Anniversary 1 Tahun Covid-19, Pemilik Konvensi Karudung Asal Kab. Bandung Menjerit

Covid-19
Foto/Andi/Bdg.
BANDUNG,jawabarat.indeksnews.com_ Anniversary satu tahun sudah wabah virus asal Wuhan Cina Corona (Covid-19) menerpa secara Internasional. Akibatnya, sektor ekonomi yang paling dirasakan terdampak secara krusial.

Seperti halnya dirasakan Sopian (30) pelaku usaha konveksi kerudung di Kampung Babakan Peuteuy, Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, diselimuti kegalauan akibar kondisi kesulitan ditengah pandemi.

Sopian mangku merintis usaha industri konveksi dengan modal pas-pasan, berjalan waktu konveksinya berkembang. Namun, setelah virus Corona menjadi perhatian pemerintah, usahanya mulai dirasakan melesu bahkan terancam gulung tikar.

“Kerudung hasil buatan konveksi disini dipasarkn sampai ke tanah Abang Jakarta, Tegal Gubuk Cirebon dan daerah Bandung. Hanya dengan kondisi pandemi Covid-19 sekarang lesu permintaan, malah harus kehilangan asset karena menyisakan pembayaran hutang,” kata Sopian.

Biasanya, Sopian mengaku bisa memproduksi satu minggu 50 kodi,  atau dalam satu bulan 200 kodi yang menghabiskan biaya produksi mulai dari pembelian kain,  benang dan bayar pekerja sampai dengan 30 juta.

“Dari 200 kodi yang di produksi,  bisa menghasilkam hingga 90 juta rupiah.  Itu sebelum masa pandemi Covid 19,” bebernya.

Pada masa pandemi ini, sopian hanya mampu memproduksi satu seri ajah. Dengan biaya produksi lebih kecil dari biasanya.  Itupun,  terkadanh modal produksi tidak kembali menjadi biaya produksi. Bahkan,  kini hanya menyisakan hutang senilai 30 juta kepada toko kain,  sisa biaya produksi sebelum masa pandemi.

“Saat ini saya hanya mampu memproduksi kerudung satu seri ajah,  itupun dalam satu bulan,” ungkap dia.

Dengan raut wajah penuh harapan, Sopian mengutarakan harapannya pandemi bisa segera berlalu dan usaha konveksi kembali lancar dari sisi produksi dan pesanan.

“Kondisi sekarang tidak mampu membayar hutang pembelian kain, yang dibeli untuk bahan kerudung. Bahkan, toko kain yang menjadi tempat langganan dirinya membeli bahan baku kerudung sudah menagih terus menerus. Saya belum tahu harus berbuat apa lagi,  akan tetapi usaha harus berjalan terus walau hanya produksi untuk biaya sehari-hari saja, ” ungkapnya.

Dirinya kembali berharap, kepada para pihak terkait, yang dapat membantu kepedulian terhadap kondisi usahanya,  agar dapat berjalan lagi,  sehingga beban hutang sebesar Rp  30 juta dapat ia cicil dan usahanya tidak diselimuti keterpurukan.

“Saya berharap ada yang peduli terhadap kondisi saya ini,  mudah-mudahan pasar kerudung kedepan kembali ramai,” harap dia.

Kini, dirinya terbebani hutang usaha kepada toko kain,  sebesar Rp.  30 juta,  sementara asset yang dapat di jual sudah tidak ada.

“Saya mojin bantuan kepada pihak-pihak yang peduli agar beban kami selaku pelaku umkm bidanh pengrajin kerudung ini dapat kembali pulih,” tandas dia.(ANDI/Bdg)

Artikulli paraprakTepis Kabar Bantuan Rutilahu di Desa Neglasari Terkesan Bancakan, Kades dan TFL Angkat Bicara
Artikulli tjetërDirgahayu Partai Gerindra ke-13, Heri Gunawan Ajak Rakyat Perkuat Diri Membangun Negeri