Rachmat Gobel: Bangun Ekosistem untuk Petani Milenial

161
Rachmat Gobel: Bangun Ekosistem untuk Petani Milenial
Rachmat Gobel Wakil Ketua DPR RI
JAKARTA,banten.indeksnews.com- Rachmat Gobel Wakil Ketua DPR RI mengingatkan agar para pemangku kebijakan untuk membangun ekosistem pertanian agar para milenial tertarik untuk menjadi petani milenial.

“Harus ada solusi terintegrasi. Tak bisa sepotong-sepotong. Jadi harus membangun ekosistem pertanian dari hulu hingga hilir, dari soal modal dan inovasi teknologi hingga soal diversifikasi produk hilir pertanian,” kata Racmat Gobel, Rabu (1/9/2021).

Hal itu ia sampaikan dalam webinar bertema “Jadi Petani Milenial, Kenapa Tidak?”. Webinar tersebut menghadirkan Wakil Menteri Pertanian Harvick Hasnul Qolbi, Wadirut Bank BNI Adi Sulistyowati, dan Guru Besar IPB Prof Dr Ir Hermanto Siregar, MEc. Webinar ini dilatari oleh terus berkurangnya jumlah petani berusia muda dan menuanya usia petani. Karena itu, Rachmad Gobel mengajak kaum milenial untuk terjun menjadi petani.

“Tapi ajak mereka dengan perspektif masa depan sambil menjadikan dunia pertanian menarik untuk ditekuni sebagai profesi yang atraktif,” ujar Gobel.

Gobel mengatakan, pertanian merupakan fondasi ekonomi nasional sehingga pertanian merupakan masalah strategis yang harus dijaga.

Selain menyerap banyak tenaga kerja, tutur Gobel, pertanian dan para petani merupakan penjaga harkat dan martabat bangsa.

“Bahkan di tengah pandemi ini, petani tetap memberi makan kita sebagai bangsa sehingga tidak mengemis ke bangsa lain,” katanya,” sambung Gobel.

Akibat perubahan iklim dan terus bertambahnya penduduk dunia, ujar Gobel, masa depan dunia bisa terancam oleh krisis pangan.

“Jadi, Indonesia yang memiliki lahan yang luas dan subur harus menjadi lumbung pangan dunia. Pemikiran strategis seperti itu, katanya, penting untuk dipahami milenial,” imbuh Gobel.

Namun demikian, Gobel mengatakan, berdasarkan kunjungannya ke berbagai daerah di Indonesia, ia mendapati petani muda sangat bersemangat bertani.

Hanya saja, dirinya mengingatkan, petani dihimpit masalah yang rutin mereka hadapi.

“Saat tanam sulit dapat pupuk dan bibit, saat panen harga jatuh. Hal-hal ini membuat petani harus menghadapi hal-hal di luar masalah bercocok tanam. Semua itu di luar kendali petani. Untuk itu saya mengusulkan penguatan kelembagaan petani seperti koperasi,” tukas Gobel.

Selain itu, tukas Gobel, petani juga menghadapi kesulitan permodalan dan keterbatasan sentuhan teknologi pertanian seperti traktor dan mesin pengering gabah.

Gobel mengatakan, petani Indonesia umumnya masih butuh bantuan permodalan untuk bisa bertani secara modern.

“Produktivitas komoditas juga masih rendah. Ini yang membuat pertanian tidak atraktif secara ekonomi,” jelas Gobel.

Karena itu, Gobel menyarankan agar selalu ada inovasi untuk meningkatkan kualitas bibit, pupuk, dan peralatan pertanian.

“Memang harga pupuknya lebih mahal, tapi hasilnya meningkat dua kali lipat dan keuntungan petani juga naik berlipat. Apalagi jika gabah hasil panen langsung masuk mesin pengering maka kualitas beras menjadi premium dan potensi kehilangan menjadi zero,” kata Gobel.

Hal yang tak kalah penting, kata Gobel, adalah diversifikasi produk hilir pertanian.

“Jangan hanya menyentuh sisi hulu, tapi juga harus inovasi di hilir. Agar ada nilai tambah, sebagai contoh, diversifikasi produk yang berbahan baku dari beras,” pungkas Gobel.

Artikel sebelumyaPolda Banten Gelar Apel Pergeseran Personil, Dirpamobvit Jamin Pengamanan Objek Vital
Artikel berikutnyaBrand Expert: Faktor Utama adalah ekonomi, Mata uang sekarang adalah cari sandaran. Siapa yang buta bersandar kepada yang buntung