Gunung Nyiragongo Kongo Meletus Lelehkan Kota, Ribuan Orang Mengungsi 15 Orang Meninggal

Gunung Nyiragongo Kongo Meletus Lelehkan Kota, Ribuan Orang Mengungsi 15 Orang Meninggal
Gunung Nyiragongo meletusRumah-rumah di kota Goma Kongo Terbakar routers foto
KONGO, banten.indeksnews.com – Gunung Nyiragongo meletusRumah-rumah di kota Goma, Republik Demokratik Kongo, hancur akibat letusan nya pada Sabtu (22/5). Warga pun masih mencari kerabatnya yang hilang.

Dilansir dari BBC, muntahan lahar Gunung Nyiragongo membanjiri kota Goma, kota berpenduduk 2 juta jiwa yang berada di selatan gunung  berapi tersebut. Setidaknya 15 kematian telah dikonfirmasi. Namun, jumlah ini kemungkinan akan bertambah setelah otoritas mendata daerah yang terdampak paling parah.

Sembilan orang di antaranya tewas dalam kecelakaan lalu-lintas saat warga melarikan diri. Sementara itu, 4 lainnya tewas ketika mencoba melarikan diri dari penjara. Dua korban lainnya pun terbakar hingga tewas, dalam meletusnya Gunung Nyiragongo menurut keterangan juru bicara pemerintah Patrick Muyaya pada Minggu (23/5).

Lebih dari 170 anak dikhawatirkan hilang dan 150 lainnya terpisah dari keluarga mereka, menurut UNICEF. Untuk itu, akan didirikan pusat khusus guna membantu anak di bawah umur tanpa wali.

Lahar membanjiri distrik Buhene dan mengubur ratusan rumah, bahkan bangunan besar. Upaya rekonstruksi diperkirakan akan memakan waktu berbulan-bulan.

“Semua rumah di kawasan Buhene terbakar,” ungkap Innocent Bahala Shamavu.

Lahar juga melintasi sebuah jalan raya yang menghubungkan Goma ke kota Beni, sehingga jalur bantuan dan pasokan utama terputus. Untungnya, bandara tidak terdampak. Getaran seismik pun masih dirasakan warga.

“Masyarakat diminta agar tetap waspada, menghindari perjalanan yang tidak penting, dan mengikuti arahan,” twit Muyaya.

Gunung Berapi yang terletak 10 km dari Goma terakhir meletus pada tahun 2002. Bencana tersebut menewaskan 250 orang dan menyebabkan 120 ribu warga kehilangan tempat tinggal.

Warga sudah meninggalkan rumah bahkan sebelum pemerintah mengumumkan rencana evakuasi. Pada malam hari, terlihat warga berbondong-bondong mengungsi dengan berjalan kaki, sambil membawa kasur dan barang-barang lainnya. Banyak yang menyelamatkan diri ke negara tetangga, Rwanda.

Menurut otoritas Rwanda, lebih dari 3 ribu orang secara resmi telah menyeberang dari Goma. Sebagian mulai kembali pada Minggu (23/5). Sementara itu, yang lainnya pergi ke tempat yang lebih tinggi di sebelah barat kota.

“Lahar mengalir sangat lambat, seperti 1 km/jam, tapi tidak berhenti. Rumah-rumah pun mulai terbakar,” terang Tom Peyre-Costa dari Dewan Pengungsi Norwegia di Goma.

Ia menambahkan kalau organisasi kemanusiaan telah berusaha memenuhi kebutuhan masyarakat.

Kesaksian serupa juga diceritakan oleh seorang warga Goma bernama Richard Bahati. Ia mengaku sedang berada di rumahnya ketika warga berteriak dan langit di luar memerah.

“Saya pernah mengalami bencana gunung berapi ini pada 2002. Gunung itu menghancurkan seluruh rumah dan harta benda kami,” kenangnya.

Seorang pedagang lokal bernama Kambere Ombeni termasuk di antara warga yang kembali ke lokasi saat reruntuhan masih membara.

“Kami menyaksikan seluruh lingkungan di wilayah Nyiragongo musnah menjadi asap. Api langsung meluncur ke sini. Bahkan, hingga saat ini, kami masih bisa melihat laharnya,” ujarnya.

Nyiragongo merupakan salah satu gunung berapi yang lebih aktif di dunia. Namun, diduga aktivitasnya tidak diamati dengan baik oleh Observatorium Gunung Berapi Goma sejak Bank Dunia memotong dana di tengah tuduhan korupsi.

Menurut Profesor Mike Burton, seorang ahli vulkanologi di Universitas Manchester di Inggris, lahar di Gunung itu sangat cair dan berpotensi untuk mengalir cepat. Dalam laporan pada 10 Mei, pihak observatorium telah memperingatkan kalau aktivitas seismik di Nyiragongo mengalami peningkatan.

Tahun lalu, Direktur Observatorium Katcho Karume mengatakan kepada Science in Action BBC bahwa danau lahar di gunung itu telah terisi dengan cepat. Artinya, ada kemungkinan kuat terjadi letusan dalam beberapa tahun mendatang. Meski begitu, ia juga memperingatkan kalau gempa bumi bisa memicu bencana lebih awal.

Artikulli paraprakManajemen PT Gaya Remaja Heran, Kasus Penggelapan Hanya Dapat Tuntutan Hukum 11 Bulan?
Artikulli tjetërBudiman Sudjatmiko: Tegaskan Bukit Algoritma Bukan Gimik, Digagas Sejak 2018