Kakak Beradik Lakukan Penipuan, 92 Online Shop jadi Korban, Kerugian Hampir Rp 1 Miliar

Kakak Beradik Lakukan Penipuan, 92 Online Shop jadi Korban, Kerugian Hampir Rp 1 Miliar
Kejahatan Online Gambar Ilustrasi
JAKARTA, banten.indeksnews.com – Kakak beradik melakukan penipuan berkedok penjualan online shop berinisial VI (33) dan VA (30), diamankan oleh Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Jawa Barat.

Dua orang pelaku yang kakak beradik ini menyasar penjual online shop di beberapa daerah seperti Medan, Bandung, hingga Semarang.

Dari catatan polisi, dua wanita kakak beradik itu telah menipu sekitar 92 pelaku usaha toko penjualan online dan offline.
Tak tanggung-tanggung, akibat aksi keduanya, kerugian yang diderita oleh seluruh korban mencapai hampir Rp 1 milar.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Jabar Kombes Erdi A Chaniago menjelaskan, dua pelaku rupanya telah melakukan penipuan sejak delapan tahun lalu.

Seperti dikutip Kompas.com, Kakak beradik itu kebanyakan menyasar pelaku usaha penjualan online.

“Mereka lakukan kegiatan ini lebih kurang sejak tahun 2012. Mereka melakukan secara bergantian,” kata Erdi.

Penipuan yang terakhir dilakukan, pelaku VA bermodus membeli produk baju bermerek Giordani sebanyak 32 potong seharga Rp 5,4 juta.

VA kemudian mengirim bukti transfer palsu.
Keesokan harinya, satu pelaku lainnya memesan produk baju bermerek serupa sebanyak 79 potong seharga Rp 14,8 juta.

Sama dengan saudaranya, dia juga mengirimkan bukti transfer fiktif.

Namun setelah dicek ke unit keuangan pusat dan admin perusahaan, uang dari tiga transaksi sejumlah Rp 24,7 juta tidak pernah masuk ke rekening perusahaan PT Giordano Indonesia.

Saat dihubungi, nomor pihak penjual online justru diblokir.

Tak hanya melakukan penipuan dengan bukti transfer fiktif, rupanya mereka berdua juga bekerja sama melakukan penipuan dengan memesan barang secara cash on delivery (COD).

Salah satunya akan mengaku sebagai kerabat pemesan kemudian membawa pergi barang dan tak kembali.

Erdi mengatakan, akibat aksinya, pelaku membuat para penjual rugi hingga hampir mencapai Rp 1 miliar.

“Dari kegiatan mereka, kerugian hampir mencapai Rp 1 miliar, atau kurang lebih Rp 700 juta lebih,” ucap Erdi.

Mereka dijerat dengan Pasal 51 jo Pasal 35 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang ITE dengan ancaman hukuman maksimal 12 tahun penjara.

Artikulli paraprakSatgas Tinombala Tembak Mati 2 DPO MIT yang Kedapatan Berkeliaran di Kota Palu
Artikulli tjetërPGN Capai 90 Persen Pembangunan Jaringan Di 23 Kabupaten/Kota