Idul Adha Ditengah Covid-19, Untuk Berserah Diri dan Siap Berkorban Untuk Sesama

130
Idul Adha
Foto : Ece Suhendar M Al-Ghipari, Ketum DPP Gerakan Mujahid Penegak Ajaran Alloh dan Rosul (Gempar) Sukabumi.
JABAR, Banten.indeksnews.com_Dalam pandangan Islam, Hari Raya Idul Adha yang diperingati umat Islam didunia pada setiap tanggal 10 Dzulhijjah, dikenal dengan sebuatan “Hari Raya Haji“.

Tentunya Hari Raya Idul Adha ini dinanti kaum muslimin (Agama Islam) yang akan menunaikan haji yang utama, yaitu wukuf di Arafah. Mereka berkeinginan memakai pakaian serba putih dan tidak berjahit, yang di sebut pakaian ihram, dalam menjalankan rukun Islam ke-5, menunaikan ibadah haji bagi yang mampu.

“Hari Raya Haji atau Idul Adha melambangkan persamaan akidah dan pandangan hidup, mempunyai tatanan nilai yaitu nilai persamaan dalam segala segi bidang kehidupan. Tidak dapat dibedakan antara mereka, semuanya merasa sederajat. Sama-sama untuk tujuan mendekatkan diri kepada Allah Yang Maha Kuasa, sambil bersama-sama membaca kalimat talbiyah,” kata Ustad Ece Suhendar M Al-Ghipari, Ketum DPP Gerakan Mujahid Penegak Ajaran Alloh dan Rosul (Gempar) Sukabumi, Rabu 21 Juli 2021.

Selain sebutan Idul Adha, Ece Suhendar menuturkan juga dinamakan hari raya haji, juga dinamakan “Idul Qurban”, karena pada hari itu Allah memberi kesempatan kepada umatnya untuk lebih mendekatkan ketakwaan diri kepada-Nya (Allah SWT). Bagi umat muslim yang belum mampu untuk menunaikan perjalanan ibadah haji. Maka ia diberi kesempatan untuk berkurban, dengan menyembelih hewan qurban sebagai simbol ketakwaan dan kecintaan kita kepada Allah SWT.

Idul Adha
Foto Dok : Ece Suhendar M Al-Ghipari besama para anggota laskar DPP Gerakan Mujahid Penegak Ajaran Alloh dan Rosul (Gempar) Sukabumi Raya.

“Kita bisa melihat sisi historis dari perayaan Idul Adha ini, maka pikiran kita akan teringat kisah teladan Nabi Ibrahim, yaitu ketika Beliau diperintahkan oleh Allah SWT untuk menempatkan istrinya Hajar bersama Nabi Ismail putranya, yang saat itu masih menyusui,” papar Ustad Ece.

Lanjut Ustad Ece, dimana mereka (Nabi Ibrahim dan Hajar) ditempatkan disuatu lembah yang tandus, gersang, tidak tumbuh sebatang pohon pun. Lembah itu demikian sunyi dan sepi tidak ada penghuni seorangpun. Nabi Ibrahim sendiri tidak tahu, apa maksud sebenarnya dari wahyu Allah yang menyuruh menempatkan istri dan putranya yang masih bayi itu, ditempatkan di suatu tempat paling asing, di sebelah utara kurang lebih 1600 KM dari negaranya sendiri palestina.

“Akan tetapi baik Nabi Ibrahim, maupin istrinya Siti Hajar, menerima perintah itu dengan ikhlas dan penuh tawakkal. Ini yang harus menjadi tauladan kita untuk siap berkorban untuk sesama,” ulas Ustad Ece.

Karena pentingnya peristiwa tersebut. Allah mengabadikannya dalam Al-Qur’an (QS Ibrahim 37).

رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُواْ الصَّلاَةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُم مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

Artinya, Ya Tuhan kami sesunggunnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di suatu lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumahmu (Baitullah) yang dimuliakan. Ya Tuhan kami (sedemikian itu) agar mereka mendirikan shalat. Maka jadikanlah gati sebagia manusia cenderung kepada mereka dan berizkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.

Sebagaimana diceritakan oleh Ibnu Abbas bahwa tatkala Siti Hajar kehabisan air minum hingga tidak biasa menyusui nabi Ismail, beliau mencari air kian kemari sambil lari-lari kecil (Sa’i) antara bukit Sofa dan Marwah sebanyak 7 kali. Tiba-tiba Allah mengutus malaikat jibril membuat mata air Zam Zam. Siti Hajar dan Nabi Ismail memperoleh sumber kehidupan.

“Inilah kisah cerita kebesaran Allah SWT kepada ummatnya apabila berserah diri dan siap berkorban untuk sesama insan, terutama di tengah pandemi Covid-19,” jelas Ustad Ece, yang penah sukses budidaya burung puyuh bertelur di Kota Sukabumi.

Tulisan ini, Ece berharap bisa menjadi inspirasi bagi semua umat/warga masyarakat untuk terus berkorban dan berbagi antar sesama. Sebelum sakit datang, ajal menjemput dan nyawa berpisah dengan dunia dan harta.

“Saatnyalah kita bagikan rejeki kita di Hari Raya Idul Adha ini untuk berkurban kambing dan sapi. Atau paling tidak berbagi rejeki kepada tetangga dan kerabat dekat, dan terus berdoa agar wabah virus Corona/Covid-19 segera berakhir,” tandasnya.**

Artikel sebelumyaHari Raya Idul Adha 1442 H/2021, Pengurbanan Umat Manusia Ditengah PPKM Darurat
Artikel berikutnyaKembali Ke UUD 1945-GBHN, NKRI Permanen Mendirikan Parpol PADI