Alim Ulama Pewaris Nabi

Alim Ulama Pewaris Nabi
Alim ulama adalah pewaris Nabi, yang harus dihormati dan dijaga keberadaannya sebagai sumber ilmu.

Setiap pewaris para nabi pasti ulama, namun tidak semua (mengaku atau diakui sebagai) “ulama” adalah pewaris nabi. Ini perlu diluruskan agar umat Islam tidak serta merta ikut kepada yang mengaku dirinya ulama atau diakui sebagai ulama (oleh segelintir orang).

Di zaman sekarang ini mencari ulama sebagai pewaris para nabi tidaklah sulit. Nampaknya sebagian orang cenderung ingin diakui sebagai ustadz atau ulama agar mereka diundang ceramah. Namun setelah di dengar, diamati isi ceramahnya sedikitpun tidak mencerminkan dirinya sebagai ulama pewaris para nabi, ceramahnya penuh dengan kedengkian, permusuhan antar mazhab maupun antar agama.

Seperti sabda Rasulullah SAW:

 عَنْ أَبي الدَّرْداءِ رضي اللَّه عنه، قَال: سمِعْتُ رَسُول اللَّهِ ﷺ، يقولُ: قَال: سمِعْتُ رَسُول اللَّهِ ﷺ، يقولُ: منْ سَلَكَ طَريقًا يَبْتَغِي فِيهِ علْمًا سهَّل اللَّه لَه طَريقًا إِلَى الجنةِ، وَإنَّ الملائِكَةَ لَتَضَعُ أجْنِحَتَهَا لِطالب الْعِلْمِ رِضًا بِما يَصْنَعُ، وَإنَّ الْعالِم لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ منْ في السَّمَواتِ ومنْ فِي الأرْضِ حتَّى الحِيتانُ في الماءِ، وفَضْلُ الْعَالِم عَلَى الْعابِدِ كَفَضْلِ الْقَمر عَلى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ،
إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَاراً وَلاَ دِرْهَماً إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنَ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

Dari Abu Darda’ radhiyallahu anhu berkata, aku mendengar rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda : “Barang siapa menempuh jalan untuk mendapatkan padanya ilmu(agama) maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga, sungguh para malaikat membentangkan sayap-sayapnya bagi penuntut ilmu, senang dengan apa yang diperbuatnya dan sungguh orang yang ‘alim(berilmu) akan dimintakan ampun siapa yang ada dilangit-langit dan dibumi bahkan semua ikan yang ada diair dan kemuliaan orang yang ‘alim dibandingkan dengan orang yang ahli dalam beribadah seperti bulan dan bintang-bintang di langit, sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham.

Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu. Barang siapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (al-Imam at-Tirmidzi di dalam Sunan beliau no. 2681, Ahmad di dalam Musnad-nya (5/169), ad-Darimi di dalam Sunan-nya (1/98), Abu Dawud no. 3641, Ibnu Majah di dalam Muqaddimah-nya, serta dinyatakan sahih oleh al-Hakim dan Ibnu Hibban. Asy-Syaikh al-Albani rahimahullah mengatakan, “Haditsnya shahih.” Lihat kitab Shahih Sunan Abu Dawud no. 3096, Shahih Sunan at-Tirmidzi no. 2159, Shahih Sunan Ibnu Majah no. 182, dan Shahih at-Targhib, 1/33/68)

Pelajaran yang terdapat didalam hadist:

1- Warisan merupakan barang berharga yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal dunia kepada orang-orang yang masih hidup. Saking berharganya sampai sering terjadi pertumpahan darah di antara ahli waris memperebutkan warisan tersebut. Namun ada warisan yang demikian berharga tetapi jarang manusia memperebutkannya.

Warisan tersebut adalah ilmu agama, yang merupakan peninggalan para nabi kepada umatnya. Hanya sedikit orang yang mau mengambil warisan tersebut, lebih-lebih lagi di masa kini. Merekalah para ulama, orang-orang yang memiliki sifat “tamak” dalam mendapatkan warisan nabi. Tidakkah kita ingin meniru mereka?

2- Di samping sebagai perantara antara diri-Nya dengan hamba-hamba-Nya, dengan rahmat dan pertolongan-Nya, Allah subhanahu wa ta’ala juga menjadikan para ulama sebagai pewaris perbendaharaan ilmu agama sehingga ilmu syariat terus terpelihara kemurniannya sebagaimana awalnya.

3- Sungguh para pengikut nabi dan rasul menyeru pula sebagaimana seruan mereka. Mereka itulah para ulama dan orang-orang yang beramal saleh pada setiap zaman dan tempat, sebab mereka adalah pewaris ilmu para nabi dan orang-orang yang berpegang dengan sunnah-sunnah mereka.

4- Keberadaan ulama di tengah kaum muslimin akan mendatangkan rahmat dan berkah dari Allah subhanahu wa ta’ala. Lebih-lebih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengistilahkan mereka dalam sebuah sabdanya:

مَفَاتِيحُ لِلْخَيرِ مَغَالِيقُ لِلشَّرِّ

“Sebagai kunci-kunci untuk membuka segala kebaikan dan sebagai penutup segala bentuk kejahatan.”

5- Asy-Syaikh Shalih Fauzan mengatakan, “Kita wajib memuliakan ulama muslimin karena mereka adalah pewaris para nabi, maka meremehkan mereka termasuk meremehkan kedudukan dan warisan yang mereka ambil dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam serta meremehkan ilmu yang mereka bawa. Barang siapa terjatuh dalam perbuatan ini tentu mereka akan lebih meremehkan kaum muslimin.

6- Ulama adalah orang yang wajib kita hormati karena kedudukan mereka di tengah-tengah umat dan tugas yang mereka emban untuk kemaslahatan Islam dan muslimin. Kalau mereka tidak memercayai ulama, lalu kepada siapa mereka percaya? Kalau kepercayaan telah menghilang dari ulama, lalu kepada siapa kaum muslimin mengembalikan semua problem hidup mereka dan untuk menjelaskan hukum-hukum syariat? Pada saat itulah akan terjadi kebimbangan dan terjadinya huru-hara.” (al-Ajwibah al-Mufidah, hlm. 140)

Tema hadist yang berkaitan dengan  Al qur’an :

1- Sesungguhnya yang benar-benar takut kepada Allah dari kalangan hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama yang mengetahui tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala Karena sesungguhnya semakin sempurna pengetahuan seseorang tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Mahabesar, Mahakuasa, Maha Mengetahui lagi menyandang semua sifat sempurna dan memiliki nama-nama yang terbaik, maka makin bertambah sempurnalah ketakutannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. (Fathir: 28)

2- Para ulama itu adalah orang-orang pilihan. Al-Imam asy-Syaukani rahimahullah mengatakan bahwa maknanya adalah, “Kami telah mewariskan kepada orang-orang yang telah Kami pilih dari hamba-hamba Kami yaitu al-Kitab (al-Qur’an). Kami telah tentukan dengan cara mewariskan kitab ini kepada para ulama dari umat engkau wahai Muhammad yang telah Kami turunkan kepadamu.

ثُمَّ أَوۡرَثۡنَا ٱلۡكِتَٰبَ ٱلَّذِينَ ٱصۡطَفَيۡنَا مِنۡ عِبَادِنَاۖ

“Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba kami.” (Fathir: 32)

Ulama pewaris para nabi tidak ditentukan oleh hubungan nasab atau kedekatan, tetapi para pertalian maqam spiritual dengan para nabi. Jika seseorang menginginkan dirinya menjadi pewaris nabi, maka harus terhubung dengan Rasulullah saw. Jalan satu-satunya melalui proses pembersihan diri atau menyucikan hati.

Semakin suci jiwa, hati kita semakin dekat pula kita dengan Rasulullah saw. Oleh karena itu, setiap pewaris para nabi adalah seorang ulama dan tidak semua ulama adalah pewaris para nabi. Begitulah makna lain atau hakikat makna,***

Berbagai Sumber

Artikel SebelumnyaKronologis Petugas PLN di Tangerang Tewas Tersengat Listrik
Artikel BerikutnyaTengku Zulkarnain Legowo Tidak Lagi Manjadi Pengurus MUI