Kibarkan Merah Putih, Bukan Yang Lain

130
Kibarkan Merah Putih, Bukan Yang Lain
para pejuang
JAKARTA, banten.indeksnews.com- Kibarkan Merah putih Tak sedikit pun kita serupa dengan para pemuda Surabaya pada peristiwa 19 September 1945. Terlalu jauh sikap kita kini dibanding heroik mereka ketika memaknai merah putih.

Nasionalisme mereka langsung membumbung setinggi langit manakala bendera asing itu berkibar pada wilayahnya. Tanpa banyak cakap mereka langsung dan siap seketika berkorban nyawa demi kibar sang saka yang bermakna berani dan suci itu Kibarkan merah putih.

Tiga warna merah, putih dan biru bendera Belanda mereka robek. Mereka buang warna biru, dan merah putih berkibar di langit kibarkan merah putih .

Setelah insiden di Hotel Yamato tersebut, pada tanggal 27 Oktober 1945 meletuslah pertempuran pertama antara Indonesia melawan tentara Allied Forces Netherlands East Indies.

Serangan-serangan kecil itu dikemudian hari ternyata berubah menjadi serangan umum yang memakan banyak korban baik di militer Indonesia dan Inggris maupun sipil di pihak Indonesia.

Ada cukup banyak nyawa yang harus melayang karena peristiwa itu dan maka kita menyebut mereka dengan pahlawan.

Hanya merah putih bendera boleh berkibar di depan rumah kita. Tak ada yang lain. Bahkan bila harus dengan alasan apapun juga.

Itu harga mati. Itu tentang lambang kedaulatan negara yang tidak kenal kompromi.

Bendera asing secara hukum hanya boleh berkibar di kedutaan negara sahabat. Bendera asing diijinkan ikut dikibarkan bersama merah putih hanya ketika ada kunjungan kenegaraan pimpinan dari negara tertentu.

Itu pun dalam wilayah sangat terbatas seperti tempat-tempat yg akan dilewati rombongan kepala negara sahabat tersebut atau tempat kepala negara itu sedang dijamu.

Atas berkibarnya bendera Palestina di depan rumah warga Depok & Klinik di Tangerang, jelas pelanggaran hukum.

Itu jelas bentuk pengingkaran kedaulatan negara pada wilayah milik negara.

Ketika sebuah bendera berkibar, dia sedang bercerita bahwa tempat di mana dia dikibarkan adalah wilayah berdaulatnya. Adakah rumah warga Depok & Klinik di Tangerang adalah wilayah milik Palestina?

Bila peristiwa di Hotel Yamato Surabaya pada 19 September 1945 kita jadikan rujukan, siapa pun kita, apa pun status kita sebagai warga negara Indonesia, punya kewajiban untuk menurunkan bendera tersebut.

Baik dengan cara persuasif maupun paksaan ketika mereka tak juga menurunkannya ketika kita minta.

Sebagai warga negara kita wajib merebut ruang kedaulatan negara yang secara tidak langsung telah dirampas. Dan itu dibuktikan dengan berkibarnya bendera negara asing tersebut.

Hanya pengkhianat bangsa saja yg bangga mengibarkan bendera negara asing pada ruang hukum milik negara ini. Mereka adalah pecundang tak tahu berterimakasih pada pertiwi yg telah memberinya martabat.

Sumber Twiiter @Leonita_Lestari Nita

Artikel sebelumyaDukung Penanganan Pandemi Covid-19, AS Bantu Obat-obatan dan Alkes untuk Indonesia
Artikel berikutnyaNio Siap Mmengaspal Saingi Tesla