah titik akses jalan protokol dilakukan penyekatan oleh pihak kepolisian.

Seperti halnya di Kota Sukabumi, sejumlah titik ruas jalan protokol perkotaan diberlakukan penyekatan PPKM, dibarengi pemberlakuan jam operasional hingga penutupan sementara bagi pusat pertokoan, mall, tempat hiburan, restoran dan sejumlah tempat usaha.

Pantauan dilapangan, di Jalan Jenderal Ahmad Yani persisnya di depan pusat perbelanjaan Citimall, jelas terlihat pada pukul 14:00 WIB susan jalan sepi oleh kendaraan mobil maupun motor. Pasalnya, dari titik lampu merah perempatan Jalan Otista menuju Jalan Jenderal Ahmad Yani dilakukan penyekatan PPKM dari dua arah.

Hanya, sebagai orang berlalu lalang berjalan kaki dan para ojek online (ojol) sesekali melintas. Ada hal menarik yang dilakukan para kaula muda dan sejumlah komunitas fotografer, melakukan selfi ditangah jalan yang sepi dari lalu-lalang kendaraan dari penerapan PPKM.

“Setiap jam menjelang sore (pukul 14:00 WIB) susana jalan Ahmad Yani dimanfaatkan sejumlah remaja hanya sekedar foto selfi ditengah jalan, sejak PPKM Darurat diterapkan semua suasana kota jadi serba sunyi, semua padagang kaki lima, konter handphone (Shopping Center), Citimall, pertokoan, terpaksa tutup sementara, demi mematuhi aturan PPKM,” kata Iwan (40) pegawai servis handphone Yonk Cell di Shopping Center, Sabtu 17 Juli 2021.

Amoy sapaan akrab iwan mengungkapkan, sejak kondisi pandemi Covid-19 diteruskan dengan PPKM Darurat, dirasakan serba tersendat dalam mencari peluang penghasilan untuk mencukupi kebutuhan empat anaknya dan keluarganya. Tapi mau bagaimana lagi, kondisi seperti ini, mungkin dirasakan secara merata bagi kalangan yang berpenghasilan tidak bisa ditentukan.

“Hanya mengandalkan konsumen yang datang untuk servis handphone, jual beli handphone, dengan mengandalkan jasa dari servis Rp 30 ribu atau keuntung jual beli handphone bisa diperkirakan Rp 30-50 ribu, belum dibagi hasil dengan bos pemilik konter. Otomatis dengan kondisi PPKM semua serba rungkad (retak penghasilan), hanya bisa iktiar dan menerima ratapan seorang pegawai konter,” cetus Amoy.

Hal senada dikatakan Deni seorang pedagang kaki lima di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kelurahan/Kecamatan Cikole, terpaksa harus memutar otak dengan alit profesi menjadi ojek online.

“Lapak elang dagangan yang menjadi andalan setiap hari, meski hanya menjual rokok, kopi, minuman dingin dan makanan ringan dirasakan sangat bisa diandalkan. Sekarang terpaksa harus ditutup terpal untuk sementara waktu, dari pada didenda lebih baik ditutup lah dan sekarang alih profesi jadi ojek online, meski hanya pendapatan Rp 50 rb kebawah, hanya itu yang bisa dilakukan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari,” kata Deni.

Amoy dan Deni sebagai warga yang mengaku terdampak kesulitan ekonomi dengan diputuskannya PPKM Darurat. Ia berharap, wabah Covid-19 segera berlalu dan PPKM Darurat tidak terjadi adanya perpanjangan.

“Kami sebagai masyarakat dengan penghasilan tak bisa ditentukan, hanya bisa berharap Covid-19 usai dan PPKM tidak berkelanjutan. Harapan selanjutnya, pemerintah kembali memberikan program bansos untuk masyarakat yang terdampak, dalam penyerapan bansos juga bisa dipermudah dan tepat sasaran,” harapnya.**

Artikel sebelumyaHarga GPX Drone 150 Lebih Murah Dari Skutik Saingannya Honda PCX dan Yamaha NMAX
Artikel berikutnyaSalurkan Ratusan Paket Sembako, Polres Sukabumi Kota Sambangi Rumah Pedagang Kaki Lima dan Tukang Becak di Jalan A Yani